Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 44 KEKESALAN SANDRA


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kanaya, setelah kondisinya membaik, perempuan itu meminta kembali ke rumah yang dibelikan oleh Sandra.


Sean yang awalnya ingin kembali ke Surabaya setelah mengantarkan Kanaya ke rumah mereka, mengurungkan niat saat mendapati ponselnya yang penuh dengan laporan panggilan tak terjawab dari Sandra.


Saking paniknya melihat Kanaya pingsan, Sean melupakan ponselnya yang ia letakkan di saku jaketnya dengan mode silent.


Sean meninggalkan jaket itu di kamar yang ditempatinya bersama Kanaya, sementara dirinya ke rumah sakit. Saat ia ingin berangkat untuk mengantar Kanaya, pria itu baru mengingat ponselnya.


"Kenapa kamu tidak datang ke rumah padahal kamu sudah sampai ke Jakarta? Apa kamu sudah melupakan aku?" kesal Sandra saat mendengar pengakuan Sean yang saat itu masih berada di rumah Kanaya.


Sean sedang bersiap pergi bersama Kanaya menuju rumah mereka saat laki-laki itu dengan panik menelepon Sandra setelah melihat laporan panggilan tak terjawab dan deretan pesan dari Sandra.


"Sayang ... kenapa kamu bicara seperti itu? Mana bisa aku melupakanmu?" Sean mencoba membujuk istri pertamanya itu.


"Buktinya kamu tidak mampir. Kalau aku tidak menelepon, kamu pasti tidak mengingat aku bukan?"


"Sayang ... dengerin dulu penjelasan aku."


"Penjelasan apalagi? Semuanya sudah jelas. Kamu benar-benar keterlaluan, Sean!" Suara Sandra meninggi.


"Kamu jahat!" Perempuan itu terisak di seberang telepon membuat Sean merasa sangat bersalah.


Memang benar, harusnya Sean memberitahu Sandra jika dirinya pulang ke Jakarta. Harusnya dia jujur kalau ingin menemui Kanaya karena merasa khawatir perempuan itu tidak pernah menghubunginya.


Namun, rasa cemburunya terhadap Kanaya membuat Sean tidak berpikir ke arah sana. Laki-laki itu bahkan baru mengingat ingin mengabari Sandra saat melihat ponselnya berisi pesan dan panggilan tak terjawab dari istri pertamanya itu.


"Sayang–"


"Kamu jahat, Sean! Kamu keterlaluan! Bagaimana bi–"


"Kanaya hamil," sela Sean cepat sebelum perempuan di seberang sana benar-benar mengamuk. Sean tahu kebiasaan Sandra setiap kali sedang marah.


Perempuan itu akan membanting semua barang-barang yang ada di depannya, setelah itu dia akan menangis seharian menumpahkan semua aku kekesalannya.


"Kanaya hamil," ulang Sean.


"A–apa? Ha-mil? Kanaya hamil?" Suara Sandra terdengar terkejut. Perempuan itu sungguh tidak percaya dengan pendengarannya.

__ADS_1


"Sean, apa itu benar? Kanaya hamil?" Suara Sandra kembali terdengar.


"Iya, Sayang ... Kanaya hamil, karena itu aku pulang menemuinya.


"Benarkah? Aku sungguh-sungguh tidak percaya. Ini bahkan belum sampai dua bulan kalian menikah." Sandra tersenyum bahagia meskipun Sean tidak melihatnya.


Namun, dibalik kebahagiannya, tersalip lara yang menyelinap ke ruang hatinya yang paling dalam.


"Benar, Sayang, Kanaya hamil. Makanya aku pulang untuk menemuinya." Sean melirik ke arah Kanaya yang saat itu sedang berada di sampingnya.


Wajah cantiknya terlihat datar mendengar kebohongan suaminya pada Sandra.


Jelas-jelas laki-laki itu pulang sebelum dia mengetahui tentang kehamilannya, akan tetapi kenapa dia mengatakan pada Sandra kalau dia pulang karena mengetahui tentang kehamilannya?


"Dasar buaya!" batin Kanaya.


"Aku antar Kanaya pulang dulu ke rumah, setelah itu aku akan pulang ke rumahmu."


"Pulang? Memangnya Kanaya mau pulang kemana? Bukankah kamu bilang dia saat ini tinggal di rumah ibunya?"


Sandra mengangguk paham. Model cantik itu kini mengerti dan mulai sedikit tenang.


"Kalau begitu, aku akan menunggumu di rumah. Setelah mengantarkan Kanaya, kamu harus langsung pulang menjemputku. Aku ingin menemui Kanaya."


"Iya, Sayang. Setelah ini aku akan menemui kamu."


"Baiklah. Aku mencintaimu," ucap Sandra kemudian.


"Aku juga mencintaimu." Sean menutup panggilan teleponnya. Laki-laki menghela napas panjang kemudian menatap Kanaya yang terdiam sambil memejamkan mata.


Kepalanya terasa pusing. Sudah beberapa menit berlalu tetapi suaminya belum selesai bicara dengan Sandra. Kini, setelah Sean selesai bicara, Kanaya malah merasa pusing dan mengantuk.


"Kita berangkat sekarang." Sean mengusap bahu Kanaya. Perempuan itu bersandar di sofa.


"Aku tidak jadi pergi. Kepalaku pusing." Kanaya bangkit dari sofa kemudian melangkah menuju ranjang.


"Aku ngantuk, pengen tidur," lanjut Kanaya membuat pria itu yang menjadi suaminya itu merasa heran.

__ADS_1


"Kamu bilang ingin buru-buru pulang ke rumah? Kok sekarang malah ingin tidur?"


"Itu kan tadi. Sekarang aku ingin tidur," jawab Kanaya sambil masih memejamkan mata.


"Naya, aku akan mengantarmu pulang ke rumah setelah itu aku–"


"Sebaiknya kamu pulang dulu ke rumah Sandra. Kamu temui dia dulu."


"Naya–"


"Sandra itu istrimu. Aku yakin, saat ini dia sedang kesal karena kamu pulang tanpa memberitahunya. Temui dia, dan biarkan aku beristirahat sebentar."


"Naya–"


"Pergilah!" Kanaya bersikeras. Perempuan itu masih berbaring membelakangi Sean.


"Kita akan tetap pergi sekarang. Setelah itu, aku akan menemui Sandra dan mengajaknya ke rumah kita."


"Sandra ingin menemui kamu. Tidak mungkin dia menemui kamu di sini bukan?" lanjut Sean. Pria itu sangat kesal. Ia menganggap kalau Kanaya hanya berpura-pura merasa pusing dan mengantuk.


"Ayo kita berangkat!" Sean mendekati Kanaya, kemudian meraih tubuh istri keduanya itu dan menggendongnya.


"Sean!" pekik Kanaya terkejut.


"Dari kemarin, aku menuruti semua ucapanmu. Kali ini, kamu yang harus mendengarkan aku. Biar bagaimanapun, kamu adalah istriku, Naya!" Amarah Sean seketika naik saat Kanaya memberontak saat pria itu menggendongnya.


Kanaya yang merasa pusing dan kehilangan tenaga, akhirnya pasrah. Perempuan itu terdiam. Merasa sudah tidak ada pergerakan, Sean kemudian menurunkan tubuh Kanaya.


Laki-laki itu berpikir, tidak mungkin dia menggendong Kanaya sampai ke mobil, bisa-bisa kedua mertuanya itu khawatir dan tidak akan mengijinkan istrinya pulang ke rumah mereka.


Namun, saat Sean menurunkan Kanaya, laki-laki itu sangat terkejut saat tubuh Kanaya hampir saja ambruk ke lantai.


"Kanaya!"


BERSAMBUNG ....


Gemes Author sama Sean. Rasanya pengen ... 😡😡😡

__ADS_1


__ADS_2