Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 64 IZINKAN AKU MELIHATNYA


__ADS_3

"Mau apa kau?" Kanaya menatap Sean yang mengikutinya sampai ke kamar.


"Aku mau tidur. Memangnya mau apa lagi?" Sean menatap tak mengerti.


"Siapa bilang kamu boleh tidur di sini?" Kanaya berkacak pinggang di depan Sean. Kedua matanya melototi Sean. Namun, bukannya takut, Sean malah menatap Kanaya dengan gemas.


Wanita itu semenjak hamil memang terlihat galak. Akan tetapi, Sean justru menyukai Kanaya yang sekarang. Kanaya terlihat lebih terbuka daripada saat awal-awal pernikahan mereka.


Dulu, Kanaya hanya diam saja saat Sean selalu mengatakan kata-kata yang menyakiti hatinya. Berbeda dengan Kanaya yang sekarang.


Kanaya yang sekarang bahkan berani membalikkan kata-katanya.


"Memangnya kenapa aku tidak boleh tidur di sini?" Sean mengernyitkan kening.


"Hellooo ... apa kamu lupa dengan ucapanmu?" Kanaya mulai kesal. Perempuan itu menatap Sean dengan tajam.


"Ucapan yang mana? Memangnya aku pernah mengucapkan apa?" Sean masih pura-pura tidak mengerti. Padahal, Sean sangat tahu apa yang dimaksud oleh Kanaya.


Seketika semua ucapan yang dulu pernah ia lontarkan pada Kanaya saat awal awal pernikahan mereka.


"Sean!"


"Iya, Sayang ...."


"Sean!" Kanaya menghentakkan kakinya kesal. Sean benar benar terlihat sangat menyebalkan di matanya.


Sean tersenyum manis mendengar teriakan Kanaya.


"Memangnya kenapa aku tidak boleh tidur di kamar?" Suara pria itu masih terdengar lembut walaupun sedari tadi Kanaya seolah memancingnya mengajak ribut.


"Aku kan cuma mau tidur, bukan mau ngapa-ngapain juga." Pria itu kemudian menggeser tubuh Kanaya, lalu melenggang masuk kamar.


"Seaann!"


Sean terkekeh mendengar teriakan Kanaya. Laki-laki itu kemudian duduk di tepi ranjang.


Kemudian, menepuk ranjang agar Kanaya tidur di sana.


"Kamu pasti lelah, ayo tidur!" Sean kembali menepuk ranjang beralaskan kain lembut berwarna putih itu.


"Aku tidak mau tidur denganmu! Kamu juga sudah janji tidak akan menyentuhku setelah aku hamil bukan?" Kanaya masih bersikeras menolak.


"Kamu istri aku, Naya. Aku berhak atas dirimu," ucap Sean lembut.

__ADS_1


"Aku tidak mau kau menyentuhku! Aku--"


"Tenang, Sayang ... aku laki-laki sejati. Aku tidak akan mengingkari janjiku untuk tidak menyentuhmu," lanjut Sean, membuat Kanaya langsung terdiam.


"Tidurlah! Aku akan menemanimu sampai kamu tidur. Setelah itu, aku akan tidur di sana." Sean menunjuk ke arah sofa yang tidak jauh dari tempat tidur.


Kanaya masih terdiam. Perempuan itu masih tidak perpaya pada Sean. Tidak mungkin Sean akan membiarkannya tidur dengan tenang, apalagi, tanpa menyentuh dirinya.


Ingatan Kanaya kembali pada saat awal-awal pernikahannya. Dulu, hampir setiap hari Sean mengerjainya. Pagi, siang, malam, setiap hasratnya naik, lelaki itu tidak peduli entah itu pagi, siang ataupun malam.


Dengan dalih menjalankan tugas dari Sandra agar dia cepat hamil, Sean terus saja mengerjainya. Sehingga akhirnya, Kanaya dinyatakan hamil.


"Kamu tidak percaya padaku?" Sean memindai wajah kanaya yang masih berdiri di depan pintu. Tubuh itu masih belum beranjak dari sana.


"kenapa? Kamu masih meragukan aku?" Raut wajah Sean berubah, membuat Kanaya langsung mendekati ranjang. Wanita hamil itu naik ke atas ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut. Kedua matanya menatap Sean yang tersenyum tampan.


Ah! Bahkan sampai sekarang, Kanaya masih belum bisa mengontrol detak jantungnya yang menggila setiap kali berdekatan dengan pria yang menjadi cinta pertamanya itu.


Tuhan, kalau aku boleh meminta, aku mohon, hilangkanlah rasa cintaku pada pria itu. Biar bagaimanapun, Sean adalah suami dari sahabatku. Orang yang sangat dicintai oleh Sandra.


Kanaya mengembuskan napas panjang. Kedua matanya tertutup saat tangan Sean terulur mengusap kepalanya.


"Tidurlah! Aku akan menemanimu sampai kamu tidur."


"Iya, Sayang ...."


"Sean!" teriak Kanaya kesal.


"Iya, Sayang, aku di sini."


"Jangan memanggilku sayang!" Kedua mata Kanaya melotot saking kesalnya pada pria yang berstatus suaminya itu.


"Baik, Tuan Putri!"


Kanaya berdecak kesal, tetapi tak urung, perasaannya menghangat dengan perlakuan Sean. Apalagi, saat laki-laki itu dengan lembut mengusap perutnya.


Telapak tangan Sean bergerak naik turun dan memutar di atas perut istrinya.


"Bi Marni bilang, setiap malam kamu mengeluh sakit pinggang." Kanaya yang awalnya memejamkan mata, kembali membuka matanya.


"Maafkan aku. Seharusnya aku yang tiap malam menemani kamu. Mengusap perut juga pinggang kamu. Bukannya Bi Marni." Suara Sean terdengar penuh penyesalan.


"Maafkan aku."

__ADS_1


"Aku dan sandra sudah memaksamu untuk mempunyai anak. Kini, setelah kamu hamil, aku justru mengabaikanmu."


"Tidak usah menyindir!"


"Siapa yang menyindir, Sayang?" Aku bicara kenyataan."


"Kalau saat itu aku tidak mual saat bertemu denganmu, dari dulu kamu pasti mendekati aku."


Sean tersenyum mendengar ucapan Kanaya. Bibir perempuan itu mengerucut, membuat Sean gemas.


"Aku bersyukur karena saat ini dia tidak lagi membenciku." sean mengusap lembut perut Kanaya yang tertutup selimut. Wajah tampannya bergerak ke bawah, mencium perut buncit itu dari balik selimut.


"Terima kasih kamu sudah tidak marah lagi sama papa."


"Jika sudah tiba waktunya, saat aku menyerahkan bayi ini pada kalian, apakah aku akan tetap bisa melihatnya walaupun dari jauh?"


Kata-kata Kanaya membuat Sean tersentak. Pria itu menatap wajah cantik Kanaya yang kini terlihat sedih dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Biar bagaimanapun, aku adalah ibunya. Aku yang mengandung-"


"Naya."


"Izinkan aku melihatnya saat dia sudah lahir ke dunia."


"Aku mohon ...."


Bersambung ....


Jangan lupa mampir juga ke karya temenku yuk! Dijamin seru ....



"ampun, apa salahku Ibu,?" teriakan dan tangisan getir dari seorang gadis kecil berusia lima taun. Saat tubuh mungilnya di cubit oleh sang ibu.


"janga panggil aku ibu! Karena aku bukan Ibumu!!" bentak seorang wanita Dewasa yang tengah memukul si gadis malang itu.


"nyonya, sudah nyonya, saya mohon kasihan Nirmala ," seorang wanita pa, mrruh baya datang menghampiri sang Majikan yang tampak tengah murka itu.


Ny. Kania yang mendengarnya, menatap tajam kearah Maid yang berani menghentikan tindakanya itu.


"kau, kau berani menghalangi aku,?!" tanya Ny.Kania berapi api. Tangannya dengan cepat menyambar rambut gadis kecil itu dan menariknya dengan kuat.


"akh sakit Ibu, hiks hiks," Nirmala mebangis sejadi jadinya dan meronta sekua tenaga.

__ADS_1


__ADS_2