Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 43 JAGA PUTRIKU


__ADS_3

"Bila ...." Kedua mata Sean membola saat mendengar ucapan Kanaya.


"Panggil aku Kanaya, aku bukan lagi gadis cupu yang dulu kamu panggil dengan nama itu," sahut Kanaya tegas.


Perempuan itu kemudian kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. Kedua netranya tak lagi menatap atau pun melirik Sean. Kanaya memejamkan mata, menikmati rasa sakit yang kian menjalar ke ruang hatinya.


Sementara itu, Sean menarik napas panjang. Entah apa yang saat ini dirasakan oleh pria itu. Melihat keadaan Kanaya, rasanya ia ingin sekali merengkuh perempuan itu ke dalam pelukannya, tetapi, melihat penolakan Kanaya yang tidak ingin disentuh olehnya, Sean akhirnya hanya diam sambil memperhatikan perempuan yang entah kapan mulai mengisi hatinya tanpa ia sadari.


Sekitar lebih dari tiga puluh menit, mobil Sean sampai di depan rumah Kanaya, diikuti oleh mobil yang dikendarai oleh Gibran.


Suparman keluar terlebih dahulu dari mobil kemudian bergegas membukakan pintu mobil untuk Sean.


Sean keluar dari mobil diikuti oleh Kanaya yang masih terdiam. Perempuan itu tidak mengatakan apa pun setelah ucapan terakhirnya pada Sean di atas mobil tadi.


Sean melangkah beriringan bersama istri keduanya. Kanaya tak menolak saat tiba-tiba Sean meraih pinggangnya agar mereka terlihat mesra di hadapan Danu dan Rianti juga Gibran.


Sepasang suami istri itu masuk beriringan menuju kamar mereka setelah berpamitan pada Danu dan Rianti.


Kanaya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Perempuan itu merasa sangat lelah. Tubuhnya terasa lemas, kepalanya terasa pusing. Sementara hatinya terasa sakit. Lengkap sudah penderitaan yang Kanaya rasakan.


Kanaya memejamkan mata. Perempuan itu merubah posisi tidurnya, membelakangi Sean yang saat ini duduk di tepi ranjang.


Laki-laki itu juga merasa lelah. Apalagi, dia sama sekali belum sempat beristirahat setelah kedatangannya dari Surabaya.

__ADS_1


Sean mengembuskan napas panjang sambil menatap istri keduanya yang sedari tadi hanya diam dan mengabaikannya.


Ada rasa kesal sekaligus kasihan. Kesal karena Kanaya seolah mengabaikan pengorbanannya yang datang dari jauh-jauh hanya untuk menemui perempuan itu.


Seandainya aku tidak merasa kesal dan cemburu dengan status chat Kanaya, aku pasti tidak akan langsung pulang ke sini.


Akan tetapi, seandainya aku tidak pulang, aku pasti tidak akan mengetahui kalau saat ini Kanaya sedang hamil.


Sean kembali mengembuskan napas panjang. Laki-laki itu bangkit saat terdengar suara ketukan pintu. Sean membuka pintu kamar. Senyum Rianti terkembang saat melihat wajah lelah menantunya.


"Kamu makanlah dulu. Ibu udah siapin makan." Suara Rianti membuat Sean tersenyum. Perutnya memang sangat lapar karena semenjak sampai dari Surabaya laki-laki itu belum memakan apa pun.


"Tadi Kanaya sudah menyiapkan semuanya, tapi dia keburu pingsan saat ingin memanggil kamu ke kamar," ucap Rianti masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Maafkan aku karena aku sudah merepotkan Ibu dan Naya." Wajah Sean tampak menyesal mendengar ucapan mertuanya.


"Ayo, kita makan! Biar saja Kanaya istirahat dulu sebentar. Setelah kamu selesai makan, kamu bisa membawakan makanan untuk istrimu."


"Baiklah! Tunggu sebentar, aku mau menemui Kanaya dulu, nanti aku menyusul Ibu ke meja makan," jawab Sean yang langsung diangguki oleh Rianti.


Perempuan paruh baya itu berlalu dari depan kamar putrinya setelah mendengar jawaban Sean. Sementara itu, Sean sendiri kembali masuk ke dalam kamar untuk berpamitan pada Kanaya.


"Naya." Sean kembali memanggil Kanaya dengan sebutan nama yang sekarang karena perempuan itu menolak ia panggil dengan panggilan masa lalunya.

__ADS_1


Laki-laki itu mengusap bahu sang istri dengan lembut.


"Aku akan pergi ke ruang makan. Ibumu mengajakku makan bersama."


"Hmm."


"Setelah aku selesai makan, aku akan membawa makanan untukmu," lanjut Sean yang kembali dijawab dengan gumaman oleh Kanaya.


Perempuan itu masih memejamkan mata. Kanaya merasakan kantuk yang mulai menyerang. Sean mengusap kepala Kanaya, kemudian berlalu meninggalkan kamar.


Sementara itu, Sandra masih terlihat kesal karena sampai sekarang ia tidak bisa menghubungi Sean. Sedari awal perempuan itu melakukan panggilan telepon, tetapi hanya operator saja yang menjawab.


Ponsel Sean tidak aktif. Sepertinya laki-laki itu lupa menyalakan ponselnya kembali setelah ia mematikannya beberapa jam lalu setelah menghubungi Suparman untuk menjemputnya di bandara.


"Apa aku coba hubungi Kanaya saja? Tapi, kalau ternyata Sean tidak ada berada di sana gimana?" Sandra bergumam sendiri.


Berbeda dengan Sandra yang sedang gelisah karena memikirkan Sean yang tidak bisa dihubungi, Sean saat ini justru sedang berkumpul di meja makan dengan kedua mertuanya.


Sean memakan dengan lahap makanan yang kata sang ibu mertua adalah masakan Kanaya. Pria itu mengisi perutnya yang sudah terasa sangat lapar.


"Tolong jaga putriku." Suara Danu menyapa pendengaran Sean setelah mereka selesai makan.


"Tentu saja, Ayah. Aku akan menjaga Kanaya dengan baik," jawab Sean sungguh-sungguh. Sementara Rianti menatap pria itu sambil tersenyum getir.

__ADS_1


*Bagaimana bisa kamu menjaga Kanaya dengan baik, Sean, sementara kamu sendiri sudah mempunyai istri lain yang sangat kamu cintai?


BERSAMBUNG* ....


__ADS_2