Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
"Berharap dicium yah?"


__ADS_3

"Hahaha... Ngaco kamu No, yah kali aku mau dinikahin lagi. Satu aja udah bikin pusing, apalagi dua, bisa stress aku." Tawa Mitha pecah saat mendengar ucapan Reno, yang menurutnya ada-ada saja.


"Yaudah aku duluan yah Umi, assalamualaikum."


"Iya, hati-hati, waalaikum salam."


Setelah Reno pergi, Mitha pun melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Namun saat beberapa langkah lagi kakinya mencapai perpustakaan, tiba-tiba ada yang menarik tangannya dan mendorong tubuhnya ke tembok.


"Aaauuuwww... Apa-apaan sih ini?" Keluh Mitha, saat punggungnya terasa


sakit saat menubruk tembok tadi.


"Kenapa, nggak suka? Pengen marah, pengen protes. Berani lo ma gue, hah?" Seru orang yang sudah mendorong Mitha ke tembok, yang tak lain dan tak bukan adalah Rendi. Mitha mengangkat pandangannya saat mendengar suara Rendi, karena sebelumnya dia hanya menunduk dan mengelus pergelangan tangannya yang sedikit memerah dan sakit.


Mitha membolakan matanya saat dia mengangkat pandangannya, itu semua karena wajah Rendi yang berada lumayan dekat dengan wajahnya. Tiba-tiba jantung Mitha menjadi berdebar-debar rasanya.


"Ya ampun, ini mata gue yang bermasalah atau kacamata gue yah? Kok ini cowok tiba-tiba keliatan ganteng banget gini yah? Apalagi kalau diliat dari deket gini, dan bibirnya itu, masya Allah... Kenapa jadi keliatan sexy banget gini, apalagi kalau lagi gerak-gerak gitu. Jadi pengen gigit, eh... Astaghfirullah haladzim... Mikir apa sih aku, kok jadi mesum gini..." Batin Mitha sambil geleng-geleng kepala, membuat Rendi yang melihatnya jadi heran sendiri. "Ini juga jantung aku, kenapa jadi berdebar-debar gini sih? Kan kalau kedengeran Rendi, malu." Batin Mitha lagi.


Pletak...


"Aauuwww... Sakit, kok jidat aku disentil sih?" Protes Mitha, saat Rendi tiba-tiba menyentil jidatnya.


"Kik jidit iki disintil sih." Ucap Rendi dengan bibir yang dimenye-menyekan. "Salah sendiri, siapa suruh gue panggil-panggil daritadi lo malah diem aja. Malah asyik liatin muka gue, gue tau kok muka gue ganteng, kenapa? Naksir lo?" Sentak Rendi.


"Astaga, jadi daritadi bibir dia gerak-gerak gitu karena lagi manggil aku. Kok aku nggak denger yah? Mana daritadi aku liatin muka dia mulu lagi, haiiisss.... Malu-maluin banget sih kamu Mithaaa..." Rutuk Mitha dalam hati.

__ADS_1


"N... Nggak kok." Ucap Mitha mencoba untuk terlihat biasa saja, walaupun bicaranya agak tergagap. Karena perasaan gugup yang sedang menderanya saat ini.


"Oh yah? Yakin?" Tanya Rendi dengan alis terangkat sebelah. Mitha pun segera menganggukkan kepalanya.


"Iya, yakin."


"Oh yah? Kok gue nggak percaya."


"Terserah."


"Oke... Lalu kenapa tadi lo ngeliatin muka gue sampe segitunya? Sampe gue manggil-manggil lo berkali-kali, tapi lo nggak ngejawab juga. Jangan-jangan tadi otak kecil lo ini lagi mikirin yang nggak-nggak yah, lagi mikirin yang jorok lo yah?" Tuduh Rendi, dengan jari telunjuk kiri mendorong-dorong pelan jidat Mitha.


"Apaan sih, jangan sok tau." Ucap Mitha sambil menepis tangan Rendi dari jidatnya, Mitha mencoba untuk terlihat biasa saja, dan berbicara dengan datar. Walaupun saat ini jantungnya sedang berdebar-debar dengan heboh.


"Lalu kenapa tadi geleng-geleng gitu?"


"Hehehe... Masih nggak mau ngaku yah, oke..." Ucap Rendi dengan seringai licik dibibirnya. Mitha menelan salivanya dengan susah payah, saat Rendi semakin mendekatkan wajahnya. Saat Rendi mulai memiringkan wajahnya dan mengikis jarak diantara mereka, refleks Mitha memejamkan matanya.


"Ckckck... Lemah banget sih kamu Mitha, seharusnya kamu menghindar, bukannya malah memejamkan mata." Suara dikepala Mitha.


Mitha sadar seharusnya sekarang dia mendorong Rendi agar menjauh darinya, bukannya malah memberi lampu hijau dengan memejamkan mata. Tapi kenapa tangannya terasa sulit untuk digerakkan, bukannya mendorong Rendi, tangannya malah meremas roknya dengan kuat. Tapi tunggu dulu, kayaknya ada yang aneh, kenapa Mitha tidak merasakan apa-apa.


Satu detik...


Dua detik...

__ADS_1


Tiga detik...


Fiyuuuhhh...


Mitha segera membuka matanya, saat merasakan ada angin yang menerpa wajahnya. Dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah menyebalkan Rendi yang sedang tersenyum miring didepannya, terlihat sangat menyebalkan. Tapi kok ganteng, eh... Mitha segera menghilangkan pikiran-pikiran itu dari kepalanya, apalagi saat suara Rendi mulai terdengar di telinganya.


"Kok merem, kenapa? Berharap dicium yah?" Goda Rendi, masih dengan tampan menyebalkannya.


Blussshhh...


Wajah Mitha mendadak terasa panas, dia segera menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang mungkin sekarang sudah memerah. Malu sekali rasanya, saat Rendi bilang kalau dia berharap ingin dicium.


"Nggak kok." Cicit Mitha pelan.


"Oh yah? Masa sih? Terus kenapa merem?"


"Terserah aku mau ngapain, bukan urusan kamu." Jawab Mitha dengan kesal. Bagaimana tidak kesal, disaat dia sedang merasa sangat malu dan berusaha menyembunyikan rasa malunya, Rendi malah terus menggodanya. Membuatnya jadi merasa semakin malu saja.


"Santai aja kali, nggak usah ngegas. Lagipula bibir lo bukan selera gue juga, jadi nggak usah ngarep buat dicium. Nggak minat gue." Ucap Rendi dengan santainya.


...****************...


Assalamualaikum semuanya 😁πŸ₯°


Author balik lagi nih... Saran fan kritik dari kalian, author tunggu yah...☺️😁πŸ₯°

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁πŸ₯°πŸ™πŸ™


__ADS_2