
"Kanaya!"
Sean meraih tubuh Kanaya ke dalam pelukannya. Pria itu sungguh terkejut saat tubuh Kanaya tiba-tiba limbung.
"Naya!" Sean menggendong tubuh istrinya yang tiba-tiba saja tidak sadarkan diri.
"Ya, Tuhan ... apa yang sudah aku lakukan?" Sean menepuk-nepuk pipi Kanaya, berharap kalau Kanaya akan segera bangun.
"Naya, bangun!" Sean kembali menepuk wajah pucat istrinya. Pria itu terlihat panik melihat keadaan Kanaya.
Sean berniat keluar kamar, tetapi langkahnya kembali terhenti saat mengingat kedua mertuanya. Pria itu kemudian mencari sesuatu di atas nakas.
Kedua netranya menemukan botol kecil berisi minyak angin. Pria itu dengan cepat membuka tutup botol itu dan mengeluarkan sedikit ke jarinya.
Sean menempelkan jarinya pada hidung mancung milik istrinya.
Harusnya aku mendengarkan dia dan membiarkannya beristirahat bukannya malah memaksanya untuk pergi.
Sean terus berusaha membangunkan Kanaya, pria itu terus menempelkan ibu jarinya pada hidung Kanaya.
"Naya, bangun!
Bangun, Sayang ... maafkan aku karena aku tidak mendengarkanmu." Sean mengusap kepala istrinya dengan wajah khawatir.
"Sebaiknya aku panggil ibu ke sini. Aku takut terjadi apa-apa sama dia," gumam Sean. Laki-laki itu bermaksud beranjak dari ranjang. Namun, pergerakan Kanaya membuat Sean menghentikan niatnya.
Laki-laki itu kembali duduk dengan menggenggam tangan Kanaya. Sean menatap kedua netra Kanaya yang mengerjap menyesuaikan pandangannya.
"Naya, kamu sudah sadar?" Sean membelai lembut wajah pucat Kanaya. Tebersit rasa bersalah dalam hatinya.
__ADS_1
"Maafkan aku. Maaf karena aku tidak mendengarkanmu," lanjut Sean. Pria itu menatap Kanaya yang terdiam menatapnya.
Sean beranjak mengambil minum di atas nakas. Pria itu kemudian membantu Kanaya bersandar di kepala ranjang. Sean memberikan air minum itu pada istrinya.
"Kanaya memejamkan mata merasakan kepalanya yang terasa berdenyut. Tubuhnya terasa lemah. Perempuan yang kini sedang hamil muda itu seolah kehilangan semua tenaganya.
Kalau aku seperti ini terus, bisa-bisa berpengaruh buruk untuk calon bayiku, sedangkan aku harus menjaganya sampai aku melahirkan.
Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada calon bayiku. Aku akan menjaganya sampai dia lahir ke dunia dan menyerahkannya pada mereka.
Menyerahkannya?
Kanaya masih memejamkan mata. Merasakan rasa sakit yang tiba-tiba mulai mengalir di hatinya.
*Apa iya aku bisa melakukannya saat itu tiba? Menyerahkan darah daging yang aku kandung dalam waktu sembilan bulan pada mereka?
Ah! Seandainya waktu bisa diputar dan saat itu aku tidak dalam keadaan terdesak karena ayah akan dioperasi, aku tidak akan menyetujui permintaan gila sahabatku.
Tidak! Aku bukan sedang menyesali keputusanku. Aku hanya menyesali sikap Sandra yang tidak mau memiliki anak demi karirnya*.
"Kanaya." Suara Sean kembali terdengar.
Tangan Sean kembali terangkat membelai wajah Kanaya. Perempuan itu terdiam, masih memejamkan matanya.
"Maafkan aku."
"Kamu tidak salah, kenapa harus minta maaf?" Suara Kanaya terdengar lirih. Bibir pucatnya terlihat bergetar.
"Aku lupa, kalau aku ini adalah seseorang yang bekerja untukmu dan juga Sandra. Jadi, seharusnya aku menuruti semua keinginan kamu dan juga istrimu." Kanaya masih memejamkan matanya. Rasanya ia tidak sanggup menatap pria di depannya itu.
__ADS_1
"Kamu juga istriku, Naya, kalau kamu lupa." Sean menatap wajah pucat perempuan yang dinikahinya secara siri itu.
"Kamu benar. Aku memang istrimu. Tapi istri sementara yang bertugas untuk melahirkan anakmu." Kedua mata Kanaya terbuka. Wajah tampan Sean terlihat jelas di depannya. Laki-laki itu terlihat kesal mendengar ucapan Kanaya.
"Apa pun alasannya, saat ini kamu adalah istriku, sama seperti Sandra. Kamu punya kedudukan yang sama dengannya." Kata-kata itu tiba-tiba terucap dari bibir merah Sean. Pria itu mungkin sedang tidak sadar.
"Kedudukan yang sama? Apa aku tidak salah dengar?" Kanaya tersenyum getir.
Bukan ini yang ia inginkan. Meskipun Kanaya sangat mencintai Sean, perempuan itu tidak pernah ingin memiliki kedudukan yang sama selain dari kontrak sewa rahim tanpa hitam di atas putih yang sedang Kanaya jalani saat ini.
Kanaya memang mencintai Sean dan sangat ingin memiliki laki-laki itu sebagai kekasih hatinya. Namun, saat mengetahui kalau laki-laki pujaannya itu telah menikah, Kanaya tidak lagi berharap pada Sean.
Cukup sudah ia merasakan kehancuran hatinya karena mengetahui sang pujaan hati yang ternyata sudah menikah dengan sahabatnya sendiri.
Kini, meskipun saat ini pria yang sangat dicintainya itu berada di hadapannya, Kanaya benar-benar mencoba menutup pintu hati untuk tidak lagi tergoda apalagi sampai membuka kembali hatinya untuk Sean.
Kanaya tidak ingin mengkhianati kepercayaan Sandra. Ia tidak mau persahabatannya dengan Sandra kemudian berakhir hanya karena laki-laki itu. Laki-laki yang akan menjadi ayah dari calon bayi yang saat ini berada dalam rahimnya.
"Aku ingin pulang. Antarkan aku pulang ke rumah. Mulai sekarang dan seterusnya, sebelum masa kontrakku berakhir, aku akan menuruti semua keinginanmu dan juga Sandra." Kanaya menatap dingin pada Sean.
"Naya ...."
"Kamu jangan khawatir, aku janji, tidak akan menyusahkan kamu dan Sandra di masa kehamilanku."
"Meskipun aku sendiri tidak yakin," lanjut Kanaya dalam hati.
"Antar aku pulang, kamu tidak mau Sandra semakin kesal padamu, bukan?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
"