
Sean memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Baru saja dirinya merasa tenang setelah menyelesaikan pekerjaannya yang terbengkalai karena mengurusi Sandra. Kini, Sean justru dikejutkan dengan kedatangan sekretarisnya yang membawakan sebuah amplop dengan logo pengadilan agama.
Sean memejamkan mata saat dirinya membuka isi amplop tersebut. Pria itu mengembuskan napas panjang, meredam rasa sesak dalam dadanya.
Sean memang sudah tahu kalau cepat atau lambat, semua ini pasti akan terjadi. Perubahan sikap Sandra dan keinginan wanita itu yang terus bersikeras untuk bercerai dengannya, membuat Sean tidak bisa melakukan apa pun lagi selain mengalah dan menuruti permintaan Sandra.
Jika memang ini adalah jalan yang terbaik dan bisa membuatmu bahagia, aku akan melepaskan kamu dengan ikhlas.
***
Sean sampai di rumahnya dengan wajah lesu. Langkahnya gontai mendekati kamar yang ditempati oleh Kanaya dan bayinya.
Wajah lesunya berubah senyum saat melihat kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu kini sedang tertidur.
Nathan terlelap di ranjangnya. Sementara Kanaya tertidur di ranjang miliknya yang terletak di sampingnya. Sean menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, lelaki itu kemudian mendekati Kanaya dan memeluk perempuan itu dari belakang. Menghirup aroma tubuh wanita itu dalam-dalam.
Kanaya menggeliat karena pergerakan Sean yang merengkuh tubuhnya terlalu erat. Dengan kedua mata masih enggan membuka, Kanaya membalikkan badannya ke arah Sean.
Laki-laki itu pikir, Kanaya akan terbangun dan memarahinya seperti biasa. Namun, ternyata dugaannya salah. wanita itu justru menyelusupkan wajahnya, mencari tempat nyaman, kemudian kembali tertidur.
Sean tersenyum, membalas perlakuan Kanaya yang memeluknya. Laki-laki itu pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memeluk wanita yang sangat dicintainya.
Laki-laki itu kemudian ikut tertidur. Melupakan rasa sesak yang menghimpitnya.
__ADS_1
Hidup terus berjalan. Kehilangan Sandra mungkin memang sangat menyakitkan sebagian hatinya. Biar bagaimanapun, pria itu pernah sangat mencintainya. Bohong jika hatinya tidak terluka saat model cantik itu memilih meninggalkannya.
Sean memeluk perempuan yang menjadi ibu dari anaknya itu.
Aku masih punya Kanaya dan Nathan yang harus aku perjuangkan. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan karena Sandra yang lebih memilih bercerai dariku.
"Aku mencintaimu, Naya."
***
Kanaya menggeliat saat merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Kedua matanya membola saat menyadari apa yang terjadi.
Kanaya mencoba melepaskan pelukan Sean, tetapi, laki-laki itu justru merapatkan tubuhnya untuk memeluk Kanaya.
"Sebentar lagi, Sayang," ucap Sean sambil mengeratkan pelukannya.
Bayangan wajah Sandra yang mengatakan tetap bersikeras untuk menceraikan Sean kembali terlintas.
*Mereka berdua saling mencintai, lalu kenapa mereka begitu keras kepala untuk berpisah?
Sandra sangat mencintai Sean, tetapi, perempuan itu dengan begitu bodoh melepaskan Sean hanya karena laki-laki yang hampir memperkosanya itu telah menyentuh tubuhnya*.
Kanaya memejamkan mata. Mengingat kembali ucapan Sandra tentang dirinya dan Sean yang ternyata pernah menjalin hubungan di masa lalu.
Seandainya saja Sandra tahu, kalau dulu hanya dirinya sajalah yang menyimpan perasaan cinta terhadap Sean, apa perempuan itu akan membatalkan niatnya untuk bercerai dengan Sean?
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Naya. Aku mencintaimu." Suara Sean menyapu pendengaran Kanaya.
"Kamu mencintai Sandra bukan aku. Apa karena Sandra ingin menggugat cerai dirimu lalu sekarang kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku?"
"Aku sudah seringkali mengatakannya padamu, jauh sebelum Sandra menginginkan perceraian ini kalau kamu lupa." Sean kembali menarik tubuh Kanaya yang berusaha melepaskan diri.
"Aku sangat lapar. Aku ingin makan." Kanaya menatap pria di depannya agar dia mau melepaskan pelukannya.
"Aku akan melepaskan kamu, tapi dengan satu syarat."
Kanaya berdecak kesal mendengar ucapan Sean. Pria itu sudah menunjuk bibirnya sebagai syarat untuk melepaskan pelukannya.
Benar-benar rencana yang sudah sangat dihapal di luar kepala oleh Kanaya.
Sean tersenyum melihat kekesalan pada wajah istrinya.
"Mau aku lepaskan atau tidak?" Sean tersenyum jahil. Sementara Kanaya justru cemberut melihat wajah Sean yang sialnya terlihat begitu tampan.
"Bee ... maukah kamu berjanji padaku untuk tidak meninggalkan aku?" Sean menatap manik mata Kanaya dengan penuh harap.
Sean sungguh sangat mencintai perempuan di depannya itu. Meskipun terlambat menyadari, tetapi, ia sungguh-sungguh tidak ingin kehilangan Kanaya seperti dirinya kehilangan Sandra saat ini.
"Hidupku pasti akan hancur jika kamu juga meninggalkan aku saat ini. Aku sangat mencintaimu, Bee. Sungguh!" Suara Sean kembali terdengar.
"Aku ingin memberikan hidupku padamu dan Nathan." Sean membelai wajah Kanaya yang seolah terhipnotis oleh semua kalimat yang keluar dari mulut Sean.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Sean mendekatkan wajahnya, kemudian meraih bibir istrinya yang sedari tadi terlihat begitu menggoda.
BERSAMBUNG ....