Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 118 TALAK


__ADS_3

Sandra menatap Sean yang saat ini berada di hadapannya. Sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tidak luruh.


"Baiklah, Sandra. Sesuai keinginan kamu, aku akan menceraikanmu sekarang juga agar kamu merasa tenang saat kamu pergi dari sini." Sean menghela napas panjang. Menatap wanita yang pernah ia perjuangkan mati-matian.


Pagi ini, Sandra tiba-tiba datang ke rumahnya. Seperti biasanya, wanita itu selalu bersikeras setiap menginginkan sesuatu.


Dengan dalih agar merasa tenang saat dirinya pergi, wanita itu memaksa Sean untuk mengucapkan talak saat itu juga. Sandra mengatakan, kalau dirinya akan melakukan perjalanan ke luar negeri karena urusan pekerjaan.


Wanita itu ingin cepat-cepat menjadi janda sebelum dirinya pergi karena urusan pekerjaan. Rosie dan Ibrahim sampai tidak percaya dengan sikap Sandra yang berubah drastis.


Mereka tidak menyangka perempuan yang dulu mati-matian melakukan apa pun demi cintanya pada Sean, kini justru berbalik ingin segera meninggalkan Sean. Sandra bahkan tidak sabar untuk menunggu sidang perceraian mereka yang akan digelar minggu depan.


Kanaya yang juga berada di ruangan itu bahkan merasa sesak napas saat melihat keinginan Sandra. Sebegitu kerasnya perempuan itu ingin berpisah dengan Sean. Apa benar cinta yang dimiliki Sandra untuk Sean sudah hilang?


Kanaya menggeleng pelan. Tidak akan semudah itu menghilangkan cinta yang bersemayam di dalam hati selama bertahun-tahun.


"Cepat, Sean! Aku tidak punya waktu banyak. Sebentar lagi aku akan ke Bandara." Suara Sandra membuat semua orang yang berada di ruangan itu seolah tersadar dari lamunannya.


Sean menarik napas panjang, netranya memindai wajah cantik Sandra sekali lagi, kemudian dalam satu tarikan napas, laki-laki itu pun mengabulkan permintaan Sandra.


"Sandra Milea binti William Rozak, hari ini aku talak kamu. Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku." Suara Sean terdengar tegas.

__ADS_1


Laki-laki itu memejamkan mata, merasakan kelegaan luar biasa. Akhirnya, Sean bisa melepaskan perempuan itu setelah sekian lama bergulat dengan perasaannya.


Sandra tersenyum. Wanita itu mati-matian menahan tangisnya di depan Sean dan semua orang.


"Terima kasih. Semoga kamu bahagia dengan keluarga barumu, Sean. Setelah ini, aku akan pergi dengan tenang." Sebuah senyuman tersungging pada wajah cantik Sandra.


Perempuan itu mendekati Rosie dan memeluknya.


"Terima kasih karena selama ini telah menjadi ibu dan mertua yang baik untukku." Sandra menahan tangisnya.


"Sama-sama, Sayang. Aku harap kamu bahagia." Rosie membalas pelukan Sandra dan mengusap rambut wanita itu.


"Terima kasih, Ma."


Sandra mendekati Ibrahim, kemudian mencium tangan pria paruh baya itu dengan takzim. Hal yang tak pernah Sandra lakukan selama ini. Namun, kali ini dia melakukannya.


"Semoga kamu bahagia meskipun tidak bersama dengan Sean." Sandra mengangguk mendengar ucapan Ibrahim.


"Naya." Sandra memeluk perempuan itu dengan erat.


"Ingat janjimu padaku, Nay, bahagiakan Sean. Aku yakin, kamu pasti bisa membahagiakan dia." Sandra berbisik di telinga Kanaya. Namun, sahabatnya itu hanya terdiam. Isak tangis Kanaya sebagai jawaban.

__ADS_1


"Semoga kalian bahagia." Sandra kembali berucap.


"Aku akan bahagia jika kamu juga bahagia. Kalau kamu tidak bahagia di sana, aku pun tidak akan pernah merasa bahagia di sini." Kanaya berucap dengan gemetar.


"Tentu saja aku akan sangat bahagia di sana. Kamu lupa, kalau aku akan pergi untuk bekerja. Pekerjaan adalah salah satu yang membuatku bahagia."


Kanaya melayangkan cubitan mautnya pada pinggang Sandra. Bisa-bisanya dia bercanda dalam situasi seperti ini.


"Aku pasti akan merindukanmu. Jaga dirimu, Sandra." Kanaya melepaskan pelukannya.


Sandra mengangguk sambil tersenyum. "Sampaikan salamku untuk Nathan."


Kanaya mengangguk.


"Bahagiakan Kanaya." Sandra kembali menatap ke arah Sean yang terlihat mengangguk. Setelah itu, Sandra melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri tanpa menoleh lagi pada Sean dan yang lainnya.


"Selamat tinggal masa lalu."


Sandra masuk ke dalam mobilnya. Kemudian melajukan kendaraan itu meninggalkan rumah besar Sean.


Rumah yang dulu menjadi rumah impiannya.

__ADS_1


"Selamat tinggal, Sean." Air mata perempuan itu akhirnya tumpah setelah sedari tadi ia menahannya.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2