
"Nggak, B aja." Ucap Mitha dengan datar dan tenang, namun berbanding terbalik dengan yang sebenarnya dirasakannya. Istri mana sih, yang tidak terluka melihat suami sendiri peluk-pelukkan, sayang-sayangan, dan terang-terangan menjalin hubungan dengan cewek lain didepan mata sendiri. Walaupun pernikahan mereka tidak dilandasi rasa cinta, tapi tetap saja, rasanya sakit.
"Serius Tha? Kamu nggak keberatan kalo Rendi masih punya pacar? Atau jangan-jangan kamu dipaksa sama Rendi buat nurut sama dia, atau kamu diancam sama Rendi supaya ngebiarin dia tetap boleh pacaran. Iya? Jawab aja yang jujur, nggak usah takut." Tanya Rangga, sehingga membuat Rendi berdecak kesal. Sambil berkacak pinggang, diapun menjawab pertanyaan Rangga.
"Eh, apaan sih lo? Gue nggak pernah yah, maksa-maksa apalagi ngancem-ngancem dia segala. Lagian lo kenapa sih, jadi cerewet gini? Bukan Rangga yang biasanya gue kenal, yang kalem dan pendiam."
"Itu karena yang lo lakuin sekarang ini salah, dan sebagai sodara plus sahabat lo, gue berkewajiban buat ngingetin lo, jika lo salah. Balas Rangga, Mitha segera menengahi mereka, saat melihat Rendi akan bicara lagi.
"Ekhem... Nggak usah ribut, kalau Rendi memang masih mau lanjut pacaran, silahkan, aku nggak akan ganggu. Aku mau kekelas duluan, assalamualaikum." Tanpa menunggu jawaban salam dari mereka, Mitha pun melenggang pergi menuju kelasnya.
"Gue harap lo nggak akan nyesel sama keputusan lo sekarang, karena udah nyia nyiain istri lo sendiri, cuman buat menuhin kesenengan lo sendiri." Setelah mengatakan itu, Rangga langsung pergi meninggalkan Rendi dan Sasya, disusul Beni dan Vino dibelakangnya.
"Yang, makasih yah, karena kamu masih mau pertahanin aku jadi pacar kamu. Tapi benar kan, cewek tadi nggak bakal ngeganggu hubungan kita kan?" Tanya Sasya, yang sengaja menyebut Mitha dengan sebutan 'cewek tadi' bukannya istri. Jujur sekarang dia merasa sangat senang, karena Rendi lebih memilih dirinya, apalagi saat melihat penampilan Mitha, dia jadi merasa semakin percaya diri, kalau Rendi akan selalu bersamanya. Karena Rendi tidak akan tertarik pada Mitha yang berpenampilan cupu, dan sama sekali tidak menarik, pikir Sasya.
"Kamu nggak usah khawatir, hubungan kita bakal tetap sama, sebelum ataupun sesudah aku nikah." Ucap Rendi lembut, dan mengacak pelan pucuk kepala Sasya. Sehingga membuat gadis itu tersenyum manis kearahnya.
"Makasih yah sayang."
"Iya, sama-sama. Yaudah yuk, kekelas."
"Iya."
Mereka pun berjalan menuju kekelas, sambil berpegangan tangan. Dan itu semua tidak luput dari pandangan siswa-siswi yang mereka lewati. Sebenarnya mereka sudah jadi pusat perhatian beberapa murid, sejak diparkiran tadi. Dan tentunya mereka sudah menyiapkan ponsel mereka masing-masing, untuk mengabadikan kemungkinan terjadinya acara jambak-jambakan antara Mitha dan Sasya. Tapi sayangnya, hal itu tidak terjadi. Sehingga membuat mereka mendesah kecewa, karena tidak jadi mendapatkan tontonan yang menarik.
__ADS_1
Di lain sisi, Mitha sedang berjalan cepat menuju kelasnya. Rasanya benar-benar tidak nyaman, saat para penghuni sekolah terus memandanginya dan saling berbisik-bisik satu sama lain.
"Hhuuffftt... Akhirnya sampai dikelas juga." Mitha langsung membuka pintu kelasnya yang sedikit tertutup.
"Assalamualaikum..." Seru Mitha memberi salam, memang sudah menjadi kebiasaannya selalu mengucap salam saat baru masuk kelas.
"Waalaikum salam..." Kompak teman-temannya menjawab, tapi yang paling heboh adalah Arum cs. Mereka langsung memeluk Mitha dengan heboh, sampai-sampai Mitha sedikit terhuyung ke belakang. Untungnya Mitha bisa sedikit menahan beban tubuhnya, jadi mereka semua tidak harus baring-baring santuy di atas lantai.
"UMI...." Teriak mereka heboh, Mitha sampai memejamkan mata mendengar teriakan mereka yang memekakkan telinga.
"Hmm... Umi, kangeeeennnnn..." Heboh Lia, sahabat Mitha yang paling berisik bin cerewet.
"Umi maaf yah, kita kemarin nggak bisa dateng." Sahut Arum juga. "Lagian Umi juga kenapa sih, ngelarang-ngelarang kita semua buat dateng kenikahan Umi kemarin. Kita kan juga penasaran pengen liat apa aja yang terjadi dinikahan Umi kemarin." Protes Arum dengan wajah cemberutnya.
"Iya Umi, padahal kita pengen banget dateng kemarin." Ucap Vina juga dengan wajah sedih. Sehingga membuat Mitha jadi ikutan sedih mendengarnya, tanpa melepas pelukan teman-temannya, Mitha pun meminta maaf pada mereka.
"Wahh... Ini para Teletubbies pada suka banget sih, peluk-pelukkan. Gue gabung boleh dong." Seru Reno, yang tiba-tiba datang entah darimana.
"Yee... Modus!" Ejek Lia, saat Reno sudah mendekati mereka. Sehingga membuat mereka langsung melepaskan pelukan mereka.
"Ckk, ganggu aja lo. Nggak liat kalo kita tadi lagi quality time bareng." Protes Arum. Mitha yang melihat mereka hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Umiii... Kangeeeennnn..." Seru Reno dengan lebaynya, sambil merentangkan kedua tangannya, seolah-olah minta di peluk. Tapi bukannya pelukan yang didapatkannya, justru sebuah tabokan dilengannya yang didapat dari Arum.
__ADS_1
"Ckk, apasih, sakit tau." Sungut Reno.
"Bukan muhrim, huss huss." Usir Arum, dengan mengibaskan kedua tangannya.
"Iya deh tau, yang udah punya muhrim. Btw, Umi selamat yah, atas pernikahannya kemarin. Semoga pernikahan Umi dan suami langgeng selalu, dan pernikahan kalian yang berawal dari kata terpaksa ini bisa berjalan dengan bahagia. Walaupun kemarin aku nggak bisa dateng kenikahan Umi, karena Umi yang ngelarang. Tapi doaku selalu menyertai Umi, semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah, dan warohmah. Dan Umi harus jadi istri yang baik, nurut kata suami, dan nggak boleh nachkal-nachkal lagi. Pokoknya tunjukin ke suami Umi, kalo Umi itu wanita yang hebat. Dan dia adalah lelaki yang beruntung, karena sudah mendapatkan Umi jadi istri dan teman hidupnya." Ucap Reno menggebu-gebu.
"Waahhh... Reno, habis dapat hidayah darimana lo, bisa ngomong sebijak itu. Tumben." Ledek Lia, sehingga membuat Reno berdecak kesal.
"Ckk, itu tuh ungkapan tulus dari lubuk hati gue yang terdalam buat Umi. Jadi nggak usah protes." Ucap Reno dengan tangan kiri dipinggang, dan tangan kanannya yang menunjuk-nunjuk Lia.
"Siapa yang protes?"
"Eh, lo ngomong sekali lagi, gue sentil paru-paru lo." Seru Reno dengan wajah galak.
"Sembarangan, kalo paru-paru gue sampai bocor gimana? Mau tanggung jawab lo?" Sewot Lia.
"Hayoloh... Reno tanggung jawab sama Lia." Seru Arum ikut-ikutan. Membuat Reno kesal, memang sudah jadi kebiasaan mereka.
"Tanggung jawab pala lu, emang gue apain dia?" Ucap Reno dengan menunjuk Lia. "Iya sih, gue akuin gue ini emang tampan dan berkharisma. Tapi bukan berarti kalian bisa bebas modusin gue gini yah, kalo naksir bilang aja. Nggak usah banyak alasan." Ucap Reno dengan pedenya, sengaja ingin membalas ledekan Arum dan Lia.
...****************...
Assalamualaikum semuanya 😁😁
__ADS_1
Maaf yah, baru nongol lagi...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 🥰🥰