Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Hukuman dari Pak Doni


__ADS_3

"Ck, ini semua tuh gara-gara Nia." Ucap Rendi, sehingga membuat Vino dan Rangga mengerutkan alis, bingung.


"Kok gara-gara Nia?" Tanya Vino.


"Semalem tuh bocah ngajakin gue main PS, dan yang kalah harus nurutin kemauan yang menang."


"Dan lo kalah?" Potong Vino.


"Hmm..."


"Wah, jago juga Adek lo." Ucap Vino lagi.


"Lalu apa yang dia minta?" Tanya Rangga.


"Waktu gue tanya dia mau minta apa sama gue, dia bilang masih mau mikir-mikir dulu. Tau-tau tadi pagi, waktu gue mau pake seragam buat ke sekolah, dia tiba-tiba datang dan minta gue buat pake boxer pink motif bunga-bunga yang dia bawa. Terus bakal dia foto buat kenang-kenangan katanya, aneh-aneh aja tuh anak."


"Terus lo mau-mau aja gitu?" Tanya Vino.


"Ya kagak lah, ya kali gue mau pake begituan, difotoin lagi."


"Terusss, itu lo pake."


"Terpaksa." Ucap Rendi dengan kesal.


"Maksudnya?" Tanya Vino.


"Hhuuffftt... Waktu gue nolak, dia terus maksa sampe pengen nangis gitu. Yaudah, karena gue nggak tega, terpaksa deh gue ambil boxernya terus gue pake. Terus setelah itu dia fotoin gue, terus balik ke kamarnya. Nha, pas setelah dia keluar kamar, gue liat jam di dinding udah lewat jam 6. Yaudah gue buru-buru pakai seragam dan apesnya, gue malah lupa ganti boxernya sama boxer yang udah gue ambil di lemari. Dan gue baru inget, saat udah ada di jalan. Karena males buat balik lagi, yaudah gue pake aja terus boxernya. Lagian juga nggak keliatan, jadi gue pikir aman-aman aja. Siapa yang nyangka, kalau bakal ada kejadian kayak tadi." Jelas Rendi.


"Sabar Ren, ini ujian." Ucap Vino mendramatisir. Rendi hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.


"Tapi gue masih penasaran sih, siapa yah yang kira-kira udah naruh lem di kursi lo?" Tanya Vino, dan dibalas Rendi dengan mengangkat kedua bahunya.


"Tapi yang bikin gue bingung, kok gue nggak ngerasain apa-apa yah waktu ngedudukin tuh kursi. Nggak ada sensasi panas atau apanya gitu." Bingung Rendi.


"Kayaknya tuh orang pakai lem khusus deh." Ucap Vino.

__ADS_1


"Lem khusus?"


"Iya, khusus buat ngerjain lo, hahaha..." Ucap Vino, dan tertawa ngakak kemudian. Sehingga membuat Rangga geleng-geleng kepala mendengarnya. Sedangkan Rendi, suasana hatinya yang masih belum membaik menjadi kesal pada sahabatnya itu.


"Aaauuuwwwhhh...Sakit ege!" Keluh Vino, sambil mengusap jidatnya yang baru saja dilempar sendok oleh Rendi.


Sedangkan di tempat lain, seorang pria sedang tersenyum lebar. Karena rencananya untuk mengerjai Rendi berhasil.


"Ini baru pemanasan, jadi sebaiknya lo persiapin diri buat permainan sesungguhnya." Ucap orang itu dengan tersenyum devil.


***


Keesokan harinya.


"****! Buku tugas gue mana?" Umpat Rendi saat tidak menemukan buku tugasnya dalam tas.


"Woy, kenapa lo?" Bisik Vino yang ada di belakangnya.


"Buku tugas gue nggak ada."


"Nggak ada, atau lo nggak bawa?"


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Sasya saat melihat Rendi dan Vino saling berbisik.


"Bukan urusan lo." Ketus Rendi, sehingga membuat Vino dan Rangga tersenyum lebar melihatnya. Sedangkan Sasya memasang wajah murung ditempatnya, merutuki kebodohannya yang kemarin sudah membuat sang pacar marah.


"Gimana, udah ketemu?" Tanya Vino lagi.


"Belum." Jawab Rendi dengan wajah frustasi. Gimana tidak, guru yang memberinya tugas adalah Pak Doni, guru paling galak dan tegas kalau ngasih hukuman. Apalagi bagi mereka yang tidak mengerjakan tugas.


"Wah, lo bisa dihukum kalo nggak ngumpulin tugas. Tau sendiri kan Pak Doni orangnya kayak gimana."


"Itu dia yang bikin gue pusing sekarang. Pak Doni kalau ngasih hukuman suka nggak kira-kira."


Baru saja Rendi selesai berbicara, suara Pak Doni sudah mulai terdengar.

__ADS_1


"Siapa lagi yang belum mengumpulkan tugas?" Seru Pak Doni dengan suara baritonnya, membuat Rendi menelan salivanya dengan susah payah. Sedetik kemudian, Rendi mengalihkan pandangannya ke seluruh kelas, dan ternyata semuanya sudah mengumpulkan tugas mereka, itu berarti hanya dia seorang yang tidak mengumpulkan tugasnya. Dengan keberanian yang ada, Rendi pun mengangkat tangannya.


"Saya Pak."


"Siapa nama kamu? Saya lupa." Ucap Pak Doni dengan tenang.


"Rendi Pak." Jawab Rendi.


"Oohhh..." Ucap Pak Doni masih dengan tenang, seperti tidak terjadi apa-apa


Beberapa menit sudah berlalu, tapi Pak Doni masih anteng-anteng aja dikursinya. Tidak menunjukkan wajah kesal ataupun marah seperti biasanya, jika ada yang tidak mengerjakan tugas. Bukannya merasa senang dan lega, Rendi justru merasa khawatir, karena tidak biasanya Pak Doni seperti itu. Rendi membalikkan badannya saat merasa ada yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Selamat bro, kayaknya ini hari keberuntungan lo. Gue pikir tadi Pak Doni bakal mencak-mencak sambil teriak-teriak marahin lo, ternyata ekspektasi gue terhempas kenyataan. Pak Doni nya malah anteng-anteng aja dikursinya." Bisik Vino.


"Jangan lupa, air yang tenang terkadang bisa menghanyutkan dan menenggelamkan." Ucap Rangga tiba-tiba, tentunya dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Pak Doni.


"Nha, itu. Bukannya tenang, gue justru makin khawatir sekarang, ngeliat reaksi Pak Doni yang begitu tenang."


"Atau jangan-jangan, Pak Doni diam-diam begitu, karena lagi mikirin hukuman yang pas buat lo." Tebak Vino. Rendi baru akan membalas ucapan Vino, saat bariton Pak Doni kembali terdengar.


"Buka halaman buku kalian, dan kerjakan tugas dihalaman 146-147." Baru saja Rendi akan menghela nafas lega, karena mengira Pak Doni tidak memberikannya hukuman, suara Pak Doni kembali terdengar.


"Kecuali kamu Reni!" Semua murid terdiam dan terlihat kebingungan, karena tidak ada yang bernama Reni dalam kelas mereka.


"Maaf Pak, tapi dikelas ini nggak ada yang namanya Reni." Ucap Bimo sang ketua kelas, memberanikan diri untuk bertanya.


"Yang tidak mengumpulkan tugasnya tadi." Ucap Pak Doni.


DEG...


Perasaan Rendi menjadi tidak enak, mendengarnya. Alamat tetap dapat hukuman ini mah, pikirnya. Sedangkan Vino sudah cekikikan di belakangnya, saat mendengar ucapan Pak Doni lagi.


"Reni, kamu ikut saya." Ucap Pak Doni dengan menunjuk Rendi, membuat yang lainnya sibuk menahan tawa. Sedangkan Rendi hanya bisa menghela nafas mendengarnya, mau marah pun mana berani. Yang ada dia yang bakal disemprot sama Pak Doni.


...****************...

__ADS_1


Assalamualaikum para readers kiuuu 😊☺️


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh πŸ˜πŸ˜…πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2