Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 80 LEPASKAN KANAYA


__ADS_3

Sean menatap ayah mertuanya dengan tak percaya. Kepalanya menggeleng pelan. Sean mencintai Kanaya, tidak mungkin dia akan melepaskan Kanaya begitu saja.


"Aku tidak mau menceraikannya, Ayah. Kanaya baru saja melahirkan. Aku tidak mau–"


"Perjanjian kalian sudah berakhir. Bukankah kalian memang harus bercerai setelah Kanaya melahirkan?" pungkas Danu sambil menatap tajam ke arah Sean yang tampak terkejut.


"A–Ayah sudah tahu?" Kedua mata Sean membola. Kalau ayah mertuanya ini sudah tahu tentang pernikahannya, apa itu berarti Kanaya ada di sini dan sudah menceritakan semuanya pada ayahnya?


"Aku tidak menyangka kalau ternyata kamu tidak sebaik seperti yang aku kira selama ini. Aku pikir, kamu benar-benar mencintai putriku tapi ternyata ...." Danu tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Pria paruh baya itu menatap Sean dengan raut wajah kecewa. Merasa dikhianati oleh orang yang selama ini sangat ia percayai untuk menjaga putri tercintanya.


"Aku benar-benar kecewa sama kamu, Sean!" Danu masih berbicara dengan tenang meskipun rasanya ia ingin sekali memaki pria yang masih menjadi menantunya itu. Kedua tangannya bahkan sudah mengepal erat ingin menghajar laki-laki itu.


"Maafkan aku, Ayah. Maaf!" Sean mendekati Danu, bermaksud ingin meminta maaf dan bersimpuh di kaki laki-laki paruh baya itu. Namun, Danu dengan segera menahan Sean dengan mengangkat tangannya.


"Diam di sana, Sean! Aku tidak butuh permintaan maafmu!" teriak Danu. Kali ini ia tidak bisa menahan amarahnya lagi. Riyanti yang mendengar teriakan Danu, segera menghampiri laki-laki itu.


"Sabar, Mas. Ingat jantung kamu," bisik Riyanti sambil mengusap punggung lelaki yang telah menjadi suaminya selama beberapa tahun.


Danu menghela napas panjang. Netranya beralih pada Riyanti yang terlihat begitu mengkhawatirkannya. Api amarah Danu seketika padam. Ia masih mengingat semua ucapan istri dan anaknya sebelum Sean datang.


"Kamu jangan lepas kendali, Mas. Ingat, kesehatan kamu lebih penting. Jangan biarkan pengorbanan Kanaya sia-sia," peringat Riyanti. Perempuan itu menatap Danu sambil terus mengusap punggung pria itu.

__ADS_1


Danu mengangguk mendengar ucapan sang istri tercintanya. Pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam rasa sesak yang perlahan mengalir di dadanya. Melihat Sean di depan matanya, membuat Danu mengingat Kanaya.


"Selama ini kamu pasti sangat menderita. Maafkan ayah karena ayah tidak tahu kalau pernikahan kamu ternyata hanya sebuah kebohongan demi menolong ayah," ucap Danu dalam hati.


"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak bermaksud membohongi ayah. Aku hanya ...." Sean tidak melanjutkan kata-katanya. Entah mengapa, lidahnya seolah terasa kelu. Sean tidak mungkin menjelaskan alasannya menikah dengan Kanaya. Namun, ia yakin, tanpa bercerita pun Danu pasti sudah tahu dari Kanaya.


"Maafkan aku, Ayah." Suara Sean kembali terdengar, mengembalikan kesadaran Danu.


"Aku tidak menyangka kalau kalian berdua ternyata tega memanfaatkan kelemahan Kanaya untuk menuruti keinginan tidak masuk akal kalian!"


"Ayah ...." Sean menatap pria paruh baya itu dengan tatapan bersalah. Tidak menyangka kalau ayah mertuanya itu mengetahui rahasia yang disimpannya bersama Kanaya.


Beruntung, ayah mertuanya itu tidak kambuh penyakitnya.


Sementara Sean menggeleng. "Aku tidak mau menceraikan Kanaya, Ayah. Aku mencintainya. Kanaya adalah ibu dari putraku. Saat ini putraku sangat membutuhkan ibunya."


Kata-kata yang diucapkan oleh Sean membuat Danu dan Riyanti saling berpandangan.


"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan, Sean? Kamu bilang kamu mencintai Kanaya? Kalau kamu mencintai putriku, istri tercintamu itu mau kamu kemanakan, hah?" Danu kembali terpancing emosi.


"Mas, tenanglah!" Riyanti menggenggam tangan Danu dengan erat. Kata-kata Sean memang sangat keterlaluan.

__ADS_1


Bagaimana bisa dia begitu entengnya mengatakan mencintai Kanaya sementara Sean sendiri adalah seorang pria beristri? Laki-laki itu bahkan sepertinya lupa alasan kenapa dia menikahi Kanaya setahun yang lalu.


"Sean, sepertinya kamu lupa alasan kamu menikahi Kanaya." Riyanti yang sedari tadi terdiam akhirnya ikut bicara. Tangannya masih menggenggam erat tangan Danu yang sedang berusaha meredam emosinya.


"Kamu menikah dengan Kanaya karena kamu sangat mencintai istrimu. Kamu mengikuti semua keinginan Sandra karena kamu begitu mencintai dia. Seandainya kamu bisa menolak keinginan gila Sandra untuk menikahi Kanaya, mungkin Kanaya tidak akan pernah menderita seperti sekarang ini. Sekarang, kamu dengan begitu entengnya mengatakan kalau kamu mencintai Naya?" Bibir Riyanti bergetar menahan tangis. Membayangkan bagaimana putrinya menghadapi hari-harinya bersama Sandra dan Sean.


Secara fisik dan sikap, mungkin dua orang itu memang sangat baik. Kanaya bahkan mengatakan kalau Sandra begitu baik padanya. Perempuan itu juga menyuruh Sean agar bersikap adil pada mereka berdua.


Namun, hati Riyanti bagai diiris sembilu tatkala mengetahui kalau Sean ternyata adalah pria di masa lalu Kanaya. Masa lalu yang sampai saat ini membuat Kanaya mau menikah dengan siapa pun karena hatinya sudah terpaut pada lelaki itu.


Riyanti tanpa sengaja menemukan buku catatan Kanaya yang berisi tentang kerinduannya pada Sean. Bahkan di sana juga terlihat jelas foto Sean yang saat itu masih berseragam SMA.


Ternyata dunia begitu sempit. Setelah bertahun-tahun menanti, kenapa Kanaya justru dipertemukan dengan Sean di saat pria pujaannya itu telah dimiliki orang? Parahnya lagi, orang itu adalah Sandra, sahabatnya sendiri.


Ah! Dengan membayangkan berada di posisi Kanaya saja membuat hati Riyanti berdenyut nyeri. Selama setahun ini, Kanaya pasti sangat menderita saat menyaksikan laki-laki yang dicintainya itu bermesraan dengan sahabatnya sendiri.


"Lepaskan, Kanaya, Sean! Biarkan dia bahagia."


"Bu, saat ini cucu ibu sangat membutuhkan Naya, Bu. Dari kemarin, setelah Kanaya pergi, dia menangis semalaman. Aku tahu aku salah, Bu. Tapi Nathan benar-benar membutuhkan ibunya."


"Nathan?"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2