
Kakaknya pun juga masih rutin mengirimkan uang jajan untuknya, walaupun dia tau adiknya itu tidak pernah menggunakan uang yang diberikannya, tapi Kakak Mitha tetap rajin menyisihkan uang jajan untuknya. Katanya, siapa tau suatu saat nanti Mitha membutuhkannya. Walau sudah menolak, tapi Kakaknya ini tetap memaksa, dan akhirnya Mitha pun pasrah dan menerimanya.
Mitha bekerja part time di dua tempat, saat siang sepulang sekolah dia akan bekerja disalah satu stand baju di mall xx. Stand baju tempatnya bekerja bukan stand baju sembarangan, tapi salah satu stand baju terlengkap dan terkenal di mall itu.
Sebenarnya stand baju itu adalah milik Papa Mitha, dan Mitha ditugaskan oleh Papanya untuk mengurus stand baju itu. Lebih tepatnya sih Mitha yang meminta pekerjaan pada Papanya karena merasa bosan di rumah, dan ingin belajar cari uang sendiri.
Siapa sangka Papanya malah memintanya untuk mengurus stand baju itu. Mitha sudah bekerja disana selama 2 tahun, tapi Mitha tidak datang setiap hari. Mitha lebih sering datang ke cafe miliknya, ya cafe miliknya bukan milik Papanya. Karena Mitha merintis usaha cafenya itu dari uangnya sendiri, dari pendapatannya berkerja di stand baju milik Papanya dan sebagian lagi dari uang hasil lomba-lomba yang diikutinya.
Mitha mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya dan membuka galerinya. Dia tersenyum kecil saat melihat foto pernikahannya dengan Rendi. Lalu Mitha membalikkan badannya dan melihat keatas tempat tidurnya, dimana disitu terdapat bingkai foto besar Mitha dan Rendi. Dimana saat itu Rendi sedang mencium kening Mitha.
"Hhuuffftt...." Mitha menghela nafas panjang saat memikirkan nasib pernikahannya yang entah akan berakhir bagaimana. Semenjak kejadian didekat perpus saat itu, baik Mitha ataupun Rendi tidak pernah saling berhubungan lagi. Disekolah pun mereka jarang bertemu, kalaupun tidak sengaja bertemu, maka Rendi akan berpura-pura tidak melihatnya atau langsung menghindarinya.
Keesokan harinya.
Kring... Kring... Kring...
Bian membunyikan lonceng sepedanya saat berada didepan rumah Mitha. Sebenarnya Mitha dan Bian ini tetanggaan, lebih tepatnya rumah Bian berada didepan rumah Mitha. Sama seperti Mitha yang anak orang kaya, Bian pun juga lahir dari keluarga kaya. Namun dia dan Mitha sama-sama sepakat untuk merahasiakannya.
Hanya para sahabat mereka yang mengetahuinya, karena mereka juga sudah sering berkunjung kerumah Mitha dan Bian.
Mitha yang melihat Bian sudah stay didepan rumahnya, segera menghampirinya bersama si hitam, sepeda kesayangan nya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, pagi Abi..." Salam dan sapa Mitha pada Bian dengan senyum lebarnya.
"Waalaikum salam, pagi juga Uminya anak-anak." Balas Bian juga dengan tersenyum manis.
Jika ada yang melihat interaksi mereka ini pasti akan berfikir kalo mereka ini adalah sepasang kekasih, tetapi nyatanya mereka hanyalah sahabat.
"Ayo berangkat!" Ajak Mitha saat sudah berada di samping Bian.
"Ayo." Ucap Bian, mereka pun berangkat ke sekolah bersama. Mitha dan Bian memang selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.
"Gimana hubungan kamu sama Rendi?" Tanya Bian disela-sela perjalanan mereka.
"Oh..."
Bian pun tidak bertanya lagi tentang Rendi, takut merusak suasana hati Mitha.
"Mama, Papa, sama Kakek kapan pulang?" Tanya Bian tentang Kakek dan orang tua Mitha, Bian memang sudah biasa memanggil orang tua Mitha dengan sebutan Mama Papa. Begitu pula Mitha yang memanggil orang tua Bian dengan sebutan Mama Papa juga.
"Belum tau juga, tapi kemarin aku telponan sama Mama. Katanya kalo kesehatan Kakek sudah lebih baik, mereka bakal segera pulang."
"Oh... Kangen yah?" Tanya Bian saat melihat raut sedih diwajah Mitha.
__ADS_1
"He'em, bangeeetttt...."
"Sabar yah, semoga Kakek segera sembuh dan mereka bisa balik lagi kesini."
"Aaamiiiinnnn...."
Di Sekolah
Mitha dan Bian baru saja sampai diparkiran, saat motor sport yang membawa Rendi dan sang pacar memasuki area parkiran.
"Dasar cowok kurang ajar, nggak ada akhlak." Desis Bian saat melihat Rendi membantu sang pacar turun dari motor, dan bahkan membantu membukakan helmnya. Terlihat mereka saling melempar senyum manis satu sama lain, membuat darah Bian semakin mendidih saja melihatnya.
Tangan Bian terkepal kuat melihat tingkah mereka berdua, yang seperti sengaja pamer kemesraan. Atau mereka memang sengaja melakukannya, karena tau Mitha disini, pikir Bian.
...****************...
Assalamualaikum para readers semuanya ππ π₯° Haaa... Akhirnya, bisa up lagi, setelah sekian purnama. Eh ralat, setelah beberapa hari maksudnya π π€
Maaf yah, author nachkal ini baru up sekarang...π₯Ίπ₯Ί Maafin yahhh...πππ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh ππ₯°
__ADS_1