Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Pingsan


__ADS_3

"Mari non masuk, Ibu sama Bapak sudah menunggu di dalam." Ucap Bi Sri ramah.


"Iya Bi." Ucap Mitha, sambil mengikuti Bi Sri yang sudah lebih dulu masuk.


"Assalamualaikum Bunda." Salam Mitha.


"Waalaikum salam, eh sayang kamu udah dateng." Balas Bunda sambil memeluk Mitha.


"Iya Bunda." Ucap Mitha, setelah Bunda Desi melepaskan pelukannya. Setelah itu Mitha pun mencium tangan kedua mertuanya.


"Mmm, sayang. Kamu nggak papa kan kalo Bunda sama Ayah tinggal dulu?"


"Emang Bunda sama Ayah, mau kemana?"


"Ini, Ayah kamu tiba-tiba ngajakin Bunda ikut ke acara pesta temen kerjanya. Nggak papa kan Bunda sama Ayah tinggal dulu? Cuman beberapa jam aja kok sayang."


Mitha pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bunda, nggak papa."


"Makasih yah sayang, maaf juga karena Bunda yang minta kamu kesini tapi sekarang, Bunda malah mau pergi." Ucap Bunda Desi tidak enak.


"Nggak papa kok Bunda, Mitha ngerti."


"Makasih yah sayang."


"Iya, Bunda."


"Oh yah, Nia lagi pergi ngejengukin temennya yang lagi sakit. Nggak jauh kok dari sini rumahnya, dia udah pergi daritadi sore, tapi belum balik-balik juga. Tapi tadi Bunda udah telpon kok, supaya dia segera pulang, soalnya kamu mau datang." Ucap Bunda lagi.


"Nggak papa kok Bunda, kalo Nianya masih mau disana." Ucap Mitha.


"Nggak papa kok sayang, oh yah Bi, Rendi udah pulang?" Tanya Bunda Desi pada Bi Sri.


"Belum Bu."


"Hadeh, anak itu kemana sih? Jam segini belum pulang?" Ucap Bunda Desi, sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17.00 sore.


"Mungkin... Masih main sama temennya Bun."

__ADS_1


"Iya tapi, udah jama segini, seharusnya dia sekarang udah di rumah. Bukan malah keluyuran nggak jelas." Omel Bunda Desi lagi.


"Udah yuk Bun, berangkat. Nanti keburu hujan, liat, langitnya diluar udah mendung banget. Kayaknya bakal turun hujan deras." Ucap Ayah yang tiba-tiba datang, entah darimana.


"Iya, entar Ayah." Ucap Bunda Desi, dan kembali berbalik kearah Mitha.


"Sayang, Bunda sama Ayah berangkat dulu yah." Ucap Bunda Desi, dan dibalas anggukan oleh Mitha.


"Iya Bunda."


Namun bukannya pergi, Bunda Desi malah menatap wajah Mitha.


"Kenapa Bun?"


"Bunda perhatiin, muka kamu terlihat sedikit pucat, kamu sakit sayang?" Khawatir Bunda.


"Mitha nggak papa kok Bunda, cuman sedikit pusing aja sejak siang tadi."


"Yaudah kamu istirahat gih, nanti buat makan malam kamu, biar diantar sama Bibi ke kamar."


"Eh, enggak usah Bunda. Biar Mitha turun sendiri buat makan nanti." Ucap Mitha, karena merasa tidak enak."


"Iya Bunda, maaf Mitha ngerepotin."


"Jangan bilang gitu, Bunda sama sekali nggak merasa direpotkan sama kamu. Justru Bunda seneng, kalau kamu ada disini, jadi tambah rame. Apalagi kalo nanti cucu-cucu Bunda sama Ayah udah ada disini, pasti rumah ini bakal lebih rame dengan suara tangisan bayi, jika mereka sudah lahir nanti. Hehe... Bunda jadi nggak sabar nungguinnya." Ucap Bunda dengan antusiasnya, sambil mengelus perut Mitha. Sehingga membuat Mitha tersenyum canggung, dan menghela nafas pelan. Ternyata bukan cuman orangtuanya saja yang berharap banyak pada pernikahannya dengan Rendi, tapi orang tua Rendi juga. Mitha jadi merasa tidak enak, pada Bunda Rendi. Dia begitu menantikan cucu darinya, sedangkan hubungannya dengan Rendi saja tidak ada kemajuan.


Percuma kalo cuman hanya dia yang berusaha membuka hati untuk Rendi, sedangkan Rendinya sendiri lebih memilih membuka hati untuk wanita lain. Apalagi sekarang dia mulai ragu, dengan keputusannya. Apa dia harus melanjutkan membuka hati untuk Rendi, atau tidak. Mengingat semua kelakuan Rendi, yang suka main perempuan. Mitha hanya berharap kalo Rendi tidak sampai berbuat diluar batas, diluar sana. Apalagi sampai celap-celup sana sini, jangan sampai itu terjadi. Karena kalau sampai Mitha tau, Rendi seperti itu. Detik itu juga, saat itu juga, Mitha akan langsung minta cerai.


Lebih baik dia jadi janda, daripada punya suami yang suka berhubungan badan, dengan banyak wanita diluar sana. Memikirkannya saja, sudah membuat Mitha merinding. "Semoga senakal-nakalnya dia, dia masih bisa menjaga dirinya dari pergaulan bebas dan hal yang tidak seharusnya dia lakukan, aaamiiiinnnn ya Allah." Batin Mitha.


***


Mitha merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk, rasanya sangat nyaman. Membuatnya yang sedang pusing dan pening, jadi lebih relax dan hampir saja tertidur jika tidak mendengar suara ketukan dipintu kamarnya.


Mitha pun membuka pintu, dan ternyata pelakunya adalah Bi Sri. Dia datang dengan membawa nampan berisikan makanan untuknya.


"Makasih yah Bi."

__ADS_1


"Iya non, sama-sama."


"Maaf sudah merepotkan."


"Nggak kok non, nggak merepotkan sama sekali." Ucap Bi Sri ramah.


"Mmm... Bi, Nia nya udah pulang?" Tanya Mitha.


"Belum non, tadi non Nia nya telpon. Katanya non Nia pulang sebentar lagi, soalnya non Nia mau nemenin temennya dulu, sampai orang tuanya datang. Karena orang tuanya lagi keluar sebentar, ada urusan katanya." Jelas Bi Sri.


"Ohh... Gitu yah Bi."


"Iya non."


"Mmm, kalau... Rendi, udah pulang?" Tanya Mitha pelan.


"Kalau den Rendi, Bibi kurang tau non. Soalnya daritadi Bibi belum liat, kayaknya belum pulang deh non."


"Ohh... Makasih yah Bi infonya, sama makanannya juga." Ucap Mitha dengan tersenyum.


"Iya non sama-sama, mending sekarang non makan terus istirahat. Muka non keliatan pucat soalnya." Ucap Bi Sri khawatir.


"Saya nggak papa kok Bi, cuman sedikit pusing aja."


"Yaudah non, Bibi kebawah dulu. Kalau non perlu sesuatu, non panggil Bibi aja."


"Iya Bi." Bi Sri pun kembali ke dapur, dan melakukan pekerjaannya kembali. Sedangkan Mitha segera memakan makanannya, agar bisa segera beristirahat. Karena pusing dikepalanya semakin terasa. Selesai makan, Mitha pun menyimpan peralatan makannya dimeja, sebenarnya dia ingin membawanya ke dapur. Tapi rasa pusing dikepalanya semakin terasa dan mulai berdenyut-denyut, badannya juga terasa sangat lemas, padahal dia baru saja selesai makan.


Dengan susah payah, Mitha bangkit dari duduknya dan berjalan ke toilet untuk membersihkan dirinya sebelum membaringkan tubuhnya dikasur untuk beristirahat. Mitha pun membasuh wajahnya berulangkali, berharap bisa lebih segaran sedikit. Tapi bukannya mendingan, kepala Mitha malah semakin pusing. Mitha pun mengeratkan pegangan tangannya pada pinggiran wastafel, agar tidak jatuh.


Dengan sisa tenaga yang ada, Mitha pun berjalan menuju pintu toilet, dengan berpegangan pada tembok. Tujuannya untuk segera berbaring ditempat tidur, karena untuk memanggil Bi Sri pun dia sudah tidak kuat. Apalagi diluar sedang turun hujan deras, jadi kemungkinan Bi Sri tidak bisa mendengar suaranya.


Mitha masih berusaha untuk terus melangkah, namun rasa pusing dan rasa lemas yang dirasakan tubuhnya, tidak mampu menopang tubuh Mitha lebih lama lagi, dan akhirnya Mitha pun terjatuh dan pingsan dikamar mandi.


...****************...


Assalamualaikum semuanya 😁😅

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅😁🥰🥰🥰


__ADS_2