Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Curhat


__ADS_3

"Masa sih? Kalo dia memang benar adiknya Dokter Miko, itu artinya dia anak konglomerat. Soalnya si Miko ini anak dari pemilik RS tempat gue kerja, malah yang gue denger nih, katanya sebentar lagi itu RS bakal jadi milik dia." Ucap Dokter Kevin.


***


Dokter Kevin sudah pulang beberapa saat yang lalu, tapi ucapannya tentang Mitha masih terus terngiang di kepalanya.


"Sebenarnya lo itu siapa sih? Bener kata Kevin, lo itu istri gue tapi gue nggak tau apapun tentang lo. Bahkan tempat tinggal lo aja gue nggak tau dimana?" Gumam Rendi dengan pelan, sambil memandang wajah Mitha. Karena saat ini dia sedang berbaring di samping Mitha yang masih belum sadar. "Apa bener yah kalau selama ini sikap gue udah terlalu keterlaluan sama dia?" Gumam Rendi lagi, masih sambil memandang wajah Mitha.

__ADS_1


"Lo itu sebenarnya nggak salah, tapi gue selalu bersikap jahat dan buruk sama lo. Kita hanya dipertemukan diwaktu dan tempat yang salah. Lo gadis yang baik, tapi maaf hati gue bukan buat lo. Sebenarnya dihari gue udah ada orang lain, dia cinta pertama gue, wanita yang nemenin gue selama 2 tahun. Wanita pertama yang bikin hati bergetar saat melihatnya, wanita pertama yang selalu bikin gue tersenyum. Tapi akhirnya dia juga yang bikin gue sakit hati. Disaat gue lagi sayang dan cinta-cintanya sama dia, tiba-tiba dia pergi ninggalin gue gitu aja tanpa pamit atau apapun. Gue udah nyari dia kemana-mana, tapi dia seakan hilang ditelan bumi. Tapi sialnya, walaupun dia udah menghilang, tapi perasaan gue buat dia nggak pernah bisa hilang. Bahkan senyumnya, tawanya, suaranya, terkadang masih terngiang di kepala gue. Bahkan walaupun gue udah memacari dan mengencani banyak wanita, tapi nggak ada yang bisa bikin gue lupa sama dia. Gue juga udah berusaha buat buka hati untuk cewek lain, tapi sampai sekarang belum ada yang bisa gantiin posisi dia dihati gue. Walaupun Gue ingin membencinya, tapi rasa cinta gue terlalu besar buat dia. Bahkan setelah yang dia lakukan, gue masih berharap dia kembali. Gue... Gue merindukannya, sangat-sangat merindukannya. Walau pun dia udah bikin gue sakit hati, udah ninggalin gue gitu aja dan udah bikin gue kecewa, tapi gue masih cinta sama dia. Teman-teman gue bilang, kalau gue ini cowok yang bodoh karena masih mengharapkannya. Gue tau kok kalau gue ini bodoh, masih ngeharapin orang yang udah ninggalin gue, yang udah bikin gue kecewa dan sakit hati. Tapi gue juga nggak bisa bo'ongin diri gue sendiri, kalau gue masih cinta sama dia. Hehe... Kok gue jadi curcol gini sih sama lo, tapi nggak papa deh, gue emang lagi buruh tempat curhat. Lagian lo kan pingsan, jadi nggak bakalan denger." Curhat Rendi, masih dengan menatap Mitha. Melihat ada beberapa helai rambut yang mengenai wajah Mitha, Rendi pun sedikit bangkit dari baringnya dan memiringkan badannya ke arah Mitha.


Nggak usah heran kenapa bisa ada rambut Mitha diwajahnya, padahal dia itu memakai hijab. Jadi setelah beberapa saat Dokter Kevin pergi, Rendi membuka hijab Mitha, supaya Mitha lebih nyaman istirahatnya. Sempat ragu untuk membukanya, tapi ujung-ujungnya di buka juga oleh Rendi. Dan Rendi sempat terpana melihat wajah Mitha dengan rambut yang tergerai indah, panjang, hitam, dan... wangi. Hampir saja Rendi jadi khilaf, apalagi dengan jarak sedekat ini dia bisa mencium aroma tubuh Mitha yang membuatnya merasa tenang. Dan jangan lupakan bibir ranum milik Mitha yang berwarna pink alami, Rendi sampai menelan ludahnya dengan susah payah saat melihatnya.


"Haiiisshhh..." Geram Rendi dengan rendah, sambil menjauhkan tubuhnya dari Mitha, saat sebuah pikiran merasuki otaknya. "Astaga, mikir apa sih gue." geramnya lagi sambil memukuli kepalanya sendiri. "Sadar Ren, walaupun kalian udah halal tapi bukan berarti lo bisa seenaknya nyentuh dia. Apalagi dalam keadaan dia nggak sadar gini, terlebih lagi lo nggak cinta sama dia. Kalau lo nyentuh dia cuman karena nafsu, itu sama aja lo nggak ngehargain dia, jadi stop buat mikir yang enggak-enggak." Monolog Rendi pada dirinya sendiri. Setelah merasa lebih tenang, Rendi kembali mendekati Mitha.


"Lo itu sebenarnya cantik Tha, cuman selama ini ketutup sama penampilan lo yang cupu. Lo tenang aja, gue bakal segera cari cara supaya kita bisa segera pisah. Dan kita bisa mencari kebahagiaan kita masing-masing, gue tau lo juga udah nggak betah kan jadi istri gue." Ucap Rendi pelan, sambil menyingkirkan helai rambut Mitha yang sedikit mengenai wajahnya.

__ADS_1


"Seharusnya sekarang gue lagi ngumpul sama teman-teman gue di tempat pesta, tapi karena lo pingsan dan gue harus nemenin lo pingsan dan gue harus nemenin lo disini, gue jadi nggak bisa pergi." Alibi Rendi, karena yang sebenarnya dia bisa saja pergi meninggalkan Mitha, tapi tidak dia lakukan. Entahlah, dia hanya merasa tidak tega meninggalkan Mitha dalam keadaan seperti ini. "Ngantuk gue, baring bentar kali yah baru balik ke kamar gue." Rendi pun memejamkan matanya, niatnya yang tadi hanya ingin baringan malah kebablasan sampai ketiduran disamping Mitha.


Merasa tidak ada suara dan pergerakan lagi dari orang disampingnya, setetes air mata jatuh diwajah Mitha. Dengan perlahan dia membuka matanya, dan menatap Rendi yang tertidur di sampingnya.


"Dasar bodoh." Gumam Mitha pelan sambil memandangi wajah Rendi.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Assalamualaikum semuanya 😁😅 Kira-kira Mitha nangis kenapa yahhh🤔🤔🤔


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁🥰


__ADS_2