
Assalamualaikum semuanya... Maaf yah, baru bisa up sekarang ππ₯Ί Karena ada alasan yang tidak bisa author sebutkan dan jelaskan, author berhalangan untuk up beberapa hari iniπππ Sekali lagi author minta maaf yah....π₯Ίπ₯Ί
***
"Eh, itu air butek, kenapa tiba-tiba jadi bening gitu?" Gumam Rendi pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Rangga yang berada di sampingnya. "Auw..." Keluh Rendi saat mendapat toyoran dari Rangga. "Apaan sih?" Sewot Rendi.
"Itu mulut dijaga, jangan sembarangan ngomong. Bagaimana pun, dia itu calon istri lo, calon ibu dari anak-anak lo nanti." Rendi tiba-tiba bergidik ngeri mendengar kata 'anak' yang keluar dari mulut Rangga. "Kenapa lo?" Tanya Rangga saat melihat ekspresi geli Rendi.
"Lo yang kenapa? Nikah aja belum, udah ngomongin anak. Lagian kita tuh masih sekolah,belum boleh kepikiran kesitu." Ucap Rendi.
"Baguslah kalau gitu, kasian juga gue sama calon istri lo itu. Kalau sampai dia harus hamil muda, karena lo nggak bisa nahan diri. Lo nggak lupa kan kalo lo itu..."
"Iya iya gue tahu, nggak usah diingetin gue juga masih inget kali." Sewot Rendi yang memotong ucapan Rangga.
"Kalo inget, selesain semuanya secepatnya. Jangan sampai ada hati yang terluka karena ulah lo."
"Hhuuffftt..." Rendi hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Rangga.
"Udah-udah, nggak usah mikirin yang itu dulu. Calon istri lo udah dateng tuh, sekarang lo fokus dulu sama acara ini. Jangan sampai salah ucap saat akad, jangan bikin malu."
"Bisa nggak sih lo diem? Jangan bikin gue makin stress deh. Mending lo balik kebelakang deh sama anak-anak yang lain, kepala gue makin pusing dengerin celotehan lo tau."
"Ckk, dibilangin ngeyel. Ingat, jangan sampai salah ucap."
"Iya Ngga... Balik deh lo sana." Rendi jadi kesal sendiri memikirkan semuanya, belum nikah aja udah sepusing ini, bagaimana nanti kalo udah nikah. Semoga dia tidak sampai stress dan masuk RSJ. "Hii..." Membayangkannya saja membuat Rendi bergidik ngeri, Rendi juga tidak habis pikir dengan Rangga. Sepupunya yang pendiam dan hanya bicara seperlunya itu, kenapa tiba-tiba jadi sangat cerewet sekali.
Tepukan dipundak Rendi menyadarkannya dari lamunannya, dia pun berbalik dan melihat Bundanya sedang berdiri di belakangnya. Lalu pandangannya beralih kearah sampingnya. Gara-gara melamun, dia sampai tidak sadar kalo Mitha sudah duduk disampingnya. Gadis itu terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.
"Ckk, dasar. Udah mau akad, masih aja sibuk main ponsel. Lagi ngapain sih dia?" Gumam Rendi pelan.
__ADS_1
"Bagaimana sayang, udah tersambung belum?" Tanya Bunda tiba-tiba.
"Belum Bunda, kayaknya jaringan disana lagi jelek deh Bunda. Soalnya kata papa tadi, disana lagi cuaca buruk." Ucap Mitha.
"Oh, yah sudah sayang nggak papa. Dicoba lagi aja, siapa tau udah nyambung."
"Iya, Bunda."
"Ohh... Lagi ngehubungjn bokapnya." Batin Rendi. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya panggilannya pun tersambung.
"Assalamualaikum Pa..."
"Waalaikum salam nak, gimana, udah amu dimulai acaranya?"
"Iya, Pa."
"Baiklah, sebelum akad dimulai, bisa Papa bicara sama calon mantu Papa?" Tanya Papa Mitha, Mitha pun melirik kearah Rendi, Rendi yang mengerti pun langsung menganggukkan kepalanya dan meminta ponsel Mitha.
"Waalaikum salam nak, panggil Papa saja seperti Mitha."
"I... iya om, eh papa maksudnya." Papa Mitha pun tersenyum mendengarnya.
"Boleh papa bicara sesuatu sama kamu?"
"Silahkan pa."
"Rendi, tolong jaga putri saya dengan baik. Walaupun kalian menikah dengan cara seperti ini, tapi papa harap kamu bisa memperlakukan Mitha dengan baik. Dia mungkin masih belum bisa jadi istri yang baik, jadi tolong bimbing dia, ingatkan dia jika dia salah. Kamu boleh memarahinya, tapi tolong jangan sakiti fisik ataupun batinnya. Jangan pernah kamu main tangan padanya, jika kamu sudah merasa lelahdan letih menghadapinya, maka tolong kembalikan dia pada keluarganya. Rendi, saya tau cinta tidak bisa dipaksakan. Tapi, saya harap kamu bisa membuka hati kamu untuk putri saya. Saya harap putri saya bisa memiliki tempat dihari kamu, tolong sayangi dia, jaga dia, tolong jaga kepercayaan yang sudah saya berikan kekamu. Apa kamu sanggup melakukannya?" Rendi menelan salivanya dengan susah payah, saat mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut papanya Mitha. Bagaimana dia bisa menyayangi Mitha kalo dia... Haiiisshhh. Rendi merasa benar-benar pusing saat ini.
"Rendi?" Panggil papa Mitha, karena Rendi hanya diam saja.
__ADS_1
"I... iya pa... Insya Allah, Rendi usahakan." Papa Mitha tersenyum mendengarnya.
"Baiklah, bisa kamu berikan ponselnya pada Mitha?"
"Iya pa."
"Halo pa..." Sebisa mungkin Mitha menahan agar air matanya tidak keluar.
"Halo nak, nak sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri. Papa harap kamu bisa menjadi istri yang baik untuk suami kamu, jangan membantahnya jika itu masih dalam hal yang baik. Jangan meninggikan suara kamu di depannya, papa harap kalian bisa saling menyayangi, mengasihi, menjaga dan melindungi satu sama lain. Walaupun pernikahan kalian terjadi seperti ini, papa harap tidak akan ada kata perpisahan diantara kalian." Lagi-lagi Rendi meringis mendengar ucapan terakhir dari papa Mitha.
"Iya pa, insya Allah. Mitha akan selalu mengingat nasihat papa. Oh yah pa, Mama mana?"
"Tunggu sebentar, tadi Mama kamu lagi ngecek kondisi kakek. Nah itu dia dateng." Mama Mitha pun duduk di samping suaminya dengan nafas yang terengah-engah, seperti habis berlari.
"Halo sayang, putri mama." Suara mama Mitha diseberang sana.
"Halo ma, assalamualaikum." Ucap Mitha, yang menyadarkan mamanya kalo dia bum memberi salam.
"Iya sayang, waalaikum salam. Hiikk..." Mama Mitha tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, terlebih lagi saat melihat putrinya mengenakan baju pengantin, dan sebentar lagi akan menikah. Menikah dengan cara yang tidak pernah mereka duga sebelumnya, menikah dengan tanpa didampingi ortu ataupun keluarga.
"Mama jangan nangis, Mitha baik-baik aja. Jadi mama jangan nangis lagi yah, demi Mitha. Mitha nggak pengen ada air mata kesedihan dihari pernikahan Mitha, cuman boleh ada air mata bahagia aja."
"Iya sayang, maafin mama. Mama cuman sedih karena nggak bisa ada disamping kamu, disaat kamu menikah."
"Mama kenapa minta maaf, mama nggak salah apa-apa. Mitha yang seharusnya minta maaf sama mama, Mitha yang udah bikin salah, sampai harus mendadak nikah seperti ini. Maafin Mitha yah ma, Mitha belum bisa jadi anak yang baik. Mitha cuman bisa bikin mama sedih, dan kecewa aja."
"Nggak sayang, jangan bilang begitu. Bagi mama kamu tetap putri mama yang terbaik, dan untuk yang terjadi sama mama kamu sekarang. Anggap saja semua itu sudah takdir dari yang mahakuasa, dan semoga kamu bisa menjadikan semua ini sebagai pelajaran dimasa depan. Agar lebih berhati-hati saat melakukan sesuatu." Nasihat mama Mitha.
... *********************...
__ADS_1
Assalamualaikum para readers kiuuu...