Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 109 DIA TIDAK MAU MENEMUIKU


__ADS_3

Sean meninggalkan Sandra di ruang rawat inap. Perempuan itu tetap bersikeras ingin bercerai darinya. Sandra juga tidak ingin Sean menemaninya di ruangan itu.


Tak ingin berdebat dengan Sandra, Sean akhirnya mengalah. Laki-laki itu keluar dari ruangan Sandra.


Entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu. Padahal baru kemarin dia memohon untuk tidak diceraikan olehnya. Tetapi, kenapa tiba-tiba dia meminta cerai?


Apa karena kejadian yang menimpanya hari ini, makanya dia ingin bercerai dengannya? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu tanpa sepengetahuannya?


"Laki-laki brengsek itu." Sean mengepalkan tangannya.


"Aku yakin, laki-laki itu pasti tahu sesuatu, atau jangan-jangan, dia benar-benar sudah menyentuh Sandra karena itu Sandra tidak mau lagi aku sentuh?" gumam Sean. Rahangnya mengeras. Amarahnya yang baru saja mereda, kini kembali meluap.


"Jika benar, dia sudah menyentuh Sandra, aku pasti akan menghabisinya!" Sean mengepalkan tangannya.


Semua ucapan Sandra sebelum Sean meninggalkan ruangan kembali terngiang.


"Bawa Maya padaku, Sean. Aku ingin membalas wanita itu dengan tanganku sendiri."


***


Suara dering ponsel Sean mengagetkan pria yang saat ini sedang marah di hadapan seseorang.


Kemarahannya meredup. Bibirnya tertarik membentuk senyuman kala melihat siapa yang menelepon.


"Sean, apa kamu sudah bertemu dengan Sandra?" Belum sempat Sean menyapa, orang di seberang sana sudah memberondong Sean dengan pertanyaan.


"Aku sudah menemuinya, tapi Sandra mengusirku."


"Apa?" Kanaya berteriak kaget.


"Sandra tidak ingin bertemu denganmu? Bagaimana mungkin?" Suara Kanaya membuat Sean menjauhkan ponselnya.


"Aku juga tidak tahu, Nay." Sean menghela napas panjang. Sorot matanya tertuju pada pria yang saat ini terbaring di atas ranjang pasien.

__ADS_1


Pria yang beberapa saat lalu dihajarnya habis-habisan di depan Sandra. Rahang Sean kembali mengeras. Satu tangannya yang tidak memegang ponsel terkepal.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Seharusnya, saat ini aku bersama dengan Sandra untuk menghiburnya. Tapi, dia tidak mau bertemu denganku." Sean mengembuskan napas panjang, membuat perempuan di seberang sana bertambah khawatir.


"Lalu, kamu tetap pergi meninggalkan dia? Kamu sangat tahu, 'kan kalau Sandra sangat membutuhkan kamu?" Kanaya berucap dengan kesal.


"Aku sudah bersikeras tetap menunggunya di sana. Tapi sandra benar-benar tidak mau aku berada di sana, Sayang." Sean menjawab dengan sabar.


"Daripada kehadiranku membuat lukanya semakin parah, lebih baik aku pergi dari sana." Nada suara Sean terdengar kesal.


Terdengar suara desah napas berat dari ujung telepon. Sean yakin, Kanaya juga sama herannya dengan dia.


Bagaimana mungkin Sandra yang begitu mencintai Sean dan berani melakukan apapun agar terus bersama laki-laki itu tiba-tiba tidak ingin bertemu dengannya?


"Aku yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Sandra, Sean. Kamu tahu sendiri bukan, Sandra sangat mencintaimu. Dia bahkan melakukan apa pun demi bisa bersamamu. Tidak mungkin dia tidak mau menemuimu. Apalagi, keadaan dia saat ini tidak sedang baik-baik saja." Kanaya berucap panjang lebar.


"Jangan lupa, aku juga menikah denganmu karena besarnya cinta Sandra yang tidak ingin kehilangan kamu."


Kata-kata Kanaya selanjutnya membuat Sean tersentak kaget.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Kanaya. Pernikahannya dengan wanita yang sudah memberikannya seorang putra itu memang keinginan dari Sandra karena saat itu dia begitu takut kehilangan dirinya.


Akan tetapi, kenapa tiba-tiba dia meminta cerai?


"Sean, izinkan aku ke rumah sakit untuk menemuinya."


"Sayang–"


"Hanya sebentar saja, Sean. Aku ingin melihat keadaannya," tukas Kanaya.


Perempuan itu memang sangat prihatin mendengar kabar tentang Sandra. Kanaya bahkan sangat cemas pada sahabat baiknya itu.


Sean tampak berpikir. Benda pipih itu masih menempel pada telinganya.

__ADS_1


Suara memohon dari istri keduanya itu terdengar jelas di telinganya. Sean mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengiyakan keinginan Kanaya.


"Baiklah! Besok aku akan menyuruh orang untuk menjemput kamu dan mama."


"Terima kasih, Sean."


"Iya, Sayang–"


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu karena sebutan itu hanya untuk Sandra!"


"Ya ampun, Nay, aku–"


Sean berdecak sebal sambil menggeleng pelan.


Apa-apaan dia ini, giliran maunya sudah dituruti, dia kembali ke mode galak.


Sean menatap layar ponselnya yang menghitam. Wajahnya terlihat kesal, tetapi, tak urung, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


Apalagi, saat dia melihat gambar Kanaya yang sedang menggendong Nathan terpajang pada layar ponselnya yang kembali menyala. Foto itu diambil Sean dengan diam-diam.


Sean memasukkan ponselnya pada saku celananya. Netranya kembali menatap Bagas yang tampak sedang memperhatikannya.


Wajah lelaki itu babak belur. Kedua pipinya membengkak, bibirnya pecah, akibat pukulan Sean yang membabi buta.


"Pria brengsek itu harus bertanggung jawab karena hampir saja mencelakakan Sandra," batin Sean.


Pandangan Sean kembali mengarah pada Bagas yang sedari tadi menatapnya. Pria itu baru saja tersadar, saat Sean tiba-tiba datang ke ruang rawat inap di mana Bagas terbaring saat ini.


"Apa sebenarnya yang telah kamu lakukan pada Sandra, Brengsek?!"


BERSAMBUNG ....


Alhamdulillah, akhirnya otor bisa update kembali setelah beberapa hari nggak bisa update karena sibuk. Terima kasih buat yang masih penasaran dengan kisah Sean dan Kanaya.

__ADS_1


Lope-lope sekebon buat kalian ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2