
"Jangan dong Pak, Bapak mukulnya nggak pakai perasaan, kepala saya masih sakit nih." Protes Rendi lagi, sehingga membuat Pak Doni memutar bola matanya jengah, melihat Rendi.
"Udah yah Reni, kepala saya pusing ngedengerin kamu ngoceh mulu daritadi. Mending sekarang kamu kerjakan hukuman kamu, biar cepat selesai dan kita bisa segera kembali ke kelas." Ucap Pak Doni setengah frustasi menghadapi Rendi.
"Ck, nama saya Rendi Pak, bukan Reni."
"Iya iya Reni, udah sekarang sana cepat kerjakan hukuman kamu."
Rendi mendengus kesal, bukan hanya karena hukumannya, tapi karena Pak Doni terus memanggilnya dengan sebutan Reni.
***
Rendi menatap nanar kearah lapangan yang ada di hadapannya, kakinya terasa begitu berat untuk melangkah ke sana.
"Bismillah, kuatkanlah hamba ya Allah." Batin Rendi. (Ck, saat kayak gini aja, baru ingat Allah. Author lagi julid, hehe...)
Rendi memejamkan mata dan membuang nafasnya perlahan, sungguh Rendi merasa lebih gugup saat ini ketimbang saat akan memimpin timnya disetiap perlombaan basket. Andai saja Mitha dan teman-temannya tidak ada dilapangan saat ini, hukumannya tidak akan terasa berat untuk Rendi.
"Ekhem."
Suara deheman dari Pak Doni membuyarkan lamunan Rendi, dengan perlahan dan sangat-sangat terpaksa, Rendi mulai melangkahkan kakinya menuju pinggir lapangan dan mulai berlari. Namun saat akan menyerukan yel-yel dari Pak Doni, suara Rendi seperti tercekat di tenggorokan. Rasa malu yang menghampirinya, membuatnya sulit untuk bersuara. Jadi dia memutuskan hanya berlari saja, tapi sayang, niatnya tidak bisa tersampaikan karena suara Pak Doni yang menegurnya dengan kata-kata yang membuatnya hampir saja tersandung dan terjatuh.
"RENI! Jangan diam saja, yel-yel nya mana? Keluarkan suara kamu RENI!" Tegur Pak Doni lantang, dengan menekankan katanya setiap kali menyebut nama Reni.
Rendi menghentikan langkahnya sejenak, menghela nafas dengan sangat jengkel, karena Pak Doni lagi-lagi memanggilnya dengan sebutan Reni. Sehingga membuatnya jadi bahan tertawaan anak-anak yang ada di lapangan. Bahkan ada yang sampai terang-terangan mengejeknya.
__ADS_1
"SEMANGAT RENI!" Seru beberapa murid dilapangan sambil tertawa. Namun hanya sebentar, karena Pak Bowo segera menegur mereka agar diam.
Setelah menata perasaannya menjadi lebih baik, Rendi kembali meneruskan larinya, mencoba untuk menebalkan muka dan menulikan pendengarannya dari suara-suara sumbang yang masih menertawainya. Dan Rendi pun mulai menyerukan yel-yel nya.
"Umi, kira-kira kenapa yah, papa tiri sampe dihukum sama Pak Doni?" Kepo Arum, namun Mitha hanya mengedikkan kedua bahunya, tanda tidak tau. Tidak lama kemudian, suara Rendi yang menyerukan yel-yel pun terdengar. Dan membuat mereka terdiam, menahan tawa.
"Gue anak malas, karena nggak ngerjain tugas..." Belum juga selesai Rendi menyerukan yel-yel nya, suara Pak Doni kembali terdengar ditelinganya.
"Bukan 'gue' Reni! Tapi 'saya'. Dan lebih keraskan suara kamu." Tegur Pak Doni yang saat ini sudah berdiri dipinggir lapangan. Rendi hanya bisa mendengus kesal mendengarnya, karena Pak Doni lagi-lagi memanggilnya dengan nama Reni.
"Saya anak malas, karena nggak ngerjain tugas..." Rendi pun menyerukan yel-yel nya dengan suara lebih keras, agar tak ditegur Pak Doni lagi. Tapi ternyata Pak Doni masih belum puas.
"RENI! Suara kamu masih kurang keras!" Tegur Pak Doni lagi, membuat murid-murid yang ada dilapangan semakin cekikikan melihatnya. Rendi mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, dia benar-benar kesal dengan Pak Doni yang daritadi terus menegur dan memanggilnya dengan sebutan Reni. Kalau tidak mengingat Pak Doni adalah gurunya, mungkin sudah dia lempar pakai sepatu sejak tadi.
Flashback On
"Dengar yah Reni, kalau kamu sampe kabur dan tidak mengerjakan hukumanmu. Maka jangan harap untuk ikut mata pelajaran Bapak lagi, dan untuk nilai, kamu akan saya kasih nilai E. Ngerti kamu?"
"Iya Pak."
Flashback Off
Rendi membuang nafasnya dengan kasar, berusaha menghilangkan rasa kesal dan malu yang saat ini dirasakannya.
"SAYA ANAK MALAS, KARENA NGGAK NGERJAIN TUGAS! SAYA ANAK MALAS, KARENA NGGAK NGERJAIN TUGAS!" Seru Rendi dengan keras. "Awas aja tuh si Pak Botak, kalau masih komen." Batin Rendi dengan melihat Pak Doni dengan rasa kesal yang teramat sangat.
__ADS_1
"Ohh... Ternyata si Papa tiri dihukum karena nggak ngerjain tugas Umi." Ucap Arum, dan hanya dibalas deheman oleh Mitha.
"Hemm..."
Sedangkan tidak jauh dari tempat Mitha berdiri, seorang murid laki-laki sedang tersenyum miring melihat Rendi yang dihukum dan ditertawai anak-anak yang lain.
"Nggak sia-sia gue tadi nyelinap masuk di kelas dia, buat ambil buku tugasnya. Hehe..." Batin orang itu. Yap dia adalah orang yang sama dengan yang mengerjai Rendi kemarin, dengan menaruh lem khusus dikursi Rendi. Dan kebetulan tadi pagi, saat dia berada di parkiran, dia tidak sengaja mendengar teman-teman sekelas Rendi membicarakan tentang tugas dari Pak Doni yang harus dikumpul hari ini.
Seketika senyum miring terbit diwajahnya, ketika sebuah ide nakal muncul dikepalanya. Dia akan menunggu saat yang tepat, dan mengambil buku tugas Rendi tanpa ketahuan yang lain. Dia tau betul bagaimana Pak Doni yang tidak segan-segan menghukum murid yang tidak mengerjakan tugas yang dia berikan, dengan hukuman yang sulit.
"Ini belum seberapa, dibanding rasa malu dan rasa sakit yang Umi dapatkan saat lo dengan terang-terangan memamerkan kemesraan sama cewek lo didepan Umi dan didepan murid-murid yang lain. Sampe-sampe Umi jadi bahan cibiran dan ledekan murid-murid yang lain, karena dikira nggak becus jagain suami. Dan berbagai ejekan lainnya." Batin orang itu lagi.
"Umi, Umi kok diem aja? Jangan bilang kalau Umi kasian yah sama si Papa tiri." Ucap Lia, yang melihat Mitha hanya diam saja daritadi. "Tuhkan, Umi diem aja. Berarti benerkan yang aku bilang, kalau Umi kasian sama si Papa tiri." Tebak Lia, karena Mitha hanya diam saja. Namun tak lama kemudian, Lia pun menghela nafasnya saat melihat Mitha menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Ya ampun Umi, nggak usah kasian-kasian sama dia. Dia aja nggak pernah kasian kan sama Umi, buktinya selama ini dia selalu nyakitin Umi. Anggap aja sekarang dia lagi dapat hukuman kecil dari Tuhan, lewat Pak Doni." Ucap Lia lagi.
"Hem..."
Lia hanya bisa menghela nafas, menghadapi Mitha yang lagi dalam mode irit bicara seperti sekarang.
...****************...
Assalamualaikum semuanya ππ
Maaf kalau ceritanya kurang sesuai ekspektasi kalianππ Masih dalam proses belajar... Kritik dan saran dari teman-teman semua, akan sangat membantu author ππ So author tungguin kritik dan saran dari kalian semua yahh...ππβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯° Jangan lupa komen...ππ
__ADS_1