
Sandra menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Sean. Perempuan itu keluar dari rumah besar itu dengan kondisi yang menyedihkan.
Model cantik itu sungguh tidak menyangka kalau keputusannya menerima pekerjaan dari Maya justru menjadi boomerang baginya.
Tadinya, Sandra pikir, Sean akan menerima semua keputusannya seperti biasa. Sandra juga berpikir, Nathan akan baik-baik saja meskipun dirinya diasuh oleh asisten rumah tangganya.
Nathan adalah syarat yang diminta kedua orang tua Sean agar mereka tidak menikahkan Sean dengan perempuan lain. Oleh karena itu, Sandra pikir, asalkan sudah ada anak yang nantinya akan menjadi pewaris keluarga Ibrahim, semua akan baik-baik saja. Setelah itu, dia bisa kembali bekerja seperti biasanya.
Namun, bodohnya Sandra karena dia tidak berpikir panjang. Seharusnya dia tidak kembali bekerja di saat situasinya belum normal. Nathan masih seringkali rewel dan sangat membutuhkan ASI yang cukup. Sementara itu, Kanaya sudah pergi karena tugasnya melahirkan anak sudah selesai.
Sandra yang tidak mempunyai pengalaman dan ikatan batin dengan Nathan, menganggap kalau hal itu bukanlah masalah besar. Model cantik itu berpikir, kalau Nathan akan baik-baik saja walaupun hanya minum susu formula. Sandra lupa, selain minum susu, Nathan juga membutuhkan kasih sayang darinya. Apalagi, dirinya sudah mengklaim sebagai ibu Nathan, yang artinya, dia wajib memberikan kasih sayang terhadap anak itu seperti anak kandungnya sendiri.
Memang benar kata Sean. Seharusnya, dia bersabar sedikit lagi kalau memang memutuskan untuk bekerja kembali. Namun, gara-gara bujukan Maya, Sandra akhirnya setuju untuk kembali terjun ke dunia modelling.
Maya mengatakan, kalau dirinya terlalu lama vakum, para penggemarnya pasti akan berpaling. Setiap harinya, akan ada banyak model baru yang pasti akan menggeser posisinya.
Semua ucapan Maya yang menurutnya sangat masuk akal akhirnya membuat Sandra setuju menandatangani beberapa kontrak kerjasama dengan beberapa klien yang membutuhkan jasanya.
Tak disangka, keputusannya itu justru membuat Sean marah dan akhirnya memutuskan untuk tidak mempedulikannya lagi. Bukan hanya Sean saja yang membuat Sandra bersedih. Tetapi, perlakuan Rosie yang menginginkan Sean bercerai dengannya juga membuat Sandra semakin patah hati.
Dulu, Sean pasti akan langsung membela Sandra jika Rosie dan Ibrahim selalu menyudutkan istri cantiknya. Laki-laki itu juga akan menjadi penengah jika kedua orang tuanya sudah mulai membahas tentang pekerjaan Sandra.
Namun, kali ini Sean hanya diam saat kedua orang tuanya itu memarahi Sandra. Laki-laki yang masih berstatus sebagai suami Sandra itu bahkan menyetujui semua ucapan Rosie yang menyuruhnya berpisah dengan Sandra.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kalau diawal itu namanya pendaftaran.
Sepertinya, itu adalah ungkapan yang tepat untuk Sandra.
Suara dering ponsel di dalam tas mewahnya membayarkan lamunan Sandra. Perempuan itu menepikan mobilnya. Mengeluarkan ponsel keluaran terbaru dari tasnya.
__ADS_1
Maya is calling tertera pada layar ponselnya.
"Halo."
"Kamu di mana? Hari ini jadwal pemotretan di hotel xx. Kamu tidak lupa bukan?" Suara Maya terdengar di seberang telepon.
"Aku dalam perjalanan ke sana. Kamu tunggu saja, sebentar lagi aku sampai." Sandra menjawab ucapan Maya sebelum akhirnya menutup panggilan telepon itu secara sepihak.
Entah kenapa, semenjak dirinya mengikuti semua saran dan nasihat dari Maya, kehidupan rumah tangganya bukannya harmonis, tetapi, malah semakin kacau.
Saran dari Maya tentang rahim pengganti yang katanya nanti akan membuat mertuanya semakin menyayanginya pun hanya omong kosong belaka. Jangankan sayang, akibat perbuatannya yang telah membohongi mereka, kini, Sandra gadis kehilangan semuanya.
Sungguh benar-benar berbanding terbalik dari apa yang sudah diprediksi oleh Maya. Bukan hanya itu saja, rayuan Maya yang menyuruhnya untuk menandatangani kontrak kerja dengan beberapa klien pun kini menjadi boomerang baginya.
Ah! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?
Sandra memukul setir, menyadari kalau semua yang dia lakukan dulu dan sekarang adalah saran dari Maya, sang manager yang merupakan sahabat baiknya setelah Kanaya.
Sandra menghela napas panjang, kemudian kembali melajukan mobil ke arah hotel untuk melakukan pemotretan.
***
Maya menunggu kedatangan Sandra dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Wanita itu saat ini sedang berada dalam sebuah kamar hotel bersama tiga orang pria.
Mereka adalah klien yang akan memakai jasa para model cantik yang direkomendasikan oleh Maya, termasuk Sandra.
Maya dan orang-orang itu mengadakan pertemuan di kamar hotel itu untuk membahas masalah pekerjaan.
Para klien itu ingin bertemu secara langsung dengan Sandra, untuk memastikan apa model cantik yang direkomendasikan oleh Maya itu memang pantas bekerjasama dengan mereka.
__ADS_1
"Kamu yakin, dia akan datang?" Salah seorang dari tiga lelaki itu menatap Maya yang masih tersenyum cantik.
"Kalau dia tidak datang, manager cantiknya juga bisa dijadikan pengganti." Satu temannya menimpali. Kedua matanya menatap Maya dari atas sampai ke bawah dengan tatapan lapar.
"Sebentar lagi dia sampai. Kalian tenang saja. Sandra itu sangat penurut. Obsesinya untuk menjadi terkenal sangat tinggi, hingga terkadang membuatnya lupa diri." Maya tersenyum cantik. Kedua tangannya bersedekap. Netranya menatap satu persatu pria tampan di depannya itu.
Ketiga pria yang sangat menginginkan Sandra menjadi modelnya. Sandra sungguh sangat beruntung, karena perempuan itu masih mampu bersaing dengan model-model pendatang baru.
Sepak terjang Sandra memang tidak diragukan lagi, hingga membuat beberapa klien yang tertarik, datang sendiri meminang Sandra untuk dijadikan brand ambassador perusahaan mereka.
"Aku akan menuntutmu, jika kamu gagal membawa dia naik ke ranjangku." Seorang pria lainnya menatap tajam ke arah Maya yang wajahnya langsung menegang mendengar perkataan pria itu.
Namun, detik berikutnya, Maya kembali tersenyum, menyembunyikan kegugupannya.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Maya bergegas membuka pintu kamar hotel itu. Senyumnya mengembang saat perempuan cantik yang sedang ditunggunya itu kini berdiri di hadapannya.
"Ayo masuk, Sandra. Mereka sudah lama menunggumu." Maya tersenyum manis pada Sandra. Tangannya merangkul bahu model cantik yang beberapa tahun ini ada dibawah naungannya.
Sandra tersenyum manis, menyalami satu persatu ketiga pria yang berwajah cukup tampan di hadapannya.
"Ternyata aslinya lebih cantik ya, senang berkenalan dengan Anda." Salah satu pria yang memperkenalkan diri dengan nama Hans menyalami Sandra, kemudian tanpa diduga mencium punggung tangannya.
Sandra yang terkejut, segera menarik tangannya. Kedua matanya melirik ke arah Maya yang tersenyum padanya.
"Kamu pasti haus, aku sudah menyiapkan minuman untukmu." Maya yang melihat Sandra merasa tak nyaman, langsung mengalihkan pembicaraan.
Perempuan cantik itu memberikan segelas jus mangga kesukaan Sandra.
"Minumlah!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....