Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 84 SUSU SAPI!


__ADS_3

"Sandra!" teriak Rosie dengan penuh amarah.


"Apa kamu sudah gila? Kamu memberikan anakmu ASI yang sudah beku di dalam kulkas?"


"Mama ...." Sandra sangat terkejut saat mendengar suara bentakan Rosie.


"Kenapa kamu tidak menyusui bayimu langsung dari sumbernya? Hah? Kenapa kamu lebih memilih memeras ASI kamu dan meletakkannya di kulkas?" Rosie dengan geram kembali berteriak.


Sementara itu, Sandra langsung menunduk. Baru kali ini ia melihat mama mertuanya begitu marah. Selama enam tahun menikah dengan Sean, ibu mertuanya itu sangat baik, walaupun terkadang sedikit menyebalkan setiap kali membahas tentang keinginannya memiliki cucu.


Rosie akan terlihat sangat menyebalkan di mata Sandra saat wanita itu mendesaknya keluar dari dunia modelling dan menyuruhnya untuk segera melahirkan seorang anak.


"Kenapa, Sandra? Kenapa kamu lebih memilih meminum susu menggunakan botol daripada menyusuinya secara langsung?"


"Mama, aku–"


"Kenapa? Kamu takut bentuk badanmu jadi jelek hingga akhirnya tidak menarik lagi saat berada di depan kamera?" potong Rosie cepat. Wanita itu sangat marah. Ia benar-benar tidak menyangka kalau menantunya ternyata masih juga belum berubah.


"Sabar, Ma, sabar." Ibrahim merangkul bahu istrinya. Laki-laki itu menuntun sang istri menuju sofa di ruang keluarga.


"Aku nggak habis pikir sama dia, Pa. Orangnya di rumah, tapi kenapa dia tidak mau menyusui bayinya secara langsung?"


"Sudah, tenang. Mungkin Sandra lelah. Mama tahu sendiri 'kan, semalam dia jagain Nathan sampai nggak tidur-tidur?" Ibrahim mencoba menenangkan. Meskipun dia sendiri pun tidak setuju dengan cara Sandra.


Akan tetapi, Ibrahim tidak akan membiarkan istrinya terus berdebat dengan menantunya. Biar bagaimanapun, Sandra baru beberapa minggu melahirkan. Kondisinya saat ini pasti belum pulih benar.


Deru napas Rosie naik turun. Wanita itu masih sangat kesal dengan menantunya. Mungkin, kata-kata Ibrahim memang benar. Sandra kelelahan karena semalaman dia pasti begadang sampai Nathan terlelap. Tetapi, bukankah semua ibu juga seperti itu?

__ADS_1


Rosie mencoba menetralkan perasaannya. Menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. Wanita itu memejamkan matanya, agar dirinya merasa tenang.


Ibrahim tersenyum melihat tingkah istrinya. Laki-laki paruh baya itu memberikan ciuman di pipi Rosie.


"Mama memang yang terbaik!"


***


Sean menuntun Sandra yang masih terlihat shock. Model cantik itu sungguh tidak menyangka kalau ucapannya beberapa menit lalu membuat ibu mertuanya sangat marah.


"Susu sapi? Jelas-jelas itu ASI bukan susu sapi. Susu itu adalah ASI milik Kanaya." Sandra berucap lirih.


Sebelum pergi dari rumah, sahabatnya itu menampung ASI sampai lebih dari sepuluh botol. Kanaya seperti memeras habis air susu miliknya.


"Kamu harus lebih hati-hati kalau bicara, Sandra. Kamu tahu bukan, kalau mama itu bukan orang yang mudah untuk dibohongi?" Sandra mengangguk pelan tanda mengerti.


"Tapi kenapa mama harus mempermasalahkan masalah kecil seperti itu sih? Padahal, yang penting 'kan, Nathan mau minum susu. Daripada menangis semalaman seperti kemarin." Bibir Sandra mengerucut.


Tidak menyangka, kalau sang ibu mertua yang sangat modern itu ternyata masih mempunyai pemikiran yang kolot.


"Ternyata mama yang terlihat sangat modern itu punya pemikiran yang kolot." Sandra tersenyum menatap Sean.


"Mama selalu mengingatkan, keluarga itu nomor satu. Walaupun wanita itu kerja sebagai apa pun itu, tetapi, keluarga tetap yang utama." Sean menambahkan. Semoga setelah ini, istrinya itu bisa membuka hatinya.


"Ambisi dan obsesi itu, cepat atau lambat akan menghancurkan dirimu sendiri, Sandra," ucap Sean sebelum berlalu meninggalkan Sandra yang langsung terdiam mendengar ucapan suaminya.


Namun, langkah Sean terhenti saat mendengar ucapan Sandra.

__ADS_1


"Sean, apa kamu berhasil menemukan Kanaya?" Perempuan itu menatap suaminya dengan penuh harap.


Namun, harapannya seketika musnah saat melihat gelengan kepala Sean.


"Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi nggak ketemu. Aku juga sudah mendatangi rumahnya, tapi ayah dan ibu bilang, dia sudah pergi." Sean berucap dengan sendu. Semalaman, dirinya tidak bisa tidur memikirkan Kanaya.


"Pergi?"


"Iya. Kanaya pergi. Ayah dan ibu mengatakan kalau dia tidak mau bertemu dengan kita lagi."


"Apa?"


***


Kanaya merias wajahnya yang sembab. Sudah beberapa hari setelah kedatangan Sean ke rumah orang tuanya, Riyanti tidak henti-hentinya menelepon. Perempuan yang telah melahirkannya itu mengatakan, kalau Sean dan Sandra beberapa kali datang ke rumah memintanya kembali.


Bayi kecilnya, sering sekali menangis sampai tengah malam.


"Putramu merindukanmu, Nay. Kasihan dia. Dia tidak bersalah. Kalau pun kamu ingin pergi, pergilah! Tapi nanti, tunggu putramu terbiasa minum susu sapi."


"Bu–"


"Demi ibu, Naya. Ibu tidak ingin terjadi apa-apa pada cucu ibu."


Akhirnya, setelah memikirkan ucapan ibunya, Kanaya memutuskan untuk kembali ke rumah besar itu.


Demi Nathan. Demi putranya dan demi cucu ibunya. Kanaya akhirnya sampai di depan rumah besar Sean pagi itu.

__ADS_1


"Sean."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2