Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 62 PANGGIL AKU NAYA!


__ADS_3

"Aku mau menginap di sini."


"Nggak boleh!"


"Sayang ... boleh, ya?" Sean menatap Kanaya dengan wajah memelas.


"Nggak usah ngelunjak! Jangan mentang-mentang aku biarin kamu deket-deket sama aku, terus kamu bisa seenaknya sama aku," ucap Kanaya tanpa melihat ke arah Sean.


Pria itu menghela napas panjang. Sepertinya memang tidak akan mudah merayu perempuan hamil di hadapannya itu.


"Sayang, aku mohon–"


"Jangan memanggilku sayang!" seru Kanaya memotong ucapan Sean.


Sean kembali menghela napas panjang.


"Kok kamu jahat banget sih, Yang, nginep aja nggak boleh!" Wajah Sean memberengut, membuat Kanaya membuang wajahnya ke arah lain sambil tersenyum tipis.


"Boleh, ya?" Sean masih memelas. Pria itu terlihat sangat berbeda dengan Sean yang ia kenal saat awal-awal pernikahannya.


"Nggak boleh! Nanti Sandra nyariin kamu." Kanaya memasukkan camilan ke mulutnya beberapa potong sekaligus, agar ia bisa menyembunyikan tawanya. Perempuan itu sungguh tidak tahan untuk tertawa melihat mimik wajah Sean yang terlihat merajuk.


"Dia lagi asyik sama dunianya. Nggak mungkin nyariin aku." Bibir Sean mengerucut, membuat Kanaya kembali tersenyum. Akan tetapi, perempuan itu tetap menyembunyikannya. Laki-laki itu mengingatkannya pada masa lalu. Saat mereka berdua masih berseragam abu-abu.


"Siapa bilang dia tidak mencarimu?" ucap Kanaya setelah kesadarannya kembali. Kanaya memberi isyarat kalau kakinya pegel karena sedari tadi kepala laki-laki itu berada di pangkuannya.


Sean bangun dari pangkuan Kanaya dengan tatapan bersalah.


"Maaf, Sayang ...." Sean bangkit, kemudian tangannya terulur memijat kaki Kanaya.


"Jangan memanggilku sayang. Panggilan itu hanya boleh kamu pakai saat bersama Sandra!" seru Kanaya kesal. Entah kenapa, ia sangat tidak suka dengan panggilan itu.


"Kenapa aku tidak boleh memanggilmu sayang? 'Kan kamu juga istriku." Sean menatap Kanaya dengan lekat. Tangannya tak berhenti memijat kaki istrinya.

__ADS_1


"Istri sementara, kalau kamu lupa!" sarkas Kanaya membuat Sean tampak terkejut. Namun, detik berikutnya pria itu menundukkan kepala saat mengingat ucapan-ucapan kasar yang selalu ia lontarkan pada Kanaya dulu.


"Sampai bawah pijitnya!" Suara Kanaya membuyarkan lamunan Sean. Laki-laki itu tersenyum manis, membuat kadar ketampanannya semakin bertambah.


"Baik, Tuan putri!" Sean dengan semangat kembali memijat kaki istrinya. Posisi Sean saat ini duduk di atas karpet. Sementara itu, Kanaya duduk di atas sofa sambil terus memakan camilannya.


Terserah apa yang mau Kanaya ucapkan. Toh! Apa yang dikatakan oleh perempuan itu semuanya benar. Saat itu dirinya memang seringkali mengucapkan sesuatu di luar kendali yang membuat Kanaya sakit hati.


Pria itu tersenyum bahagia karena akhirnya ia bisa berdekatan lagi dengan Kanaya. Sean tidak masalah seandainya istri keduanya itu memang tidak mau lagi disentuh olehnya. Asalkan bisa berdekatan dengan Kanaya, ia rela walaupun harus menahan hasratnya saat bertemu dengan perempuan itu.


"Sandra mengirim pesan." Kanaya memperlihatkan ponselnya.


"Apa katanya?" Sean menjawab datar. Biasanya dia sangat antusias dengan segala sesuatu tentang Sandra.


"Dia ke kantor, tapi kamu nggak ada." Kanaya menatap Sean dengan lekat.


Pantas saja dia ke sini. Ternyata dia sedang perang dingin sama Sandra.


"Mana bisa aku bilang kayak gitu sama Sandra?"


"Kenapa nggak bisa? Tinggal ngomong doang apa susahnya?" sahut Sean tanpa menghentikan pijatannya pada kaki Kanaya.


"Kamu ingin aku berantem sama Sandra gitu?" Kanaya menatap kesal.


"Kenapa harus berantem? 'Kan kamu ngomong apa adanya."


Kanaya menatap Sean dengan kesal. "Dia itu lagi marah sama kamu. Trus kamu suruh aku bilang sama dia kalau kamu ada di sini?"


"Sandra bisa-bisa ngamuk karena cemburu buta!" lanjut Kanaya kesal.


Sean menghela napas panjang. Pria itu menghentikan pijatannya. Tangannya berpindah pada perut Kanaya. Mengusap lembut perut istri keduanya yang sudah terlihat menonjol meskipun belum terlalu buncit karena kehamilan Kanaya baru menginjak hampir lima bulan.


"Jangan marah-marah. Nanti anak kita ikutan marah," ucap Sean lembut. Akan tetapi, terdengar mengejek di telinga Kanaya. Perempuan hamil itu langsung berubah moodnya.

__ADS_1


"Kamu yang bikin aku marah!" kesal Kanaya.


"Iya, Sayang ... maaf!"


"Jangan panggil aku sayang!" Kedua mata Kanaya kembali melotot.


"Iya, Bil, maaf!" ulang Sean. Kedua netranya menatap Kanaya yang sudah terlihat seperti harimau yang ingin mencengkeram mangsanya.


"Jangan panggil aku Bila!" Kanaya kembali berteriak.


Duh! Salah lagi!


Kanaya menatap pria di depannya itu dengan garang. Entah kenapa, dirinya merasa sangat kesal dengan pria itu.


"Terus aku harus panggil apa dong?" Sean menatap wajah galak Kanaya yang justru membuatnya gemas. Rasanya, ia ingin sekali melahap bibir Kanaya yang sedari tadi bergerak-gerak menggodanya.


"Sayang ...."


"Berhenti memanggilku sayang, Sean Ibrahim!" teriak Kanaya membuat mulut Sean langsung terkatup. Pria itu bahkan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sementara itu, tangan satunya menaikkan dua jari membentuk huruf V. Hal yang sering pria itu lakukan di masa lalu saat tahu dirinya sedang kesal.


"Lalu aku harus memanggilmu apa?" Sean berucap lirih. Kedua tangannya kini sudah kembali memijat kaki ibu hamil di depannya itu. Rasanya sangat menyenangkan melihat Kanaya kesal seperti itu. Sikap Kanaya mengingatkannya pada masa lalu.


"Panggil aku Naya!" teriak Kanaya geram.


"Panggil aku Naya!" ulangnya lagi.


"Baiklah! istriku, mulai sekarang, aku akan memanggilmu Naya sesuai keinginanmu." Sean tersenyum manis sekali.


"Panggil aku Naya! Bukan istriku! Kenapa kamu nggak ngerti juga?" Suara Kanaya menggema.


Alamak! Salah lagi aku!


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2