Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 85 KEMBALI KE RUMAH SEAN


__ADS_3

"Sean."


Sean menatap tak percaya saat melihat siapa yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Sayang ... kamu datang?"Sean dengan cepat mendekati Kanaya, kemudian langsung memeluk perempuan yang sangat dirindukannya itu.


"Sayang, aku merindukanmu. Aku sudah mencarimu kemana-mana tapi–"


"Aku datang karena aku ingin bertemu dengan putraku." Kanaya memotong ucapan Sean.


"Kalau bukan karena ibu terus menelepon, aku tidak akan kemari." Kanaya berucap dengan dingin.


"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak merepotkan kamu. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa pun untuk mengatasi Nathan. ASI yang kamu tinggalkan saat itu sudah habis. Sementara mama dan papa hampir setiap hari ke rumah. Aku–"


"Apa itu juga sekarang menjadi urusanku? Aku sudah hamil dan melahirkan anak untukmu. Harusnya urusanku sudah selesai bukan?"


"Sayang–"


"Jangan panggil aku sayang!" tukas Kanaya cepat. Entah kenapa, ia begitu benci setiap kali mendengar Sean memanggilnya dengan sebutan itu.


"Naya." Sean menatap perempuan cantik di depannya itu. Ia merasa kalau Kanaya terlihat berubah.


"Aku ingin bertemu dengan Nathan. Setelah aku puas menyusui, aku akan kembali pulang."


"Naya ...." Sean tak bisa melanjutkan kata-katanya. Apalagi, saat melihat sorot mata Kanaya yang menatapnya tajam.


"Kalau kamu tidak setuju, aku kembali pulang." Kanaya bermaksud kembali berbalik. Bertemu dengan Sean hanya akan menambah lukanya. Begitupun dengan Sandra.


Namun, entah kenapa, Kanaya tidak bisa membenci mereka berdua. Rasa cintanya pada Sean dan rasa sayangnya pada Sandra, membuat perempuan itu tidak bisa membenci kedua orang yang telah menorehkan luka di hatinya.


"Jangan pergi! Aku mohon ... Nathan sangat membutuhkanmu." Sean menarik tangan Kanaya dan menggenggamnya erat. Kepalanya menggeleng pelan.

__ADS_1


"Aku mohon, jangan pergi lagi. Lakukan apa pun yang kamu mau, aku tidak akan melarang." Sean menghela napas panjang. Lengannya bergerak ingin kembali memeluk Kanaya, tetapi, tatapan tajam Kanaya membuat pria itu mengurungkan niatnya. Sean tidak ingin membuat istri keduanya itu marah, kemudian berubah pikiran dan kembali pergi meninggalkan rumahnya.


Kanaya tersenyum tipis, kemudian masuk ke dalam rumah diiringi oleh Sean di belakangnya.


Baru beberapa langkah, suara Rosie menginterupsi.


"Siapa dia, Sean?" Rosie menatap Kanaya yang terlihat sangat cantik meskipun perempuan itu hanya memakai dress sederhana dan juga riasan tipis di wajahnya. Perempuan itu bahkan memindai wajah dan tubuh Kanaya dari atas sampai bawah.


"Halo, Tante. Saya Naya, sahabatnya Sandra. Saya ke sini ingin ketemu sama baby Nathan. Saya kangen sama dia." Kanaya mengulas senyum manis di hadapan Rosie.


"Kamu sahabatnya Sandra?"


"Benar, Tante."


"Model juga?" Rosie menyelidik. Mendengar Sandra, kekesalannya kembali muncul.


"Bukan, Tante. Saya bukan model." Kanaya tersenyum melihat wanita paruh baya itu manggut-manggut sambil bersedekap.


"Ajak dia masuk, Sean!"


"Jangan lupa bangunin istri kamu, Sean. Hari sudah siang. Heran Mama, sama Sandra. Punya bayi bukannya diurusin malah dikasih sama pembantu!" Rosie menggerutu.


Sementara itu, Kanaya tersenyum canggung mendengar ucapan Rosie.


"Bilang sama sahabat kamu, suruh dia menyusui anaknya. Bukan cuma memakai botol terus kemudian menyerahkannya pada pembantu." Rosie menatap Kanaya. Awalnya wanita itu ingin marah juga pada perempuan yang mengaku sebagai sahabatnya Sandra itu.


Namun, entah kenapa, saat melihat senyum tulus Kanaya, hari Rosie malah ikut tergetar membalas senyumannya.


"Apa kamu sudah menikah?" Pertanyaan Rosie membuat Kanaya terkejut. Netranya melirik Sean yang juga tampak terkejut mendengar ucapan mamanya.


"Saya sudah menikah, Tante."

__ADS_1


"Benarkah? Kelihatannya kamu perempuan yang baik. Tante yakin, laki-laki yang menjadi suami kamu pasti sangat bahagia," ucap Rosie. Senyumnya mengembang.


Sean yang berada di samping Kanaya ikut tersenyum. Merasa bangga dengan ucapan sang mama yang baru saja memuji istri sirinya itu.


"Ya, sudah, Tante mandi dulu. Setelah mandi, Tante mau gendong cucu Tante. Kasihan dia, dari pagi digendong sama pembantu." Rosie melirik Sean dengan sebal. Perempuan itu menganggap kalau Sean sudah gagal mendidik istrinya.


***


"Nathan. Sayang ... mama rindu." Kanaya menggendong baby Nathan kemudian, menciumi wajah putranya. Nathan tersenyum melihat Kanaya. Bayi mungil itu seolah tahu kalau sang mama sudah kembali.


"Kunci pintunya, Bi. Aku mau menyusui Nathan." Kanaya berucap pada Bi Lasmi yang saat itu masih berada di dalam kamar baby Nathan. Netranya melirik ke arah Sean yang berada di depannya.


"Sean, bisakah kamu keluar sebentar? Aku ingin menyusui Nathan." Kanaya menunjuk Nathan yang saat ini berada di gendongannya.


"Susui saja dia, Nay. Lagipula, apa masalahnya jika aku di sini? Toh, aku sudah melihat semuanya," sahut Sean yang langsung mendapati tatapan tajam dari Kanaya.


"Keluar! Atau aku akan pergi sekarang juga!" Kanaya mengancam laki-laki itu.


"Ba–baiklah! Aku keluar sekarang juga. Aku akan mengatakan pada Sandra kalau kamu datang." Sean berlalu dari hadapan Kanaya. Mendengar ancaman istrinya, nyalinya langsung menciut. Sementara itu, Kanaya hanya diam saat laki-laki itu keluar dari kamar.


"Non, bibi ambilin minum dulu buat Non, ya?"


"Iya, Bi. Jangan lupa tutup lagi pintunya ya. Sekalian bawa alat untuk memeras ASI, Bi."


"Baik, Non."


Bi Lasmi keluar. Setelah kepergian BI Lasmi, Kanaya duduk di atas sofa. Kemudian membuka kancing bajunya dan mengeluarkan sumber kehidupan milik Nathan dari sarangnya.


Kanaya tersenyum bahagia saat putranya langsung menyedot ASI nya dengan rakus.


"Pelan-pelan , Sayang ...." Kanaya menatap baby Nathan, mendaratkan ciuman berkali-kali pada wajah bayi itu.

__ADS_1


Kanaya sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan Nathan. Bahagia sekaligus sedih karena tidak bisa memiliki putra tercintanya.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2