Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Dilapangan


__ADS_3

"Aman gak nih? Gue nggak mau yah, kalo sampe muka ganteng gue ini lecet, karena obat lo itu." Ucapan menyebalkan yang baru saja keluar dari mulut Rendi, seketika mengalihkan atensi Mitha. Diapun menghentikan pergerakan tangannya yang sedang mengolesi pipi Rendi dengan obat gatal.


Mitha yang sejak tadi pandangannya mengarah ke wajah Rendi, kini tengah mendongakkan kepalanya dan menatap Rendi dengan tatapan kesal. Dan kebetulan saat itu Rendi juga sedang menatap kearahnya, nggak usah ngarep ada adegan pandang-pandangan diantara mereka. Karena Mitha segera mengalihkan pandangannya, dan kembali mengolesi wajah Rendi dengan obat gatal.


"Nggak usah khawatir, obat ini aman kok. Kalau bahaya nggak akan aku pakein dimuka kamu, jadi nggak usah takut, muka yang kamu bilang ganteng ini nggak bakalan lecet." Ujar Mitha sambil mengolesi leher Rendi dengan obat gatal.


"Yaa... Siapa tau aja, muka gue tiba-tiba jadi jelek setelah make obat lo itu." Mitha pun menghela nafas mendengarnya.


"Ini tuh cuman obat gatal, bukan air keras. Lagipula aku udah sering pakai kok..."


"Pantes muka lo jelek." Belum selesai Mitha melanjutkan ucapannya, kata-kata pedas Rendi sudah terdengar ditelinganya. Mendengar itu, sontak Mitha menghentikan tangannya yang sedang mengolesi leher Rendi, dan menatap Rendi dengan wajah masam.


Rasanya seperti ada jarum tak kasat mata yang menusuk hatinya, perih. Itulah yang dirasakan Mitha sekarang, padahal dia sudah sering mendengar anak-anak yang lain mengatainya jelek, tidak cantik, cupu, culun, kutu buku, dan ejekan-ejekan lainnya. Tapi Mitha cuek-cuek aja, dan menganggapnya hanya angin lalu. Tapi kenapa saat Rendi yang mengatakan hal seperti itu padanya, hatinya terasa nyut-nyutan.


Tidak ingin terlihat terpengaruh dengan ucapan Rendi, Mitha mencoba untuk terlihat biasa saja.


"Iya tau kok, aku jelek. Emang dimata kamu, cuman pacar kamu yang cantik dan menarik, iyakan?"

__ADS_1


"Emang."


"Hhuuffftt..." Mitha menghela nafas mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut Rendi. Dengan sisa kesabaran yang ada, Mitha menyodorkan obat gatalnya ketangan Rendi, dan memintanya untuk mengolesnya sendiri. "Nih! Olesin sendiri, aku mau ke kelas." Ucap Mitha dengan wajah datar.


Setelah menyerahkan obatnya, Mitha langsung berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Rendi sendirian.


"Kenap tuh anak? Marah gue bilangin jelek? Emang dia jelek kok." Gerutu Rendi, saat Mitha meninggalkannya sendirian. "Eh iya, gue lupa nanya lagi sama tuh cewek. Kemarin malam dia pulang pake apa? Kan hpnya mati, dompetnya juga jatuh dirumah. Ah, entar deh gue tanyain." Gumam Rendi.


Didalam kelas


Mitha meletakkan tasnya dengan sedikit kasar di kursi, memejamkan mata dan mengontrol nafasnya yang sempat memburu kesal, karena Rendi. Untung sekarang didalam kelas sudah sepi, karena anak-anak yang lain sudah pergi kelapangan, karena sebentar lagi bel upacara akan berbunyi. Jadi Mitha bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menenangkan hatinya yang sempat nyut-nyutan karena ulah Rendi.


Ting... Ting... Ting...


Mitha menghela nafas saat mendengar bunyi bel, dia harus segera bergegas kelapangan sebelum terlambat upacara. Saat sudah sampai dilapangan, Mitha mengedarkan pandangannya ke barisan kelas Rendi, tapi dia tak menemukan orang yang dicarinya.


"Kemana dia? Jangan bilang karena badannya gatal-gatal, dia lalu bolos upacara." Gumam Mitha sambil mengedarkan pandangannya kembali, namun bukannya menemukan orang yang dicari, pendengarannya malah menangkap suara cempreng para sahabatnya.

__ADS_1


"UMIIII...." Teriak mereka dengan hebohnya, membuat Mitha yang masih berada dipinggir lapangan menundukkan kepalanya karena merasa malu. Bagaimana tidak, sekarang dia jadi pusat perhatian anak-anak bahkan para guru yang ada dilapangan, karena teriakan para sahabatnya. Dengan kepala menunduk, Mitha berjalan ke barisannya. Untung dia tidak tersandung atau menabrak sesuatu, karena terus menunduk saat berjalan. Kalau itu sampai terjadi, pasti akan sangat memalukan rasanya. Kalau kata anak zaman now sih, sakitnya nggak seberapa, malunya ituloh.


"Umi..." Suara cempreng Arum cs kembali terdengar ditelinga Mitha, saat dia sudah sampai dibarisan kelasnya. Dengan lambaian tangan dan diiringi dengan senyuman, mereka menyambut Mitha yang sedang bersiap mengambil posisi untuk ikut upacara.


Namun belum sempat Mitha memperbaiki posisinya, Arum cs sudah menghambur ke pelukannya. Untung Mitha dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya. Kalau tidak, sudah pasti mereka sekarang sudah nyungsep dilapangan. Dan itu pasti akan sangat memalukan.


"Ya ampun Umi, akhirnya Umi bisa berdiri disini juga, bareng kita."


"He'em, kan biasanya Umi berdiri dibelakang barisan, ngawasin anak-anak yang lain. Tapi sekarang Umi udah gabung lagi ma kita disini."


"Ayelah nih Teletubbies, nggak dikelas nggak dilapangan, hobinya pelukan." Ucap Satya saat melihat mereka berpelukan.


...****************...


Assalamualaikum semuanya 😁🥰


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2