
Sean menjalankan mobilnya dengan pelan. Kedua matanya menengok ke arah kanan dan kiri dengan jeli. Takut ada yang terlewat.
Namun, sudah berulang kali ia memutar mobil, tetap saja Kanaya tidak terlihat. Hatinya gelisah, panik, dan khawatir. Teringat ucapan Bi Lasmi yang mengatakan kalau Kanaya hanya berpamitan ke depan sebentar.
Namun, kenyataannya sampai malam begini istri keduanya itu belum juga pulang. Sean sungguh-sungguh khawatir.
Sean bukan tidak tahu kalau Kanaya terlihat tertekan selama tinggal di rumah besar mereka. Laki-laki itu juga bukan tidak mengerti kalau Kanaya sangat menderita berada di antara dirinya dengan Sandra.
Namun, lagi-lagi, rasa egois dan ingin memiliki perempuan itu membuat Sean menutup mata. Ia ingin selalu melihat ibu dari anaknya itu terus berada di sampingnya dan selalu terlihat dalam pandangannya.
Saat Sean masih fokus mengitari jalanan, suara dering ponsel membuat pria itu langsung menepikan mobilnya. Terlihat nama Sandra di sana.
"Halo, Sayang." Suara Sean dengan lembut menyapa pendengaran orang yang menelepon di seberang sana.
"Sean, bisakah kami pulang dulu?" Suara Sandra terdengar panik.
"Ada apa? Kenapa Nathan menangis?" Mendengar suara bayi menangis membuat Sean bertambah panik. Sudahlah panik karena Kanaya belum ditemukan, sekarang ditambah lagi tangisan anaknya yang terdengar kencang.
Di balik ponsel saja suara tangisannya masih terdengar jelas, apalagi di rumah?
"Sayang, bisakah kamu pulang dulu? Sedari tadi, Nathan menangis. Aku tidak bisa mengatasinya." Suara Sandra terdengar panik.
"Kamu tunda dulu mencari Kana–"
__ADS_1
"Aku pulang sekarang juga!" Sean langsung memotong ucapan Sandra dan mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak.
"Naya, kamu di mana sayang? Aku yakin, Nathan menangis karena merindukanmu. Biasanya jam segini kamu menggendong dia sambil menyusui dia." Sean mendesah pelan. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya.
***
Bi Lasmi segera berlari mendekati Sandra yang menggendong Nathan. Asisten rumah tangga itu baru saja selesai menyiapkan susu untuk baby Nathan yang terus menangis.
Susu dalam botol yang disiapkan oleh Bi Lasmi adalah Asi yang sengaja disiapkan oleh Kanaya sebelum pergi meninggalkan rumah itu.
Bi Lasmi bahkan baru menyadari kalau ternyata istri kedua dari majikannya itu sudah menyiapkan lebih dari sepuluh botol Asi di dalam kulkas.
Melihat puluhan botol itu membuat Bi Lasmi seketika berpikir, kalau perempuan yang baru dua minggu baru saja melahirkan itu memang berencana pergi meninggalkan rumah. Bodohnya, Bi Lasmi tidak menaruh curiga sama sekali karena Kanaya pergi tanpa membawa apa pun.
Sandra semakin panik dan merasa kewalahan. Tangannya mulai kebas karena sedari tadi menggendong Baby Nathan yang terus menangis dan terus menggerakkan seluruh badannya.
Perempuan itu kemudian menyuruh Bi Lasmi menggendong Nathan. Saat Kanaya masih di rumah, bayi mungil itu tidak pernah menangis kecuali dia merasa haus dan lapar.
Bayi laki-laki itu akan kembali tertidur saat Kanaya menyusuinya. Mengingat semua itu, Sandra meraih ponselnya. Model cantik itu mencoba menelepon Kanaya, tetapi, lagi-lagi panggilannya tidak diangkat, meskipun tersambung.
Sebenarnya kamu pergi kemana, Naya? Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan teleponku? Apa kamu marah padaku karena aku menyuruhmu tinggal di sini?
Sebenarnya bukan hanya Sean yang melihat perubahan Kanaya. Semenjak Sandra dan Sean membawa Kanaya tinggal di rumah mereka. Sahabatnya itu lebih pendiam semenjak melahirkan.
__ADS_1
Padahal, bukankah seharusnya dia senang karena dia sudah melahirkan anaknya dengan selamat?
Lamunan Sandra buyar seketika saat Baby Nathan kembali menangis kencang. Terlihat jelas, Bi Lasmi pun mulai kewalahan. Ia tidak menyangka kalau bayi mungil yang biasanya terlihat begitu menggemaskan itu kini menangis kencang, hingga wajahnya terlihat memerah.
"Sepertinya, Den Nathan ingin sekali bertemu dengan ibunya, Non." Bi Lasmi berucap hati-hati sambil menatap Sandra yang saat ini masih memegang ponselnya.
"Aku sudah menghubunginya ratusan kali, tapi panggilanku tidak diangkat." Sandra terlihat kecewa. Ia sungguh tidak mengerti kenapa Kanaya tiba-tiba pergi tanpa berpamitan padanya. Apakah dia marah sampai-sampai dia tidak berpamitan meninggalkan rumah?
Sampai Sean datang, Baby Nathan masih terus menangis. Sean menggendong putranya setelah dia membersihkan diri.
Bayi laki-laki itu masih terus menangis.
Sean dan Sandra merasa kewalahan, begitu pun Bi Lasmi.
"Cepat, telepon dokter!" Suara Sean menggema.
Melihat putranya menangis seperti itu, Sean sungguh tidak tahan. Laki-laki itu tidak tega melihat bayi yang baru berumur dua minggu itu menangis sampai kehilangan suara.
"Naya, andai kamu ada di sini, putra kita pasti tidak akan menangis," batin Sean.
Sandra menatap Sean yang saat ini sedang menggendong Baby Nathan dengan wajah yang terlihat cemas dan panik. Perempuan itu meremas kedua tangannya yang berkeringat dingin.
Naya, kamu harus pulang. Baby Nathan sangat membutuhkanmu. Kalau kamu ingin marah, marahlah padaku! Tapi aku mohon ... kembalilah ke rumah ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....