Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Apa yang terjadi?


__ADS_3

"Nggak tau." Balas Rendi singkat, Bunda yang mendengarnya pun mengernyitkan dahinya.


"Lho, kok nggak tau. Emang kamu nggak hubungin dia semalam, nanyain kabarnya gimana."


"Nggak Bunda."


"Iiiissshhhh.... Kamu nih gimana sih, seharusnya kamu ngehubungin dia nanyain keadaannya gimana. Mang kamu nggak khawatir sama dia?" Tanya Bundanya, dia masih tidak percaya kalo Rendi dan gadis itu tidak memiliki hubungan apa-apa.


"Hhuuufffttt.... Aku nggak punya nomor dia Bunda, kalaupun aku punya, aku juga nggak bakal ngehubungin dia. Nggak penting tau Bunda, lagipula kenapa aku harus ngekhawatirin dia? Pacar bukan, temen bukan. Kenal aja baru kemarin, namanya aja aku nggak tau."


"Hah? Serius kak, kakak nggak tau namanya siapa? Tapi kata Bunda, kakak sama teman cewek kakak itu kekunci diruang olahraga selama berjam-jam. Masa iya kakak nggak sempet kenalan sama dia." Tanya adiknya.


"Iya, masa kamu nggak tau nama dia siapa. Mang kamu nggak ngajakin dia kenalan?" Kini Bundanya yang bertanya, sedangkan Ayah Rendi daritadi hanya menjadi pendengar setia istri dan anak-anaknya yang sedang berbicara.


"Udah aku ajak kenalan, tapi malah dicuekin."


"Bhuahaha.... Serius kakak dicuekin? Akhirnya ada juga cewek yang nggak mempan sama pesona playboy kakak, hahaha..." Suara tawa Nia menggelegar dimeja makan, dia merasa sangat puas bisa menertawai kakaknya karena ada juga cewek yang nyuekin kakaknya. Selama ini Nia suka merasa kesal pada kakaknya karena suka gonta-ganti pacar, dia bahkan pernah berdoa agar kakaknya bertemu dan jatuh cinta pada gadis yang tidak menyukainya. Agar kakaknya tau, bagaimana perasaan wanita-wanita yang sudah dicampakkannya saat sudah merasa bosan. Kejam memang, tapi Nia merasa kakaknya lebih kejam lagi, karena sudah mempermainkan hati wanita.Dia hanya ingin kakaknya berubah, dan hanya setia pada satu gadis.


"Ketawain aja terus, kalo perlu sampai gigi kamu kering." Kesal Rendi, dan beranjak dari kursinya. "Bun, Yah, Rendi berangkat ke sekolah dulu yah. Lama-lama disini, kuping Rendi bisa sakit ngedenger klakson mobil rusak yang berisik." Rendi pun berpamitan pada orang tuanya untuk ke sekolah.


"Yee... Enak aja, suara merdu kayak gini dibilang suara klakson mobil rusak. Pendengaran Anda sehat?" Balas adiknya.


"Iissshh.... Sudah-sudah, kalian ini daritadi senam mulut mulu. Bunda sampai pusing ngedengernya, sekarang kalian berdua berangkat sekolah gih." Tegur Bunda.

__ADS_1


"Iyya Bundaku sayang, yang cantik dan awet muda. Anakmu yang nggak kalah cantik dan manis ini pamit kesekolah yah."


"Lho kok cuman Bunda yang dipuji, Ayah enggak." Ayah pura-pura merajuk.


"Ayah nih kayak cewek aja suka ngambek." Ucap Bunda.


"Iissshh... Bunda, masa Ayah yang tampan dan rupawan kayak gini dibilang kayak cewek. Ayah Nia kan yang paling taaa.... mpan sedunia, baik hati, tidak sombong, dan tidak pelit." Nia dengan gaya lebaynya.


"Kok Ayah ngerasa pujiannya mencurigakan."


"Paling ada udang dibalik rempeyek." Timpal Rendi.


"Apaan sih kak, pake bawa-bawa nama udang dibalik rempeyek segala. Mentang-mentang Nia suka makan rempeyek udang." Setelah berkata seperti itu, Nia bangkit dari duduknya dan memeluk Ayahnya dari belakang. "Ayah... Tambahin uang jajan Nia yah, Nia lagi banyak pengeluaran akhir-akhir ini. Jadi uang jajan Nia udah terkuras, Nia minta uang yah, please..." Pinta Nia pada Ayahnya, dengan tak lupa menunjukkan puppy eyesnya. Berharap agar Ayahnya luluh dan mengabulkan keinginannya.


"Ayah nggak usah dengerin kak Rendi, cukup dengerin Nia aja ok." Ucap Nia sambil memegang kedua pipi Ayahnya agar menghadap ke arahnya.


"Huuhhh... Iyya iyya baiklah, akan Ayah tambah uang jajan kamu. Dengan syarat kamu harus rajin belajar dan tidak malas-malasan, dan juga gunakan uangnya dengan bijak dan hemat, jangan boros-boros." Saran Ayah Rendi.


"Yes!!! Makasih Ayah, Ayah memang yang terrrrbaik. Nia sayang Ayah." Nia pun memeluk Ayahnya saking senangnya.


"Sama Bunda?"


"Sama Bunda juga." Nia pun berbalik dan juga memeluk Bundanya, Rendi yang melihatnya hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


"Dasar anak kecil." Ledek Rendi.


"Ckk, biarin. Syirik."


"Syirik? Nggak yah. Udah ah, Rendi mau berangkat kesekolah dulu. Assalamualaikum." Pamit Rendi.


"Waalaikum salam."


****************


Di Sekolah


Rendi yang baru saja sampai di sekolah segera memarkirkan motornya, setelah merapikan penampilannya dia pun berjalan menuju kelasnya.


Tapi ada yang aneh, Rendi merasa ada yang berbeda. Disepanjang koridor sekolah, semua siswa maupun siswi melihat kearahnya. Sebenarnya Rendi sudah terbiasa menjadi pusat perhatian saat sampai di sekolah, tapi ini lain, mereka tidak melihatnya dengan pandangan kagum ataupun suka. Tapi sebaliknya, mereka melihatnya dengan tatapan meremehkan, merendahkan, dan berbagai ekspresi tidak menyenangkan lainnya. Sehingga membuat Rendi jadi merasa heran, apa yang sebenarnya terjadi.


Disisi lain, gadis itupun juga merasakan perasaan perasaan yang sama dengan Rendi. Diapun tak kalah bingung dan heran, tidak biasanya dia menjadi pusat perhatian seperti saat ini. Apalagi para murid seperti tengah berbisik-bisik dan menggunjingnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Assalamualaikum para readers kiuuu.... Maaf yah, author baru bisa up sekarang, karena terkendala kondisi dan situasi πŸ˜…β˜ΊοΈ


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah...😁πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2