
Di taman belakang sekolah.
Setelah menarik tangan Bian dari lapangan, Mitha kemudian membawanya taman belakang. Mitha sengaja membawa Bian ke sana, agar lebih nyaman untuk berbicara, karena jarang murid yang datang kesana. Setelah Mitha dan Bian duduk di bangku panjang yang ada ditangan itu, diikuti para konconya alias para sahabatnya yang tidak mau ketinggalan, Mitha pun menceritakan kronologi insiden yang menimpanya bersama Rendi. Dan membuatnya harus terpaksa menikah dengan Rendi.
Setelah menceritakan semuanya pada Bian, Bian tiba-tiba berdiri dan berlutut didepan Mitha. Dengan memegang kedua tangan Mitha, dan memandangnya dengan lembut, Bian pun menanyakan sebuah pertanyaan yang sudah ingin di tanyakannya sejak tadi.
"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu dengan Rendi? Apa dia bersikap baik padamu? Apa dia memperlakukanmu dengan baik? Dia tidak kasar dan menyakitimu kan? Atau mungkin memaksamu untuk melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan, misalnya..."
"Stop! Aku tau Abi mau bilang apa, jadi nggak usah dilanjutin." Potong Mitha cepat, saat tau Bian mau bilang apa. Sehingga membuat Bian langsung meringis tidak enak.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk tidak sopan ataupun bersikap lancang. Aku hanya tidak ingin kalau dia sampai memaksa dan menyakitimu." Ucap Bian.
"Abi tenang aja, aku sama dia nggak tinggal serumah kok."
__ADS_1
"Maksudnya? Bukannya seharusnya sekarang kamu tinggal sama dia setelah nikah? Atau dia nggak mau tinggal sama kamu? Tanya Abi.
"Bukan begitu Abiii... Tapi ini tuh syarat dari Kak Miko."
"Syarat apaan?"
"Jadi... Sebelum nikah, Kak Miko ngajuin beberapa syarat sama Rendi dan keluarganya." Jelas Mitha.
"Syarat apaan?" Tanya Bian lagi.
"Aku udah duduk di kursi, sekarang cerita apa aja syaratnya." Ucap Bian setelah duduk kembali di kursi. Sedangkan para sahabat mereka dari tadi hanya diam saja, membiarkan Mitha dan Bian berbicara berdua dulu.
"Jadi syaratnya adalah aku sama Rendi nggak tinggal serumah dulu, sampai kita lulus sekolah. Dan... Nggak boleh ada 'kontak fisik' dulu sebelum kita lulus sekolah." Ucap Mitha sambil menaikturunkan jari tengah dan telunjuknya saat mengucapkan kata 'kontak fisik. Bian yamg mengerti maksud dari Mitha pun, hanya manggut-manggut saja.
__ADS_1
"Oke, sekarang aku yang tanya sama Abi, tadi kenapa nangis?"
"Ekhem... Menurut kamu aku harus ketawa-ketawa gitu, saat tau apa yang udah terjadi sama kamu. Kamu pikir aku nggak kaget, waktu tau yang terjadi sama kamu. Asal kamu tau aja, aku tuh udah kayak orang gila lari-larian di Bandara. Sampe-sampe aku marah-marahin supir taksinya, karena bawa taksinya terlalu lambat..."
"Abi marah-marahin supir taksinya?" Potong Mitha, karena merasa gemas dengan sikap Bian yang berlebihan. Bian pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Mitha. Dan alhasil membuatnya mendapatkan tabokan kecil, dilengannya.
"Iisshhh...Abi kok tega sih, kan kasian supir taksinya Abi marah-marahin." Protes Mitha.
"Iya tau aku salah, makanya tadi waktu udah sampe, aku langsung minta maaf sama supir taksinya. Bahkan udah aku lebih juga uang taksinya."
"Lain kali jangan gitu yah Bi, kan Abi sendiri yang pernah bilang, kalau kita nggak boleh dikuasain sama amarah." Ucap Mitha pada Bian.
... **********************...
__ADS_1
Assalamualaikum semuanya 😁😅
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁🥰