
Sean membaringkan tubuh lelahnya. Pikirannya menerawang, mengingat Sandra. Perempuan itu tampak tanpa beban mengungkapkan kehamilan palsunya. Membohongi publik bersama sang manager.
Awalnya, Sean tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi hari ini. Namun, semua kalimat yang keluar dari mulut manis perempuan itu terekam jelas di kepalanya. Sandra bahkan dengan begitu percaya diri menyebutkan kalau saat ini dirinya sedang mengandung empat bulan, sama seperti usia kandungan Kanaya saat ini.
Kanaya ... mengingat Kanaya, rasa rindu Sean semakin menggebu-gebu. Beberapa hari yang lalu, Kanaya mengadakan selamatan empat bulanan. Sean sangat senang karena perempuan itu kini bisa kembali bersikap normal. Normal dalam arti tidak lagi mual dan muntah ketika berdekatan dengannya.
Namun, sikapnya masih dingin seperti biasanya. Kanaya bahkan terang-terangan tidak ingin disentuh olehnya.
Mereka mengadakan selamatan empat bulanan itu secara sederhana. Mengundang beberapa tetangga dan anak yatim piatu.
Sean menarik napas panjang.
"Aku merindukanmu," lirih Sean.
Sean tidak bohong. Laki-laki itu memang sangat merindukan Kanaya. Rasa cinta di hati Sean untuk Kanaya yang telah lama mati karena kehadiran Sandra, kini seolah bersemi kembali. Sean merasa, kalau saat ini dirinya sudah jatuh cinta untuk kedua kalinya pada Kanaya.
Kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya, lalu bagaimana dengan Sandra? Tidak mungkin aku memilih keduanya bukan? Setelah Kanaya melahirkan, Sandra pasti tidak akan membiarkan aku tetap bersama Kanaya.
Sean mengacak rambutnya kesal. Niatnya ingin tidur, tetapi, bayangan Kanaya memenuhi pikirannya. Belum lagi kejadian tentang Sandra. Kepalanya bertambah pusing. Wanita cantik itu juga sampai saat ini belum pulang padahal hari sudah malam.
Sean berdecak kesal. Pria itu marah, karena sang istri sampai saat ini belum pulang. Sepertinya, semakin lama istri cantiknya itu semakin keterlaluan. Benar kata papa, kalau dirinya seharusnya bisa tegas dengan Sandra.
Hari ini Sean benar-benar merasa kesal pada Sandra. Laki-laki itu tidak suka Sandra dan Maya mengadakan konferensi pers. Gara-gara berita itu, semua orang di kantor membicarakan tentang mereka. Mereka bahkan memberikan selamat atas kehamilan Sandra.
Memikirkan Sandra, amarah Sean naik seketika. Sepertinya, Sean harus melakukan sesuatu agar perempuan itu sadar jika apa yang sudah dia lakukan itu salah.
__ADS_1
Sean menatap ke arah pintu yang terbuka. Di sana terlihat Sandra dengan wajah lelahnya. Sean menatap datar ke arah perempuan itu. Baru kali ini, selama pernikahan mereka, laki-laki itu merasa sangat kesal dengan kelakuan sang istri.
"Sayang ... kamu belum tidur?" Sandra sedikit terkejut saat melihat Sean menatapnya dari arah ranjang mereka. Dia pikir, pria itu sudah tertidur. Sandra melirik jam dinding yang menunjukkan jam satu dini hari.
Sandra tersenyum, merasa tidak enak karena dirinya pulang larut malam. Apalagi, saat melihat wajah suaminya terlihat sedang kesal. Tidak mendengar jawaban suaminya, Sandra langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Perempuan itu tidak mungkin mendekati suaminya dalam keadaan berkeringat setelah aktivitasnya seharian.
Sean tampak cuek, bahkan saat sang istri sudah mendekatinya dengan wajah segar pun, Sean diam saja. Pria itu justru memejamkan mata, bersiap untuk tidur. Gara-gara memikirkan Kanaya dan Sandra secara bersamaan, Sean tidak bisa memejamkan mata sedari tadi. Padahal, ia sudah bersiap tidur dari jam sembilan malam.
Harusnya Sean senang karena beristri dua. Akan tetapi, perasaannya justru gundah gulana. Kanaya tidak mau bertemu dengannya, sementara Sandra membuatnya kesal.
Sandra menyelusupkan wajahnya di dada Sean. Pria itu membiarkan istrinya melakukan apa yang dia mau.
"Maafkan aku, Sayang ... hari ini aku benar-benar sibuk karena itu aku pulang terlambat." Suara Sandra terdengar lembut. Namun, Sean masih memejamkan matanya. Pria itu tidak memedulikan Sandra sama sekali.
Model cantik itu kemudian terdiam karena tidak mendengar respon dari suaminya. Ia tahu, Sean saat ini pasti sedang merasa kesal padanya. Sandra yang memang sudah merasa lelah, langsung terlelap sambil memeluk Sean.
"Aku tidak suka dengan caramu, Sandra! Mengumumkan kehamilanmu di hadapan publik? Biar apa? Biar mereka semua tahu kalau saat ini kamu bener-bener sedang hamil?" Sean menatap wajah cantik Sandra yang terlihat terkejut mendengar kemarahannya.
"Maaf! Aku tidak izin dulu padamu dan maafkan aku karena aku telah membuatmu marah. Maya yang mengatur semuanya, Sean." Sandra menatap pria di depannya dengan wajah menyesal. Wanita itu tidak menyangka kalau dari semalam Sean marah karena dirinya melakukan jumpa pers mengumumkan kehamilannya.
"Kamu dengan pedenya mengatakan dirimu hamil dan tanpa merasa bersalah membohongi publik dengan kehamilanmu. Kamu benar-benar bukan Sandra yang aku kenal. Aku kecewa sama kamu!"
"Sean ...." Kedua mata Sandra membola mendengar ucapan suami tercintanya.
"Aku menuruti semua keinginan tidak masuk akal kamu karena aku mencintaimu, Sandra. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mengambil keputusan!" Sean menatap Sandra dengan tajam.
__ADS_1
"Apa kamu tidak berpikir baik-baik sebelum kamu melakukan sesuatu?"
"Kabar kehamilan kamu itu bisa terdengar di seluruh antero negeri. Apa kamu tidak berpikir seandainya ada kolega atau temen-temen bisnis yang akan melaporkan kabar kehamilan kamu itu pada mama dan papa?" Sandra semakin terkejut mendengar ucapan suaminya.
"Jika mereka tahu kamu membohonginya, tamatlah riwayatmu, Sandra!"
"Sean ...."
BERSAMBUNG ....
Seperti biasanya, sambil nunggu update, mampir dulu yuk, ke novel temen Author.
Judul : My Possessive Billionaire
Nama Pena : Desy Puspita
Menjadi pengantin tanpa mempelai, Syakil Agha Mahendra menelan pil pahit di hari pernikahannya. Sakit, malu dan bingung berpadu kala calon istrinya pergi tanpa kata beberapa saat sebelum akad.
Sejak hari itu, Syakil memandang dunia begitu berbeda. Tidak ada kehangatan dalam dirinya, yang ada hanya kerja, kerja dan kerja. Sibuk meniti karir dan mengepakkan sayap di dunia bisnis hingga namanya dikenal menjadi miliarder ternama di usia muda.
Hingga, tanpa terduga takdir mempertemukannya dengan wanita yang begitu mirip dengan kekasihnya. Pertemuan yang merupakan awal munculnya obsesi Syakil untuk mendapatkan kembali wanita itu.
"Lepaskan, aku bukan wanita yang kamu maksud!!" - Amara Nairy
__ADS_1
"Sampai mati kamu hanya milikku, Ra. Jangan coba-coba pergi lagi jika ingin hidupmu baik-baik saja." - Syakil Agha Mahendra