Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Ketemu anak geng motor


__ADS_3

"Oh ya Kak, Mitha masih sama kamu?" Rendi menelan ludahnya dengan susah payah saat mendengar pertanyaan Bundanya.


"Mmm... Mitha udah nggak sama Rendi lagi Bun, tadi habis nganterin dia, aku pergi nongkrong sama teman-teman aku." Bohong Rendi, karena saat ini dia sedang jalan dengan Sasya.


"Oh, gitu."


"Emang kenapa Bun?"


"Ini dompet istri kamu ketinggalan, kayaknya jatuh tadi, soalnya Bunda nemuinnya dibawah meja, tempat dia ngajarin Nia tadi." Jelas Bunda.


"Ohh... Yaudah biar nanti Rendi yang balikin, udah dulu yah Bun. Temen aku udah nungguin soalnya."


"Iya, jangan malem-malem pulangnya. Inget, kamu itu bukan lagi cowok bujangan. Tapi seorang pria beristri, jadi jaga pergaulan kamu. Jangan melakukan sesuatu yang dapat menyakiti hati istri kamu nantinya." Saran Bunda.


"Iya Bunda, udah yah Bunda. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


"Hhuuffftt..." Rendi menghembuskan nafasnya kasar, karena sudah membohongi Bundanya. "Maafin Rendi karena udah bohongin Bunda." Batin Rendi, dengan kepala menunduk. Dan saat dia mengangkat kepalanya, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah masam sang pacar. Sehingga membuat Rendi meringis melihatnya, karena sepertinya sang pacar sedang dalam mode ngambek.

__ADS_1


"Jadi, kita mau kemana lagi sekarang?" Tanya Rendi santai, mencoba mencairkan suasana. Saat ini mereka sedang berada di salah satu tempat makan.


"Tau ah, teman kamu ini udah nggak mood jalan." Ucap Sasya sambil memalingkan wajahnya.


"Tuh kan, beneran ngambek." Batin Rendi. "Maaf yah sayang, tadi aku sebut kamu sebagai teman aku. Kan nggak mungkin kalo aku bilang sama Bundaku kalau aku lagi jalan sama pacarku yang cantik ini." Rayu Rendi sambil mencubit pipi kiri Sasya, sehingga membuat Sasya tersipu malu, karena dipanggil cantik dan diperlakukan dengan lembut oleh Rendi.


"Udah yah ngambeknya, kalau aku bilang sama Bunda lagi jalan sama pacar. Bisa-bisa aku diomelin semaleman sama Bunda, mang kamu mau kalau pacar kamu ini diomelin, hem?" Tanya Rendi, sambil menangkup pipi kanan Sasya untuk menghadap kearahnya. "Udah yah ngambeknya, nanti aku beliin apapun yang kamu mau." Rayu Rendi lagi, Sasya yang mendengarnya langsung mendongakkan kepalanya dengan tersenyum lebar.


"Serius?" Tanyanya dengan mata berbinar.


"Iya sayang, aku serius." Ucap Rendi dengan senyum manisnya.


"Iya, sama-sama." Balas Rendi dengan tersenyum miring dibelakang punggung Sasya. "Dasar cewek matre." Batin Rendi.


***


"Hhuuffftt... Capek." Mitha duduk di pinggir jalan, sambil melap peluh yang membasahi dahinya. Mitha melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Astaga, aku sudah berjalan kaki selama setengah jam, tapi masih belum ada taksi yang lewat. Padahal aku bisa bayar nanti kalo udah sampe rumah, tapi kenapa nggak ada yang lewat sih?" Dumel Mitha yang mulai kelelahan. "Masa iya aku harus jalan kaki sampe depan gang, itukan masih jauh. Mana haus lagi, tapi nggak punya uang buat beli air." Gumam Mitha saat melihat sebuah warung. "Hah, benar juga. Kenapa aku nggak kepikiran sih? Astaga, mungkin karena akhir-akhir ini aku lagi banyak pikiran, makanya otakku jadi lola. Mending sekarang aku samperin pemilik warungnya, buat minjem chargeran. Semoga aja pemilik warungnya baik hati dan tidak galak. Aaamiiinnn... Ya Allah." Mitha pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke warung tersebut. Namun belum sampai di warung tersebut, Mitha langsung menghentikan langkahnya. Mitha menelan salivanya dengan susah payah, saat melihat orang-orang yang ada di warung itu kebanyakan pria yang berpenampilan seperti anak geng motor. Apalagi mereka memakai jaket yang seragam, Mitha segera membalikkan badannya, dan berniat pergi dari sana. Namun sialnya, dia nggak sengaja menginjak sebuah botol plastik dan menimbulkan sebuah suara berisik.


Jantung Mitha rasanya mau berhenti saat itu juga, apalagi saat beberapa anak motor itu keluar dari warung dan meneriakinya.

__ADS_1


"Woy, siapa disitu?"


Mitha menelan ludahnya dengan susah payah, saat beberapa anak motor itu tiba-tiba menghampirinya. Mitha ingin berlari, pergi dari tempat itu. Tapi sayangnya pergerakannya kurang cepat, karena orang yang sudah meneriakinya tadi, sudah memegang lengannya dengan cukup kuat, sehingga membuatnya tidak bisa pergi.


"Ka... Kamu mau apa? Lepasin tangan aku." Sungguh saat ini Mitha merasa sangat ketakutan, apalagi teman-teman dari orang yang memegang lengannya itu sudah mulai berdatangan ke arahnya.


"Siapa Han?" Tanya pria yang baru saja datang.


"Tau nih, tadi gue liat dia disekitar sini, jadi gue samperin. Eh, dia malah mau kabur." Jawab orang yang memegang lengan Mitha.


"Mungkin muka lo nyeremin kali, makanya dia takut pas liat muka lo."


"Asem lo."


Mitha yang sudah merasa tidak nyaman berad ditengah-tengah para anak geng motor itu, mulai memberontak ingin dilepaskan.


...****************...


Assalamualaikum semuanya...😁😅

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁🥰


__ADS_2