Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 83 PEWARIS


__ADS_3

Sean pulang ke rumah menjelang larut malam. Setelah pulang dari rumah mertuanya, Sean memutar mobilnya tak tentu arah. Ia ingin mencari Kanaya, tetapi, tidak tahu mencarinya di mana.


Pria itu sudah memohon pada ayah dan ibu mertuanya, tetapi kedua orang itu tidak mau memberitahukan di mana istrinya berada. Hal itu membuat Sean pusing kepala. Laki-laki itu benar-benar merasa frustasi karena tidak bisa menemukan Kanaya.


Sean mengembuskan napas panjang berkali-kali. Laki-laki itu terdiam selama beberapa menit di dalam mobil. Merasa kecewa karena tidak bisa menemukan sang istri.


Maafkan ayah, Sayang. Ayah tidak berhasil membawa ibumu.


Sean menatap rumah besar miliknya. Pandangannya tak sengaja mengarah pada mobil mewah di sebelahnya. Sedari tadi ia asyik dengan lamunannya, sampai tidak menyadari kalau ada sebuah mobil yang sangat ia kenal terparkir di halaman rumahnya.


"Itu 'kan mobil papa? Apa papa dan mama ada di sini?" batin Sean. Laki-laki itu sepertinya memang belum tahu kalau sang papa dan mama datang ke rumahnya bahkan saat ini sedang menginap di kamar tamu.


Sean bergegas turun dari mobil. laki-laki itu segera masuk ke dalam kamar di mana ada baby Nathan di sana. Sean mengambil napas lega saat mendapati putranya sedang tertidur pulas. Sementara di sampingnya, terlihat Sandra yang juga ikut tertidur.


Awalnya Sean ingin menanyakan mobil kedua orang tuanya yang terparkir di halaman rumah. Akan tetapi, melihat istrinya tidur pulas, Sean tidak tega membangunkannya.


"Syukurlah dia tidak menangis seperti kemarin," batin Sean. Pria itu mencium baby Nathan sekilas. Pandangannya beralih pada Sandra. Tangannya terulur mengusap kepala perempuan yang sangat dicintainya itu.


Namun, tiba-tiba bayangan Kanaya melintas.


Kenapa aku harus mempunyai perasaan yang sama pada dua perempuan sekaligus? Aku tidak ingin semua ini terjadi, tetapi, aku benar-benar ingin memiliki keduanya.


"Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menyakiti Sandra, tetapi aku juga tidak ingin kehilangan Kanaya. Ya, Tuhan ... apa aku sudah gila?" batin Sean berkecamuk.


Sean menatap Sandra dengan tatapan tak terbaca. Kalau bukan karena ide gila Sandra, apa yang terjadi padanya saat ini, pasti tidak akan pernah terjadi.


Selama ini aku selalu memanjakanmu. Sampai-sampai, keinginan yang tidak masuk akal pun aku lakukan demi kamu. Harusnya aku marah dan membencimu karena kamu telah membuat kekacauan dalam hidupku. Akan tetapi, kenapa rasanya begitu berat untuk membencimu? Biar bagaimanapun, kamu telah bersamaku selama enam tahun ini.


Sean mengecup lembut kening Sandra, sebelum akhirnya berlalu dari hadapan istri pertamanya itu. Sean masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


***

__ADS_1


Rosie merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya pagi ini. Perempuan paruh baya yang terlihat masih segar dan cantik itu sangat marah saat melihat Bi Lasmi memberikan susu formula pada baby Nathan.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memberikan susu formula pada cucuku?" Rosie berteriak marah, sehingga membuat bayi laki-laki yang belum genap berusia satu bulan itu kaget dan menangis.


"Mana Sandra? Kemana dia? Kenapa dia tidak mau menyusui anaknya?" Rosie merebut paksa baby Nathan dari gendongan Bi Lasmi. Kemudian terpaksa kembali memberikan susu botol itu pada bibir mungil Nathan.


Bayi laki-laki itu langsung terdiam. Menyedot dengan rakus susu dalam botol itu. Rosie menatap Bi Lasmi dengan tajam.


"Sejak kapan dia minum susu formula?" tanya Rosie dengan geram. Sementara itu, Bi Lasmi terlihat gemetar. Asisten rumah tangga yang biasa bekerja pada Kanaya itu merasa kebingungan.


"Jawab, Bi! Kenapa kamu diam saja?" Rosie kembali bertanya sambil menahan amarah.


Benar-benar keterlaluan! Bisa-bisanya dia memberikan susu formula pada bayinya yang bahkan belum berusia sebulan. Apa dua tidak tahu kalau ASI itu jauh lebih baik dari susu formula?


Rosie benar-benar merasa kesal pada menantunya. Ia tidak menyangka kalau perempuan itu tidak menyusui cucunya.


Kemarin, karena kelelahan, Rosie hanya menemani baby Nathan sebentar. Setelah itu, Rosie dan Ibrahim beristirahat di kamar tamu dan tertidur.


"I–itu, Nyonya. Su–su dalam botol itu bukan susu formula," jawab Bi Lasmi tergagap.


"Kalau ini bukan susu sapi, kenapa kamu masukkan ke dalam botol? Memangnya Sandra kemana? Kenapa dia tidak mau menyusui bayinya secara langsung!" teriak Rosie. Perempuan itu masih tidak terima.


"Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi kalian sudah ribut?" Ibrahim datang menghampiri sang istri yang terlihat kesal.


"Ini, Pa, lihat! Masa cucu kita dikasih susu sapi." Rosie masih mengomel. Padahal, Bi Lasmi sudah mengatakan kalau itu adalah ASI. Hanya saja, Bi Lasmi tidak mengatakan kalau ASI itu milik Kanaya, ibu yang telah melahirkan baby Nathan.


"Susu sapi?" Ibrahim mengerutkan keningnya. Merasa heran, tetapi, ia tidak puas dengan jawaban istrinya.


"I–itu bukan susu sapi, Tuan. Itu ASI Non–Sandra." Hampir saja Bi Lasmi menyebut nama Kanaya. Untung saja, ia langsung tersadar.


"Bukannya Sandra ada di rumah? Kenapa dia tidak mau menyusui bayinya secara langsung?" Ibrahim kembali merasa heran.

__ADS_1


"Itu dia, Pa. Makanya aku kesal. Bisa-bisanya dia itu–"


"Mama." Suara Sean menghentikan ucapan Rosie. Perempuan paruh baya itu menatap putranya. Sudah setahun lebih Rosie tidak bertemu dengan Sean.


"Sean." Rosie memberikan baby Nathan pada Bi Lasmi, kemudian mendekati putra tercintanya.


Sean dan Rosie saling berpelukan. Ibu dan anak itu saling melepaskan rindu.


"Aku kangen sama Mama."


"Mama juga kangen sama kamu. Dari kemarin mama tidak melihatmu. Memangnya kamu kemana saja?" Rosie melepaskan pelukannya. Menatap wajah tampan putranya.


"Maafkan aku, Ma. Kemarin aku banyak kerjaan. Saat aku pulang, Mama dan Papa sudah tidur." Sean mencium pipi Rosie sambil tersenyum. Pandangannya beralih pada Ibrahim.


"Papa." Sean mendekati sang papa kemudian memeluknya.


"Gimana kabar papa?"


"Seperti yang kamu lihat. Papa baik-baik saja." Ibrahim tersenyum, menepuk bahu Sean.


"Syukurlah! Aku senang, Papa dan Mama akhirnya pulang." Sean menatap kedua orang tuanya.


"Mama kamu tidak sabar ingin cepat pulang saat mendengar istrimu melahirkan." Ibrahim melirik Rosie.


"Terima kasih karena sudah memenuhi keinginan kami. Terutama keinginan mama kamu agar segera memiliki pewaris." Ibrahim kembali menepuk pundak Sean. Kedua matanya bersinar, menyiratkan kebanggaan. Bangga karena sang putra akhirnya melahirkan pewaris keluarga Ibrahim.


"Sean. Kenapa istrimu tidak mau menyusui Nathan? Kenapa kamu membiarkan putramu minum susu sapi padahal Sandra ada di rumah?" Rosie dengan kesal kembali membahas masalah susu yang diminum baby Nathan. Perempuan paruh baya itu menatap putranya dengan tajam.


Sean tampak terkejut mendengar ucapan mamanya. Wajah tampannya menegang. Sementara itu dari arah belakang terdengar suara Sandra yang semakin membuat Rosie naik pitam.


"Sayang ... apa Baby Nathan sudah minum susunya? Semalam, di dalam kulkas, aku lihat masih ada beberapa botol lagi sisa ASI kemarin."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2