
"Kanaya, maukah kamu menikah dengan Sean?" tanya Rosie sambil menatap perempuan itu dengan penuh harap.
Entah mengapa, Rosie langsung menyukai Kanaya saat pertama kali Sean mengenalkan gadis itu sebagai teman Sandra.
"Me–menikah?" Kanaya merasa gugup. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh mamanya Sean? Bukankah dia sudah tahu kalau ia dan Sean sudah menikah walaupun secara siri?
Kanaya menelan saliva saat melihat tatapan tajam Rosie, juga Ibrahim. Setelah terdiam sebentar Kanaya kemudian kembali bersuara.
"Maaf Tante, aku dan Sean sudah menikah. Kami menikah secara siri." Kanaya berucap dengan sopan. Jantungnya terasa berdebar-debar menghadapi sepasang suami istri itu.
Rosie tersenyum canggung. Wanita itu lupa kalau Sean dan Kanaya sudah menikah secara siri.
"Seandainya saat itu Sean tidak datang melamarku dan meminta pada ayahku untuk menikahi aku, mungkin, sampai sekarang aku tidak akan mau melahirkan anaknya," ucap Kanaya memberitahu.
Rosie dan Ibrahim saling berpandangan.
"Ayah dan ibuku bahkan menjadi saksi pernikahanku dengan Sean," lanjut Kanaya.
"Seharusnya saat ini Sean menceraikan aku karena perjanjian aku dan Sandra sudah berakhir." Sean kembali menatap kedua orang paruh baya di depannya itu.
__ADS_1
Rosie menatap Kanaya sambil mengembuskan napas panjang. Dalam hati, Rosie berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa membujuk perempuan di depannya itu agar mau tetap bersama Sean.
Biar bagaimanapun, baby Nathan sangat membutuhkan Kanaya. Perempuan itu adalah ibunya. Terlepas dari perjanjian sialan yang dibuat oleh Sandra dan Sean, tetap saja, tidak akan bisa menghapus kenyataan kalau Kanaya adalah ibu dari cucunya.
"Pa, sepertinya kita tidak akan mudah membujuk dia," bisik Rosie pada suaminya. Ibrahim mengangguk. Perempuan di depannya itu sepertinya bukan perempuan yang mudah tergiur dengan uang.
Walaupun dirinya dulu terjebak dalam pernikahan siri itu karena membutuhkan uang. Akan tetapi, saat ini keadaannya sangat jauh berbeda. Setelah ikatan perjanjiannya dengan Sandra berakhir, sudah tentu gadis itu saat ini pasti menginginkan kebebasan.
Kebebasan setelah setahun terpenjara dalam pernikahan yang tidak diinginkannya.
"Apa kamu benar-benar akan mengakhiri pernikahanmu dengan Sean?"
Sean mencintai Sandra, begitupun sebaliknya, Sandra sangat mencintai Sean. Kalau pun laki-laki itu sudah berulang kali mengungkapkan perasaan cinta padanya, tetapi, Kanaya tidak akan percaya. Biar bagaimanapun, tidak ada seorang wanita manapun di dunia ini yang mau dijadikan yang kedua.
Sean mengatakan kalau dia mencintai Sandra dan dirinya secara bersamaan. Bukankah itu berarti, Sean menginginkannya mereka berdua untuk menjadi istrinya?
"Sean sudah memutuskan untuk menceraikan Sandra. Dia sangat kecewa karena semua pengorbanan yang telah ia lakukan ternyata tidak berarti apa pun untuk Sandra." Suara Rosie menghentikan lamunan Kanaya.
Semua kata-kata yang terucap dari bibir perempuan itu membuat Kanaya mengingatkannya tangisan Sandra beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
Sandra meninggalkan rumah dengan deraian air mata yang mengalir di pipinya setelah Sean mengusirnya dari rumah. Sandra sungguh tidak menyangka kalau laki-laki yang sudah enam tahun menjadi suaminya itu tega mengusirnya.
Sean tidak mau mendengarkan penjelasan apa pun dari Sandra. Pria itu benar-benar membuktikan ucapannya untuk menuruti keinginan Rosie untuk meninggalkan Sandra.
Mengingat itu, Kanaya hanya bisa menghela napas dengan rasa sedih. Saat sahabatnya itu diusir dari rumah oleh Sean, Kanaya ingin sekali mengejar Sandra. Namun, seolah merasakan hawa panas di rumah itu, baby Nathan yang awalnya tertidur pulas tiba-tiba menangis begitu kencang saat mendengar keributan antara Sean dan Sandra.
Bayi mungil itu menangis, membuat semua orang merasa panik. Sampai-sampai, Kanaya sendiri pun merasa kesulitan untuk membujuk Nathan.
Perempuan itu akhirnya meninggalkan Sandra yang masih menangis. Tidak menyangka kalau ternyata Sean benar-benar ingin berpisah dengan perempuan yang dulu pernah diagung-agungkan olehnya.
Perempuan yang Sean katakan sebagai perempuan yang sangat dia cintai di dunia ini.
"Kanaya, maukah kamu tetap tinggal demi Nathan? Putramu sangat membutuhkan kamu dan juga Sean. Kamu tidak mau kalau dia tumbuh tanpa orang tua yang lengkap bukan?"
"Dalam hidupku, aku tidak pernah memohon pada siapapun. Tapi, kini aku memohon padamu, Kanaya."
"Aku mohon, tetaplah menjadi istri Sean dan juga ibu yang baik untuk Nathan."
"Tante ...."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....