
"Kakak..." Mitha segera menghampiri orang itu, yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.
"Dek, apa-apaan sih nih dek? bisa-bisanya kamu mau nikah tanpa bilang-bilang dulu sama kakak, kamu udah nggak nganggap kakak ini sebagai kakak kamu lagi, hah?"
"Maaf kak, Mitha nggak bermaksud seperti itu. Mitha cuman nggak pengen kakak kepikiran dan ngeganggu seminar kakak disana. Mitha tau kalo kakak udah lama nungguin seminar ini, jadi Mitha pikir, lebih baik kakak tau saat sudah pulang nanti."
Kakaknya yang mendengarnya langsung mengusap wajahnya kasar. "Astaga dek, itu semua nggak penting buat kakak. Tentang seminar atau apapun itu, itu semua nggak penting. Yang paling penting buat kakak tuh cuman kamu, kamu itu prioritas utama kakak. Tapi dengan kejadian yang menimpa kamu ini, membuat kakak jadi merasa gagal jadi seorang kakak. Kakak udah nggak becus jagain kamu, ini semua salah kakak. Seharusnya kakak nggak pergi keluar kota dan ninggalin kamu disini, kakak udah gagal jagain kamu dek. Kakak gagal...." Kakak Mitha pun tidak kuasa menahan air matanya, tidak peduli kalo semua orang diruangan itu sedang memperhatikannya.
"Nggak, kakak nggak gagal jagain Mitha. Selama ini kakak selalu menjaga Mitha dengan baik, ini semua salah Mitha sendiri. Jadi kakak nggak boleh nyalahin diri kakak sendiri lagi, yah? Mitha sayang banget sama kakak, Mitha jadi ngerasa sangat berdosa udah bikin kakak kayak gini. Maafin Mitha kak." Mitha pun memeluk kakaknya dengan erat, hampir saja dia ikutan menangis, tapi sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak keluar.
"Maafin kakak juga udah marah-marah sama kamu, kakak juga sangat sayang sama kamu." Kakaknya pun membalas pelukan Mitha.
"Nona..." Panggil seseorang, Mitha pun melepas pelukannya dan melihat kearah orang itu.
"Bi Runa..."
"Nona, maafin bibi yah, karena bibi baru datang sekarang. Maaf juga karena bibi nggak bisa nemenin nona disaat-saat seperti ini." Sesal Bi Runa, sejak kemarin dia memang berada di RS, karena anaknya mengalami kecelakaan motor dan harus dirawat di RS.
"Iya Bi, nggak papa. Mitha ngerti kok, semoga anak Bibi cepat sembuh yah." Ucap Mitha.
"Iya nona, terima kasih."
"Dek, kamu yakin mau lanjutin pernikahan ini? Gimana sama cita-cita dan impian kamu, kalau kamu nikah sekarang dek?" Prihatin kakaknya, namun dibalas dengan senyuman oleh Mitha.
"Memangnya Mitha masih punya pilihan kak?" Kakaknya yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas dengan tertunduk sedih, Mitha pun memegang kedua tangan kakaknya.
__ADS_1
"Kakak tenang aja, insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Mitha nggak papa kok, mungkin ini memang udah takdirnya Mitha. Jadi, kakak jangan sedih lagi yah. Kalo kakak sedih, Mitha juga jadi ikutan sedih. Kakak emangnya mau, ngeliat Mitha sedih?"
"Nggak dek, bagi kakak kebahagiaan kamu yang paling utama. Jadi mana mungkin, kakak ngebiarin kamu bersedih. Walaupun kakak nggak tau apa kamu bahagia dengan pernikahan ini."
"Kamu kakaknya Mitha yah?" Tiba-tiba Bunda datang dan bertanya.
"Iya tante, saya kakaknya Mitha. Maaf saya sudah membuat keributan."
"Iya, nggak papa. Tante ngerti kok, kamu pasti kaget dan shock waktu tau Mitha mau nikah. Tapi kamu tenang aja,insya Allah Mitha akan baik-baik saja, saya dan keluarga akan menjaga Mitha dengan baik."
"Iya tante."
"Tapi, kakak tau darimana kalo Mitha mau nikah?"
"Dari Papa, tadi malam dia nelpon kakak. Kakak juga tau kalo kamu ngelarang Papa buat bilang sama kakak, dasar gadis nakal."
"Dasar kamu, oh yah tante, sebelum pernikahannya dilanjutkan, boleh saya bicara sebentar dengan Papa saya?"
"Oh yah, silahkan." Nia pun segera menyerahkan ponsel Mitha kepada kakaknya Mitha.
10 menit kemudian
"Maaf om, tante, Mitha, dan kamu, bisa kita bicara sebentar?" Ucap kakak Mitha sambil menunjuk Rendi.
"Iya nak, tentu saja bisa." Ucap Ayah Rendi.
__ADS_1
***
"Jadi gitu om, tante, saya harap kalian tidak keberatan dengan beberapa syarat yang saya berikan." Ucap kakak Mitha. Orang tua Rendi pun saling berpandangan, lalu pandangan mereka beralih kepada Mitha dan Rendi.
"Gimana Ren?" Tanya Ayah Rendi.
"Kalo Rendi sih setuju-setuju aja, iya kan Mit?" Rendi pun menyenggol lengan Mitha.
"Iya, Mitha juga setuju."
"Yakin nih nggak papa, yahh... selama kalian bisa nahan diri sih nggak papa." Ucap Bunda.
"Bunda tenang aja, nggak usah ngekhawatirin tentang itu. Lagian juga aku sama Mitha masih terlalu muda untuk bersikap selayaknya suami istri pada umumnya. Yakan Mit?" Lagi-lagi Rendi menyenggol lengannya Mitha.
"Ekhem! Jaga jarak, belum muhrim." Belum sempat Mitha menjawabnya, suara bariton kakaknya sudah lebih dulu terdengar."
"Hehe, iya kak, maaf." Cengir Rendi, sedangkan Ayah dan Bundanya hanya senyum-senyum melihatnya.
"Kalo semuanya sudah setuju, dan tidak ada hal lain lagi, bisa kita lanjutkan pernikahannya?" Tanya Ayah Rendi, dan disetujui oleh semuanya. Mereka pun kembali ketempat akad dan melanjutkan pernikahannya.
Flashback Off
...****************...
Assalamualaikum para readers kiuuu...πβΊοΈ
__ADS_1
Maaf yah kalo ceritanya kurang menarik, author masih dalam proses belajar untuk membuat cerita yang lebih menarik lagi. Jadi doain author yah, biar author bisa bikin cerita yang lebih menarik lagi...ππ₯°
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh....