
Sekali lagi, Sean harus menahan kecewa karena Kanaya kembali menolaknya. Walaupun alasannya kali ini benar, wanita itu menolaknya karena tamu bulanannya datang.
"Sampai kapan kamu menghukum aku seperti ini, Bee?" Sean keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu baru saja selesai membersihkan diri.
Sebenarnya Sean merasa beruntung karena meskipun Kanaya tidak mau melayaninya, perempuan itu tetap bisa memuaskannya dengan cara lain. Sean bahkan tersenyum kecil saat mulut perempuan itu mengatakan kalau dirinya takut dosa, karena biar bagaimanapun, Sean adalah suaminya yang sah di mata agama.
"Udah puas tapi masih merengek juga. Heran aku sama kamu." Kanaya berdecak sebal. Perempuan itu kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Sean tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Belum puas, Bee, kalau belum masuk ke tempat yang seharusnya. Kurang saja rasanya." Sean memeluk perempuan itu dengan erat. Bibirnya menyunggingkan senyum, apalagi saat mengingat bagaimana cara wanitanya itu memuaskan hasratnya.
"Dasar mesum! Apa di otak kamu itu isinya hanya itu saja?" Kanaya mencebik kesal.
"Kan aku kangen, Bee. Wajar dong, kalau aku pengen dipuasin." Sean masih terus menggoda membuat Kanaya semakin kesal.
Laki-laki itu terkekeh. Kemudian mempererat pelukannya.
"Jangan kenceng-kenceng meluknya, aku nggak bisa napas." Kanaya mencoba melepaskan pelukan Sean.
"Habisnya aku gemes sama kamu." Sean menciumi leher istrinya membuat Kanaya semakin kesal.
"Sean!"
Sean kembali tertawa. Laki-laki itu kemudian mengikuti kemauan sang istri saat perempuan itu sudah melayangkan tatapan tajamnya.
"Aku mencintaimu, Bee." Sean merapatkan tubuh Kanaya agar perempuan itu bersandar di dadanya. Laki-laki itu mengangkat kepala sang istri agar tidur di atas lengannya.
Kanaya menurut. Perempuan itu membalikan badan menghadap ke arah Sean. Kedua netranya menatap lelaki itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Sean. Menghirup aroma tubuh Sean yang sangat dirindukannya.
"Besok kita pulang ya. Aku nggak sanggup kalau kaya gini terus. Pikiran aku nggak tenang, Bee." Sean berbisik di telinga Kanaya. Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi, gerakan tubuhnya mengisyaratkan agar dirinya memeluknya dengan erat.
Sean mengecup lembut pucuk kepala istrinya. Laki-laki itu kemudian terdiam, tak melanjutkan lagi ucapannya.
Dia pasti sangat lelah karena mengurus Nathan sendirian.
__ADS_1
Sean mengembuskan napas panjang.
*Kalau dia tidak mau pulang juga, sebaiknya, besok aku sedikit memaksanya. Aku akan mengatakan pada ayah dan ibu untuk membawa Kanaya dan Nathan bersamaku.
Aku yakin, mereka pasti tidak akan keberatan*.
Sean kembali mencium Kanaya. Terdengar deru napasnya yang teratur, menandakan kalau wanita itu sudah tertidur.
"Aku mencintaimu, Bee."
***
Kanaya menggeliatkan badannya. Perempuan itu kemudian membuka kedua matanya secara perlahan. Netranya menatap ranjang di sebelahnya yang sudah terlihat kosong.
Dia sudah bangun sepagi ini?
Kanaya menyipitkan kedua matanya. Pandangannya beralih pada ranjang Nathan yang juga terlihat kosong. Wanita itu meraih ponsel miliknya.
Baru setengah lima pagi, tapi Nathan tidak ada di ranjangnya. Apa ibu sudah membawa Nathan pagi-pagi begini?
Wanita paruh baya itu akan membiarkan Kanaya tertidur beberapa saat sebelum adzan subuh menjelang. Riyanti sangat tahu, betapa lelahnya sang putri mengurus putranya sendirian.
Oleh karena itu, dirinya terkadang membawa Nathan keluar jika bayi itu menangis sementara ibunya masih tertidur pulas karena kelelahan.
Kanaya bangkit dari ranjang. Belum sempat dia menurunkan kakinya untuk melangkah, Sean keluar dari kamar mandi dengan wajah segar.
Kanaya terdiam sejenak menatap wajah tampan suaminya. Merasa terhipnotis melihat tubuh sempurna lelaki yang sangat dicintainya itu.
Sean tersenyum melihat istrinya yang menatapnya tak berkedip. Laki-laki itu mendekat.
"Kenapa, Bee? Kamu suka?" Sean tersenyum jahil.
Kanaya tergagap saat tiba-tiba pria itu sudah berada tepat di hadapannya. Wanita itu bahkan bisa mencium aroma sabun yang keluar dari tubuh Sean.
"Pakai baju dulu." Wajah Kanaya merona. Wanita itu mendongak menatap wajah tampan Sean.
__ADS_1
"Nanti saja pakainya karena aku lihat, istriku sangat menyukainya." Sean dengan jahil mendekati Kanaya.
"Sean!" Kanaya mencubit pinggang suaminya saat melihat pria dengan iseng ingin melepas handuk yang melekat pada pinggangnya.
Sean tertawa melihat kekesalan istrinya. Laki-laki itu melangkah menuju lemari, mengambil baju yang ingin dipakainya.
"Aku pikir kamu sudah berangkat tadi." Kanaya mendekati Sean. Membantu lelaki itu memasang kancing kemeja yang dipakainya.
"Aku menunggumu bangun." Sean tak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu mengecup kening Kanaya yang sedang membantunya memakai baju.
"Aku mau lihat Nathan dulu di kamar ibu." Kanaya bermaksud keluar dari kamar. Tetapi, Sean menarik tangan perempuan itu kemudian memeluknya.
"Nathan tidak ada di kamar ibu," ucap Sean pelan. Sementara Kanaya mengerutkan dahinya. Merasa heran.
"Ayah dan ibu membawa Nathan pulang ke rumah kita."
"Apa?" Kanaya sangat terkejut mendengar ucapan Sean.
"Iya, Bee. Kamu nolak terus aku suruh pindah. Makanya, aku membuat keputusan sendiri untuk membawa Nathan terlebih dahulu." Sean berkata dengan lembut. Ia tahu, perempuan di depannya itu pasti sangat marah karena dirinya mengambil keputusan secara sepihak.
"Maafkan aku, Bee." Sean menangkup wajah Kanaya yang terlihat kecewa.
"Ayah dan ibu sudah menceritakan semuanya. Mereka tidak tega melihat kamu kelelahan mengurus Nathan sendirian. Kamu butuh aku untuk membantu mengurus anak kita, Bee. Aku tidak mau kamu sakit. Begitupun ayah dan ibumu," lanjut Sean.
"Sean–"
"Aku cinta sama kamu Bee. Aku mohon, semua ini demi kebaikan kamu dan anak kita. Kamu nggak mau kan, kedua orang tuamu mengira kalau aku ini laki-laki yang tidak bertanggung jawab?" pungkas Sean.
Kanaya menatap laki-laki di hadapannya dengan wajah kesal. Rasanya, ia ingin sekali marah karena laki-laki di hadapannya itu mengambil keputusan sendiri. Namun, saat Sean mengatakan kekhawatiran kedua orang tuanya, Kanaya akhirnya mencoba meredam kekesalannya.
"Aku mohon, Bee. Ikut aku pulang ya?"
Kanaya tidak menjawab. Perempuan itu menatap Sean dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakan dia?"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....