
"Berhentilah menjadi menantuku!" Rosie menatap Sandra dengan tajam. Sementara Sandra kembali terkejut mendengar ucapan Rosie.
"Mama ...." Sandra menggeleng. Air matanya kembali mengalir di pipi mulusnya. Sandra sungguh tidak menyangka kalau akhirnya akan jadi seperti ini.
Awalnya memang dia sudah menduga kalau kedua mertuanya pasti marah setelah mengetahui kebohongannya. Namun, ia tidak menyangka kalau Rosie akan mengambil keputusan sebesar ini.
Bercerai dengan Sean? Tidak mungkin! Sandra sangat mencintai pria itu. Dari dulu, hanya Sean sangat mencintainya. Mendukung karirnya hingga seperti sekarang. Tidak mungkin dia melepaskan Sean begitu saja.
"Aku tidak mau bercerai dengan Sean, Ma. Aku mencintainya. Aku tidak mau berpisah dengan Sean." Sandra mendekati Rosie, memohon pada perempuan itu agar tetap menjadikan dirinya sebagai menantu.
"Aku tidak mau berhenti menjadi menantu mama. Aku ingin tetap menjadi istri Sean. Aku mohon, Ma. Jangan pisahkan aku dari Sean." Sandra kemudian bersimpuh di kaki Rosie.
"Aku minta maaf, aku memang salah sudah membohongi kalian. Aku minta maaf karena aku sudah memberikan cucu pada mama yang bukan aku lahirkan dari rahimku sendiri. Tapi aku mohon, Ma. Maafkan aku. Aku mohon jangan pisahkan aku dengan Sean. Aku mohon ...." Sandra terisak di kaki Rosie. Model cantik itu memohon agar ibu mertuanya mau mencabut keputusannya.
Sandra sungguh tidak ingin berpisah dengan Sean. Entah apa jadinya kalau dia hidup tanpa pria itu. Dari awal dia mengenal cinta, Sean adalah pria pertamanya. Sampai sekarang, setelah enam tahun pernikahannya, cintanya hanya untuk pria itu.
Sebagai seorang model, banyak sekali godaan-godaan di luar sana. Bukan hanya satu atau dua. Sandra bahkan sudah berulangkali sering digoda oleh pria-pria yang menginginkan dia.
Namun, rasa cintanya kepada Sean membuat Sandra mampu menepis semua godaan pria-pria itu. Kini, karena kesalahan yang ia perbuat, tiba-tiba Rosie ingin dirinya berpisah dengan Sean?
Tidak! Sandra tidak ingin berpisah dengan Sean.
Sandra menatap Sean yang masih terlihat terkejut mendengar ucapan sang mama.
__ADS_1
"Sayang ... tolong bilang sama mama, kalau aku tidak ingin berpisah dari kamu. Aku yakin, kamu juga tidak ingin berpisah dengan aku bukan? Tolong bujuk mama, Sayang, aku mohon ... aku mencintaimu, aku tidak ingin bercerai." Sandra menatap Sean dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Perempuan itu memohon agar suaminya mau membantunya membujuk Rosie.
"Sayang, aku mohon ...."
Sean menatap sang istri dengan rasa sakit di hatinya. Laki-laki itu tidak tega melihat Sandra seperti itu. Namun, laki-laki itu sangat sadar kalau kesalahan Sandra kali ini sangat fatal.
Sean sudah seringkali memperingatkan Sandra untuk tidak melanjutkan rencananya, tetapi, wanita itu dengan keras hati tetap pada pendiriannya. Bahkan, baru beberapa menit yang lalu Sandra juga mengatakan kalau karirnya lebih penting dari baby Nathan juga dirinya.
Namun, meskipun dia sangat kecewa, Sean tidak pernah berpikir kalau dirinya akan bercerai dengan Sandra. Akan tetapi, jika perempuan itu ternyata tidak berubah dan tidak menganggap dirinya berarti, apa ia tetap harus mempertahankan Sandra?
bertahun-tahun pernikahannya dengan Sandra, hanya dirinya yang selalu mengalah. Rasa cintanya pada wanita itu membuat Sean terkadang menjadi bodoh karena harus mengikuti dan menuruti semua kemauan Sandra.
"Sean." Sandra kembali memanggil suaminya.
"Enam tahun, Sandra! Selama enam tahun ini Sean begitu bodoh karena selalu mengharapkan kamu akan berubah! Begitupun aku dan papanya!"
"Maaf, Ma. Maafkan aku. Aku tahu aku salah, tapi aku mohon, jangan pisahkan aku dengan Sean." Sandra kembali menangis memeluk kaki Rosie.
"Aku bersalah karena aku sudah bohong sama mama dan papa. Aku salah karena selama ini aku belum bisa menuruti keinginan mama sebagai menantu yang baik. Maafkan aku, Ma. Tapi aku mohon, jangan pisahkan aku dengan Sean." Sandra kembali memohon pada Rosie.
"Sean, Sayang, aku mohon, bilang sama mama kalau kamu juga tidak ingin berpisah denganku. Bukankah kamu bilang kamu mencintaiku? Bilang sama mama Sean, kalau kamu tidak ingin bercerai denganku!" Sandra kembali menatap laki-laki yang dicintainya itu.
__ADS_1
Namun, Sean hanya menatapnya datar. Kemudian, laki-laki itu pergi meninggalkan kamar.
"Sean! Sayang, kamu mau kemana? Tolong bilang sama mama, Sean. Aku tidak ingin berpisah denganmu!" Sandra sungguh terkejut saat melihat Sean justru meninggalkannya tanpa ada niat membantunya sedikitpun.
"Sean!"
Sean menoleh ke arah Sandra. Sudut matanya juga menangkap Kanaya yang sedang menyusui putranya. Wajah perempuan itu terlihat panik. Kedua matanya tampak terkejut.
Kanaya menggelengkan kepala saat kedua matanya bertemu selama beberapa detik dengan netra hitam Sean.
"Apa kamu lupa ucapanku beberapa menit yang lalu?" Sean menatap Sandra sambil menekan rasa sakit di hatinya.
"Saat kamu memutuskan menyerahkan Nathan kembali pada Kanaya dan memilih bekerja dan menganggap karirmu lebih penting dibandingkan aku dan Nathan, saat itu juga, aku memutuskan ...." Ucapan Sean terhenti. Laki-laki itu menelan salivanya. Entah keputusan yang diambilnya salah atau benar. Akan tetapi, saat melihat sosok Kanaya yang sedang menyusui darah dagingnya dengan penuh cinta, Sean seolah mendapat kekuatan.
"Mulai sekarang, aku tidak akan ikut campur lagi dengan urusan kamu, Sandra. Silakan lakukan apa pun yang kamu mau. Aku tidak peduli!"
"Aku serahkan semuanya pada Mama. Apa pun keputusan yang mama ambil, kali ini aku akan menurutinya."
Sean berbalik meninggalkan kamar itu tanpa menoleh lagi ke belakang. Pria itu bahkan tidak memedulikan teriakan Sandra yang terus memanggilnya.
Jangan meminta bantuanku jika suatu saat mama dan papa tahu.
Kata-kata itu tiba-tiba kembali terngiang di telinga Sandra.
__ADS_1
"Sean."
BERSAMBUNG ....