
"Bisa nggak jawabnya nggak usah pake hahem hahem mulu, nggak ada kata-kata lain apa?"
"Hemm..." Balas Mitha, hingga membuat Rendi jadi menggeram kesal. Setelah menghela nafas kasar, Rendi pun segera mengeluarkan dompetnya.
"Mending gue segera selesain urusan gue sama nih cewek, biar kita bisa segera sampai di sekolah, dan gue bisa terbebas dari nih cewek. Lama-lama sama dia, bisa bikin gue darah tinggi." Dumel Rendi dalam hati.
"Nih, buat lo." Ucap Rendi dengan menyodorkan black card dan sebuah ATM. Rendi pikir kalo Mitha akan langsung kesenengan dan langsung mengambilnya, semua cewekkan sama aja, MATRE. Dikasih kartu pamungkas buat shopping gini, pasti langsung ijo matanya, begitulah pikir Rendi. Tapi bukannya langsung mengambil kartu itu, Mitha malah memandang kartunya dengan wajah datar. Sehingga membuat Rendi mengernyit bingung.
"Kok nggak diambil? Ini buat lo, anggap aja ini nafkah dari gue. Karena sekali lo udah jadi istri gue, maka lo udah jadi tanggung jawab gue. Dan gue udah berkewajiban buat ngasih lo nafkah." Ucap Rendi lagi, karena Mitha tidak kunjung mengambil kartunya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Akhirnya Mitha buka suara juga, setelah terdiam sebentar.
"Boleh, lo mau nanya apa?"
"Uang yang ada dalam kartu ini, semuanya dari kamu atau orang tua kamu?"
__ADS_1
"Ya dari Bunda lah, gue kan belum kerja."
Melihat Mitha diam saja, Rendi kembali berbicara.
"Tenang aja, tiap bulannya Bunda bakal kirim uang buat lo kok, jadi lo nggak perlu takut kekurangan. Lo bisa pakai uangnya buat keperluan lo, mau buat shopping atau apapun itu, terserah lo. Mau lo abisin juga nggak masalah, tapi saran gue sih, jangan terlalu boros, harus bisa mengatur keuangan dengan baik. Itu juga salah satu tugas istri kan?" Mitha pun mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Rendi.
"Boleh nggak, kalau aku nolak kartu-kartu ini?" Tanya Mitha sambil menunjuk kedua kartu itu.
"Kenapa? Kurang banyak? Gue kan udah bilang, setiap bulannya Bunda bakal kirim uang buat lo."
"Tapi apa?"
"Tapi aku pengennya uang yang kamu kasih ke aku itu, uang hasil dari kerja keras kamu sendiri, hasil dari keringat kamu sendiri. Bukan uang dari orang tua kamu." Jelas Mitha, dan sukses membuat Rendi terlihat agak kesal.
"Jadi maksudnya, lo nggak mau nerima kartu ini gitu?" Tanya Rendi, dan dibalas anggukan kepala oleh Mitha.
__ADS_1
"Selama uang itu masih terus dari orang tua kamu, maaf, tapi aku nggak bisa nerima uangnya. Kecuali kalo itu hasil dari keringat kamu sendiri, baru aku mau terima." Bukan tanpa alasan, Mitha mengatakan hal seperti itu pada Rendi. Dia hanya ingin Rendi belajar mandiri dan bertanggung jawab sendiri untuk istrinya, bukan hanya mengandalkan pemberian dari orang tua saja.
"Tunggu sebentar, jadi maksud lo, lo nyuruh gue kerja gitu?" Tanya Rendi, dengan wajah yang sudah tidak bersahabat. Dan dibalas anggukan kepala oleh Mitha, Rendi yang melihatnya langsung tersenyum miring.
"Lo pikir lo siapa hah? Nyuruh-nyuruh gue kerja, nyadar diri dong. Lo itu cuman istri TERPAKSA gue, dan lo nggak seistimewa itu sampai-sampai gue harus rela kerja banting tulang siang malam cuman buat nyari uang buat lo. Dan kalau pun emang lo nggak mau ngambil kartunya, yaudah terserah lo. Yang rugi lo sendiri." Bentak Rendi dengan menekankan kata terpaksa. Tanpa menunggu balasan dari Mitha, Rendi memasukkan kembali kartu-kartu itu kedalam dompetnya.
"Jadi seperti ini rasanya, kalo lagi dimarahin suami. Nyes nyes gitu rasanya." Batin Mitha dalam hati, bohong kalau dia bilang dia baik-baik saja setelah dimarahi oleh Rendi. Dia yang memang biasanya selalu diperlakukan dengan baik oleh orang terdekatnya, baik itu dari keluarganya ataupun para sahabatnya. Mitha yang biasanya tidak pernah dibentak-bentak seperti tadi, tentu saja membuatnya merasakan sebuah perasaan aneh. Sebuah perasaan terluka. Ya, jujur Mitha merasa sedikit terluka dengan bentakan dan kata-kata kasar yang dilontarkan oleh Rendi tadi.
Tapi untunglah wajah datarnya dan pembawaannya yang tenang, berhasil menyelamatkannya dari ekspresi terluka. Dan Mitha tentu tidak ingin kalo Rendi melihatnya sedang bersedih, Mitha tidak ingin terlihat terpengaruh oleh ucapan Rendi, dia juga tidak ingin terlihat lemah. Atau harga dirinya akan diinjak-injak. Mitha pun memperbaiki posisi duduknya,dan menatap lurus ke depan. Seolah menganggap kalau ucapan Rendi tadi hanyalah angin lalu saja. Rendi yang melihatnya, jadi merasa semakin kesal saja.
"Dasar cewek nyebelin." Gumam Rendi pelan, tapi masih bisa terdengar oleh telinga Mitha. Hanya saja dia berpura-pura tidak mendengarnya, dan memilih untuk bersikap cuek. Walaupun yang sebenarnya dia merasa kurang nyaman, dengan situasi yang terjadi antara dia dan Rendi sekarang.
...****************...
Assalamualaikum para readers kiuuu 😊😁
__ADS_1
Maaf yah, kalau ceritanya kurang menarik, hehe 😅 Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁🥰