
Sedangkan Mitha dan Bian saling berpandangan, bisa-bisanya mereka lupa kalau diruangan Bu Siska ada komputer yang menampilkan semua rekaman CCTV yang tersebar di sekolah mereka.
***
"Bi... Kamu udah janji loh sama aku, nggak bakal berantem-berantem lagi. Kamu juga janji nggak bakal berantem lagi ma Rendi, lupa?" Ucap Mitha pada Bian yang masih melihat Rendi dengan emosi. "Udah yah Bi, jangan marah lagi. Aku nggak mau yah kalau sampe kamu kebawa emosi, terus ujung-ujungnya berantem lagi. Emang kamu mau dihukum lagi, kayak beberapa hari yang lalu." Ucap Mitha kembali kembali mengingatkan Bian pada hukuman yang mereka dapatkan beberapa hari yang lalu.
Hukuman hari itu mungkin akan menjadi hukuman yang tidak akan mereka lupakan, dimana hari itu mereka semua dijemur dibawah sinar matahari sambil memberi hormat pada tiang bendera, selama 2 jam pelajaran. Dan setelahnya mereka kembali disuruh membersihkan taman dan halaman sekolah, tidak hanya itu, selepas pulang sekolah, mereka diharuskan membersihkan seluruh toilet yang ada disekolah itu. Bisa kebayangkan gimana capeknya, untungnya mereka melakukannya bersama-sama, jadi hukuman mereka cepat selesai.
Walau Rendi dan Bian masih terkadang adu mulut, tapi untungnya mereka tidak sampe bertengkar lagi.
"Yaudah yuk kekelas, bentar lagi bel masuk." Ajak Mitha.
"Ck, kalau bukan karena janji aku sama kamu, udah aku hajar dia tadi."
"Ya ampun... Sejak kapan sih, Abiku ini jadi pemarah gini? Perasaan dulu ada yang bilang sama aku, kalau kita itu nggak boleh gampang emosi."
"Habisnya dia itu didiemin ngelunjak Umi." Kesal Abi.
"Katanya nggak boleh marah-marah, nanti jadi temannya setan."
"Iya, dia setannya." Ucap Bian sambil menunjuk Rendi yang sudah menjauh dari mereka dengan dagunya.
"Kalau dia setan, berarti aku istrinya setan dong." Mitha mencebikkan bibirnya pura-pura ngambek. Sehingga membuatnya terlihat menggemaskan dimata Bian, perlahan-lahan emosi Bian pun menyurut karenanya.
__ADS_1
"Ya ampun anak siapa sih ini, ngegemesin banget. Jadi pen cubit." Ucap Bian mengalihkan pembicaraan, dia juga mengusap kepala Mitha, lebih tepatnya hijab yang sedang dipakainya. Tidak hanya itu, Bian juga mencubit pipi kiri Mitha, sehingga membuat Mitha meringis kesakitan.
"Auwhh... Abi, sakit." Keluh Mitha. "Berantakan juga kan hijab aku." Lanjut Mitha dengan cemberut.
"Hehe... Maafin deh, habisnya kamu ngegemesin sih." Lirih Bian diakhir kalimatnya.
"Hah? Apa?" Tanya Mitha karena kurang jelas mendengar kalimat terakhir Bian.
"Nggak, bukan apa-apa. Yuk ke kelas." Ucap Bian sambil tersenyum.
"Ihh... Abi, apaan sih. Aku penasaran ini." Seru Mitha sambil mengejar Bian yang sudah berjalan lebih dulu.
"Kepo."
"Ish, Abi rese." Ucap Mitha kesal, namun Bian hanya tertawa kecil melihatnya. Sebenarnya Mitha ini termasuk gadis yang cerewet dan manja, jika sudah bersama para sahabatnya dan keluarganya. Berbeda saat bersama dengan Rendi, Mitha selalu memasang wajah datar. Bukan tanpa alasan Mitha melakukannya, dia hanya tidak ingin terlihat lemah dan mudah ditindas oleh Rendi. Walaupun kenyataannya, Rendi sudah sering menindasnya.
***
"Kok kita malah ke kantin sih yang? kan bentar lagi bel." Ucap Sasya dengan manja, dan jangan lupakan tangannya yang selalu bergelayut manja dilengan Rendi.
"Aku mau sarapan dulu bentar, nggak sempat sarapan dulu dirumah soalnya tadi."
"Mang kenapa?"
__ADS_1
"Kan aku harus berangkat pagi-pagi, soalnya mau ke bengkel dulu ambil motor aku yang abis diperbaikin. Terus jemput pacar aku yang cantik ini." Ucap Rendi sambil mencolek dagu Sasya. Membuat Sasya jadi tersipu malu mendengarnya.
"makasih yah sayang, karena kamu udah bela-belain berangkat pagi-pagi buat ke bengkel ambil motor, terus jemput aku."
"Iya sayang sama-sama, apa sih yang enggak buat kamu."
"Ish, sayang kamu bisa aja. Tapi kenapa kamu nggak jemput aku pakai mobil aja sih tadi?"
"Nggak enak pake mobil, nggak bisa dipeluk. Kan kalau pake motor bisa dipeluk sama kamu." Usap Rendi sambil tersenyum, dan tak lupa mengedipkan sebelah matanya kearah Sasya.
"Huu... Dasar modus." Ledek Sasya.
"Tapi suka kan?"
"Hehe... Iya sih."
"Huu... Dasar suka dimodusin." Ledek Rendi balik, sambil mengacak-acak rambut Sasya. Dan mereka pun terus bercanda dan tertawa bersama, tanpa mereka sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang mengawasi mereka.
"Yap, tertawa dan bersenang-senanglah, selagi kalian masih bisa menikmatinya. Karena sebentar lagi penderitaan untuk kalian akan datang." Ucap orang itu dengan tersenyum miring.
...****************...
Assalamualaikum para readers kiuuu...😁😁
__ADS_1
Hayyoo tebakkk... Kira-kira siapa sih sebenarnya orang misterius itu????🤔🤔🤔
Jangan lupa komentarnya yahhh...😁😁🥰🥰