
Tangan Rendi semakin mengepal kuat saat melihat pria itu masih terus saja memeluk Mitha, Rendi sudah akan mengayunkan langkahnya untuk menghampiri Mitha dan pria itu. Namun kakinya tiba-tiba terasa berat untuk diangkat, seperti ada rantai tak kasat mata yang menahan kaki Rendi untuk melangkah ke arah Mitha. Dan Rendi tau itu apa, itu adalah perasaan gengsi yang dimilikinya.
Tiba-tiba perasaan gengsi itu datang, disaat Rendi ingin menghampiri Mitha dan pria itu.
"Bagaimana kalau tuh cewek tiba-tiba berpikir kalo gue cemburu ngeliat dia pelukan sama cowok itu? Atau dia bakal ngira kalo gue udah mulai suka ma dia, bisa besar kepala dia nanti. Ah, sudahlah, gue biarin aja kali yah? Lagipula kenapa gue harus bete gini sih, biarin aja dia mau ngapain dan sama siapa pun itu. Bukannya gue sendiri waktu itu yang bilang ke dia, kalo dia bebas mau ngelakuin apapun yang dia mau. Bahkan kalo dia mau ngejalin hubungan dengan pria lain pun gue nggak masalah, tapi kenapa sekarang gue jadi kesel gini yah? Kayak gak rela gitu, dia dipeluk cowok lain." Batin Rendi dengan pandangan masih terus mengarah kearah Mitha.
"Nggak mau lo samperin? Istri lo lagi dipeluk sama cowok lain tuh, lo nggak jealous ngeliatnya?" Tanya Rangga.
"Nggak." Singkat Rendi.
***
Rendi kembali ingin melangkahkan kakinya, namun bukan untuk menghampiri Mitha, tapi kembali ke kelas. Sedangkan Mitha yang melihat Rendi beranjak dari tempatnya, sempat mengira kalo Rendi akan menghampirinya. Tapi ternyata Mitha salah, karena Rendi tidak datang menghampirinya tapi berjalan menuju ke kelasnya.
"Kok aku kecewa yah? Apa dia nggak marah aku dipeluk sama cowok lain? Haahh... Benar juga, aku inikan hanya istri yang tidak diinginkan. Jadi aku harusnya sadar diri, untuk tidak berharap apapun dari cowok itu. Lagipula bukankah ini bagus, jadi tidak perlu ada drama ditengah lapangan dan semakin jadi pusat perhatian para penghuni sekolah." Batin Mitha.
__ADS_1
"Tha... Maaf aku datang terlambat." Sesal Bian.
Atensi Mitha segera teralihkan saat mendengar ucapan Bian. Mitha tidak segera menjawab ataupun membalas ucapan Bian, tapi malah menarik tangan Bian untuk menjauh dari tempat itu. Karena jujur dia mulai merasa sangat tidak nyaman berada ditempat itu dan jadi pusat perhatian dan bahan gosip para penghuni sekolah. Apalagi mereka dengan terang-terangan saling berbisik dan memandangnya dengan tatapan sinis. Mencoba abai dan tidak peduli, Mitha berjalan melalui mereka dan terus melangkahkan kakinya menuju ketempat tujuannya saat ini.
Rendi yang sudah agak jauh dari lapangan membalikkan badannya, dia tersenyum sinis saat melihat Mitha menarik tangan pria itu menjauh dari lapangan. Rendi lalu membalikkan badannya, dan ingin kembali melanjutkan langkahnya saat dia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Kok muka cowok itu kayak nggak asing yah? Kayak pernah liat, tapi dimana yah?" Batin Rendi.
"Ren... Lo gak cemburu gitu, ngeliat bini lo di peluk-peluk gitu sama cowok lain?" Tanya Beni yang sudah gregetan ingin menanyakannya daritadi, tapi dia urungkan karena ingin melihat reaksi Rendi. Saat melihat Rendi beranjak dari tempatnya, awalnya dia pikir kalau Rendi akan menghampiri pria itu dan memukulnya. Ternyata dia salah, Rendi malah berjalan menuju ke kelas.
"Ren..."
"Jangan ha hem ha hem aja, lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi. Lo nggak jealous ngeliat bini lo dipeluk-peluk sama cowok lain? Tanya Beni lagi.
"Nggak! Ngapain gue jealous, ngga penting." Ucap Rendi dengan songongnya.
__ADS_1
***
Didalam kelas Rendi
"Dimana yah gue pernah ngeliat muka tuh cowok?" Batin Rendi masih mengingat-ingat, dimana pernah dia melihat pria yang memeluk Mitha tadi.
"Perasaan gue aja, atau pria yang meluk Mitha tadi, emang nggak asing mukanya. Kayak pernah liat, tapi dimana yah? Murid sini juga bukan sih?" Tanya Beni yang entah ditujukan untuk siapa.
"Ya iyalah mukanya nggak asing, orang dia ketua OSIS kita yang baru. Setelah Mitha dilengserkan dari jabatannya sebagai ketua OSIS, gara-gara insiden yang menimpanya bersama Rendi. Dulu dia wakilnya Mitha, dan sekarang udah jadi ketua OSIS." Jelas Anto teman sekelas mereka, dan termasuk anak OSIS juga.
"Pantesan aja kayak pernah ngeliat, anak OSIS toh. Ucap Beni.
Walaupun Rendi dan teman-temannya bukan termasuk dalam daftar anak teladan dan berprestasi di sekolahnya, kecuali dalam bidang basket. Tapi mereka bukan anak-anak yang suka membuat masalah dan keributan. Walaupun kadang mereka bersikap nakal, tapi mereka masih tau batas dan tidak sampai sebar-bar itu. Mereka juga selalu datang tepat waktu, dan juga tidak suka bolos (Kadang-kadang, hehe...). Itu sebabnya mereka jarang bertemu dan berurusan dengan anak-anak OSIS, karena mereka tidak termasuk pembuat onar di sekolah. Atau mereka nya yang terlalu lihay menyembunyikan kenakalan mereka, entahlah.
...****************...
__ADS_1
Assalamualaikum para readers kiuuu πβΊοΈ
Author up lagi nih... Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh ππ π₯°π₯° Biar author makin semangat nulis....π Ookkkaayyy.... ππ