
Walaupun Rendi berselingkuh dengan wanita lain, tapi sebisa mungkin dia akan selalu menjaga kesetiannya pada Rendi, suami yang tidak pernah menganggap keberadaannya. Meskipun Rendi tidak pernah menganggap keberadaannya, tapi dia akan tetap mengingat statusnya sebagai seorang istri dan menjaga batasannya dengan pria lain.
"Sorry, gue cuman kagum aja sama cara berpikir lo yang bijak itu." Ucap Bastian.
"Ohh..."
"Sorry kalo gue buat lo ngerasa nggak nyaman." Ucap Bastian merasa tidak enak.
"Iya, tapi kayaknya aku harus pergi sekarang. Sekali lagi makasih buat es krimnya, aku pergi dulu, assalamualaikum." Pamit Mitha, dan diapun beranjak dari tempat duduknya. Sebenarnya Bastian ingin menahannya, tapi dia tidak ingin membuat Mitha semakin merasa tidak nyaman bersamanya.
"Eh, tunggu." Tahan Bastian saat Mitha hendak pergi.
"Ada apa?"
"Apa kita masih bisa bertemu lagi?"
"Insya Allah, jika Allah mengijinkan, permisi, assalamualaikum." Pamit Mitha lagi.
"Iya, waalaikum salam." Balas Bastian dengan bibir tersenyum, karena merasa masih ada harapan untuk bertemu lagi. Dan dari jawaban Mitha tadi, Bastian menyimpulkan kalo Mitha tidak keberatan jika suatu saat nanti mereka bertemu kembali. "Ya Allah, hamba mohon ijinkanlah kami bertemu kembali. Semoga hamba bisa melihat senyum manis itu lagi, ya Allah, aaamiiiinnnn..." Batin Bastian dengan pandangan mata yang masih setia mengikuti Mitha.
Dan saat Mitha sudah hilang dari pandangannya, Bastian kembali hendak duduk. Namun belum sempat b*kongnya menyentuh kursi, dia kembali berdiri tegak sambil menepuk jidatnya saat teringat sesuatu.
__ADS_1
"ASTAGA BEGO BEGO BEGO... Kenapa gue bisa sampai lupa sih?" Seru Bastian sambil menepuk-nepuk jidatnya, tanpa memperdulikan orang-orang yang sedang melihat kearahnya, karena mendengar suara Bastian tadi. Dengan gerakan cepat Bastian segera membayar es krimnya dan berlari mencari Mitha, berharap kalo Mitha masih tidak jauh dan dia masih bisa menemukannya.
Namun sayang, walaupun Bastian sudah mencari kesana kemari, tapi dia masih belum menemukan Mitha. Bastian bahkan sudah mencari ke toko baju Mitha dan parkiran mall, tapi Bastian masih belum menemukan Mitha.
"Hah... Hah... Hhh... Dia kemana sih? Cepet banget ngilangnya." Ucap Bastian dengan nafas ngos-ngosan, karena berlarian sejak tadi. Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya dijalan pulang, Mitha sedang berada didalam taksi online yang dipesannya tadi.
"Oh iya, nama cowok tadi siapa yah? Bisa-bisanya kita lupa kenalan, hehe... " Ucap Mitha dengan tertawa kecil, merasa lucu dengan dirinya sendiri dan cowok itu. Mereka bahkan sudah makan es krim bersama, tapi lupa untuk kenalan.
***
Mitha sudah sampai dirumahnya, namun dia tak langsung masuk karena melihat ada mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Dan itu bukan mobil kakaknya ataupun orang rumah, sehingga membuat Mitha penasaran siapa pemiliknya.
"Waalaikum salam." Jawab kompak orang-orang yang ada didalam rumah, lebih tepatnya diruang tamu. Mitha menghentikan langkahnya, merasa tidak asing dengan semua suara itu.
"Suara itu..." Gumam Mitha, kemudian dia pun melangkah dengan cepat keruang tamu. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa saja yang sedang ada diruang tamu.
"Mama... Papa..." Seru Mitha saat melihat kedua orangtuanya.
"Sayang, kamu sudah pulang." Ucap Mama Mitha.
"Mama... Hiks... Hiks..." Mitha pun berlari dan memeluk Mamanya dengan erat, dan diapun menangis dengan tersedu-sedu dalam pelukan Mamanya. Membuat Mamanya merasa bingung, karena tidak biasanya Mitha menangis seperti ini. Karena dia dan Papanya Mitha sudah pernah beberapa kali meninggalkan Mitha lebih lama dari ini, tapi Mitha biasa-biasa saja dan tidak menangis.
__ADS_1
Apalagi dia tau kalo putrinya itu paling anti menangis, apalagi didepan banyak orang. Tapi sekarang putrinya itu menangis dengan tersedu-sedu seperti anak kecil, Mama Mitha bahkan sudah lupa kapan terakhir kali melihat Mitha menangis seperti ini. Mama Mitha lalu teringat dengan pernikahan dadakan dan terpaksa yang dilakukan Mitha beberapa hari yang lalu.
"Astaga... Bagaimana aku bisa lupa tentang hal itu? Kasian putriku, dia pasti melewati banyak kesulitan saat aku tidak ada." Batin Mama Mitha, untuk sesaat dia melupakan tentang pernikahan dadakan Mitha, karena terlalu senang bisa berjumpa kembali dengan anak-anaknya. Mama Mitha pun mengelus-elus punggung Mitha, agar Mitha merasa lebih tenang.
"Sabar sayang, Mama tau kamu kuat. Mama tau kamu bisa melewati semua ini dengan baik, maaf Mama sama Papa baru bisa pulang sekarang. Kamu pasti lewati banyak kesulitan selama Mama sama Papa nggak ada, maafin Mama yang nggak bisa nemenin kamu disaat kamu lagi ada masalah, maaf karena Mama nggak bisa hadir disaat pernikahan kamu. Maafin Mama yang nggak bisa selalu ngejagain kamu dengan baik, maafin Mama karena nggak bisa berbuat apa-apa. Maafin Mama sayang, maafin Mama... Mama udah gagal jagain kamu, Mama udah gagal jadi ibu yang baik kamu." Sesal Mama Mitha sambil sesekali menghapus air matanya yang sudah keluar sejak tadi. Bukannya tenang, Mitha malah semakin menangis. Hatinya terasa sangat sakit saat mendengar permintaan maaf Mamanya.
Mitha pun melepas pelukannya dan menatap Mamanya dengan linangan air mata diwajahnya.
"Nggak Ma... Jangan ngomong kayak gitu hiks... Ini bukan salah Mama, Mama nggak salah hiks... Ini semua salah Mitha hiks... Mitha yang ceroboh hiks... Mitha yang nggak bisa jaga diri hiks... Mitha yang salah Ma, maaafin Mitha hiks... Maafin Mitha Ma... Hiks... Mama nggak pernah gagal jadi ibu yang baik buat Mitha, bagi Mitha Mama adalah ibu yang terbaik. Jadi stop nyalahin diri Mama hiks, apalagi minta maaf kayak tadi karena Mama nggak salah hiks... Mitha yang salah Ma... Mitha... Hiks..." Ucap Mitha pada Mamanya, agar Mamanya tidak merasa bersalah lagi.
Setelah mengatakan itu, Mitha langsung bersujud dikaki Mamanya dengan terus menangis. Dia benar-benar sudah merasa jadi anak yang berdosa, karena sudah membuat Mamanya menyalahkan diri sendiri atas masalah yang menimpa dirinya dengan Rendi. Apalagi saat mendengar Mamanya mengatakan kalau dia sudah gagal menjadi seorang Ibu, hati Mitha benar-benar sakit mendengarnya.
Baginya Mamanya adalah yang terbaik dan dia tidak pernah gagal menjadi seorang Ibu, Mama Mitha segera memegang kedua bahu Mitha agar berdiri kembali.
"Jangan sayang... Jangan seperti ini hiks..." Mama Mitha pun kembali memeluk Mitha dan menangis, Papa Mitha yang melihat dua wanita kesayangannya saling menangis juga ikut menangis. Hatinya terasa sangat sakit saat melihat dua wanita kesayangannya sedang bersedih dan menangis seperti itu.
...****************...
Assalamualaikum semuanya 😁😅
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅🥰🥰
__ADS_1