Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Berangkat bareng


__ADS_3

Saat dimeja makan dan bersiap sarapan, Rendi baru menyadari kalau dia sudah dibohongi oleh Bundanya. Padahal tadi dia sudah sangat buru-buru, ternyata dia di prank oleh Bundanya sendiri. Dengan wajah ditekuk, Rendi pun memulai sarapannya. Bunda lalu mengajak Rendi berbicara.


"Ren, nanti jangan langsung berangkat ke sekolah yah."


"Memang kenapa Bun?"


"Habis sarapan, nanti kamu jemput istri kamu, terus kalian berangkat bareng ke sekolahnya." Ucap Bunda.


"Nggak ah Bun, nggak usah. Ngapain sih jemput-jemput segala, emang aku supirnya dia apa." Ucap Rendi keberatan.


"Bukan supir tapi suami." Ralat Ayah Herman.


"Tau nih, Kak Rendi. Disuruh jemput istri sendiri nggak mau, kalo jemput pacar aja, cepet. Sama yang udah halal malah ogah-ogahan." Ucap Nia.


"Nggak usah sok tau deh Dek, mending kamu abisin tuh sarapan kamu, terus berangkat ke sekolah sana."


"Ckk, dibilangin juga."


"Tapi apa yang dibilang sama Adek kamu itu bener lho sayang, masa jemput pacar mau, tapi sama pasangan halal kamu nggak mau, gimana sih. Pokoknya Bunda nggak mau tau, setelah sarapan kamu jemput istri kamu, biar kalian berangkat bareng ke sekolahnya."


"Tapi Bun..."


"Nggak ada tapi-tapian."


"Yaudah ok, tapi gimana aku mau jemput dia kalau alamat rumahnya aja aku nggak tau."


"Kamu nggak usah pikirin itu, biar itu jadi urusan Bunda."


"Terserah Bunda ajalah." Pasrah Rendi.


Drrtt... drrtt...


Disaat tengah sarapan, tiba-tiba hp Mitha bergetar. Ternyata ada pesan yang masuk, Mitha diam membeku menatap pesan yang ada di hpnya.


"Kenapa Dek?"


"Hah? Enggak Kak, nggak papa. Mmm... Kak, kayaknya aku berubah pikiran deh. Aku mau ke sekolah aja."


"Yakin?"


"Iya Kak."

__ADS_1


"Mau dianter?" Mitha menggeleng cepat.


"Nggak usah Kak."


"Yaudah, Kakak udah selesai sarapan, Kakak mau berangkat dulu yah."


"Iya Kak."


"Oh yah, inget, kalo ada apa-apa, kamu segera hubungin Kakak yah." Pinta Miko.


"Iya Kak."


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Setelah itu Mitha pun menc*um tangan Kakaknya, setelah memastikan Miko sudah berangkat, Mitha pun bergegas menghabiskan sarapannya, dan berlari ke garasi untuk mengambil sepedanya. Mitha buru-buru seperti itu, karena tadi dia mendapat pesan via wa dari Bunda kalau Rendi akan menjemputnya untuk ke sekolah bareng. Makanya sekarang dia buru-buru keluar rumah dan mengayuh sepedanya menuju kedepan komplek perumahan sederhana yang tidak begitu jauh dari rumahnya.


Hal itu dilakukannya agar Rendi berpikir kalo rumahnya berada didalam komplek perumahan tersebut. Bukan bermaksud untuk menyembunyikan alamat rumahnya dari Rendi, hanya saja dia belum siap jika Rendi tau kalo sebenernya dia adalah anak orang kaya. Karena selama ini anak-anak disekolah, taunya dia anak kurang mampu, kecuali teman-teman terdekatnya saja yang tau kalo sebenernya dia anak orang kaya. Dan Mitha yakin kalo Rendi pun, juga pasti berpikir kalo dia anak kurang mampu. Sebenarnya Mitha bisa saja memberitahu semuanya pada Rendi, karena walau bagaimanapun, mereka kan sudah menikah. Tapi entahlah, Mitha merasa belum siap saja untuk memberitahukannya.


Setelah sampai didepan komplek perumahan itu, Mitha segera bergegas ke warteg depan komplek perumahan itu, untuk menitipkan sepedanya. Sebelum pergi, Mitha memberikan uang pada pemilik warteg, agar sepedanya dijaga dengan baik. Tidak lama setelah itu, mobil Rendi pun datang dan berhenti tepat disamping Mitha.


"Masuk." Ucap Rendi singkat, tanpa turun dari mobil.


"Iya."


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam. Eh, ngapain lo disitu? Pindah kedepan, udah berasa kayak supir gue, lo disitu." Perintah Rendi, saat Mitha baru saja mendaratkan pa*tatnya dikursi penumpang belakang. Tanpa banyak kata, Mitha pun pindah kesamping Rendi. Setelah melihat Mitha selesai memasang sabuk pengaman, Rendi pun melajukan mobilnya menuju ke sekolah.


"Lo tinggal di daerah sini?" Tanya Rendi, saat mobil sudah melaju.


"Iya." Jawab Mitha, yang tidak sepenuhnya berbohong.


"Jadi bener kalo dia dari keluarga kurang mampu, pantes aja dia selalu naik sepeda ke sekolah." Batin Rendi, karena mengira kalo Mitha tinggal di komplek perumahan tadi, dan berpikir kalo Mitha memang dari keluarga kurang mampu. Karena sedikit banyak Rendi tahu, kalo di komplek perumahan itu dominan penghuninya kelas menengah ke bawah.


"Tapi kayaknya keluarga dia nggak semiskin itu deh, soalnya waktu itu Kakaknya punya mobil. Dan mereka juga punya pembantu, apalagi kakeknya juga bisa berobat ke luar negeri. Ohh... Mungkin dia dari keluarga menengah kali yah." Batin Rendi menerka-nerka. Sepanjang perjalanan ke sekolah, baik Mitha ataupun Rendi, semuanya sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga tiba-tiba Rendi menghentikan mobilnya saat jarak ke sekolah tinggal 100 meter lagi. Belum sempat bertanya kenapa Rendi tiba-tiba menghentikan mobilnya, Rendi sudah bersuara lebih dulu.


"Gue udah punya pacar." Ucap Rendi dengan singkat dan jelas, setelah mengatakan itu, Rendi melirik Mitha dengan ujung matanya, dia ingin melihat bagaimana reaksi Mitha.


"Lalu?" Ucap Mitha, setelah terdiam sebentar.


"Lo nggak marah?" Tanya Rendi yang melihat ekspresi Mitha tampak tenang saja. Padahal Rendi pikir Mitha bakal menangis dan marah-marah, atau bahkan menyuruhnya untuk memutuskan pacarnya. Tapi ini tidak, Mitha terlihat biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Nggak."


"Yakin nggak bakalan marah?"


"Emangnya kalo aku marah-marah dan mencak-mencak disini, kamu bakalan mutusin pacar kamu itu?" Tanya Mitha.


"Yaenggak lah, lo setuju atau nggak, itu urusan lo. Gue tetep bakalan pacaran sama cewek gue."


"Terus ngapain tadi nanya-nanya?" Mitha yang sedari tadi melihat kearah depan langsung memiringkan badannya kearah Rendi.


"Pengen aja." "Pengen liat reaksi lo aja." Lanjut Rendi dalam hati. "Tapi beneran kan kalo lo nggak keberatan?"


"Hmm..."


"Baguslah."


"Mangnya kenapa?"


"Ya gue nggak mau lah, kalo sampai nanti lo bikin drama baru di sekolah. Karena gue masih pacaran setelah nikah."


"Tenang aja, nggak akan."


"Beneran yah, gue pegang kata-kata lo."


"Hmm..."


"Satu lagi, lo nggak boleh ngadu soal hal ini sama orang tua gue atau sama orang tua lo, ngerti?"


"Ngerti."


"Nih cewek bisa dipercaya nggak yah? Tapi dari cara bicaranya yang biasa-biasa saja, dan tenang begitu, gue rasa sih dia bisa dipercaya. Kayaknya dia juga nggak suka dan tertarik sama gue, buktinya dia setuju-setuju aja kalo gue masih punya pacar." Batin Rendi.


"Kalo lo mau punya pacar juga nggak apa-apa, gue nggak keberatan kok. Asal lo nggak ngelakuin hal-hal yang bisa bikin gue malu, dan dapat masalah. Lo bebas ngelakuin apapun yang lo mau, ok?"


"Hmm..." Lagi-lagi Mitha hanya membalasnya dengan deheman, dan itu membuat Rendi sedikit terganggu.


"Bisa nggak jawabnya nggak usah pake hahem hahem mulu, nggak ada kata-kata lain apa?"


"Hemmm..." Balas Mitha, hingga membuat Rendi jadi menggeram kesal.


...****************...

__ADS_1


Assalamualaikum para readers semuanya...😊😁 Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅 Like, komen, dan votenya, author tunggu yahhh....🥰🥰🥰


__ADS_2