Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 75 PERGI


__ADS_3

Siang itu, saat Sean dan Sandra sedang keluar rumah, Kanaya mendekati putranya. Perempuan itu menangis membelai wajah bayi tampan yang ia beri nama Nathan Abinaya Ibrahim.


"Maafkan mama, Sayang. Maafkan mama karena mama terpaksa meninggalkan kamu." Kanaya mencium kedua pipi putranya dengan berlinang air mata.


Ingatannya kembali pada saat dirinya mengandung baby Nathan selama sembilan bulan. Rasa sakit saat dirinya berjuang melahirkan juga masih begitu terasa seperti baru kemarin.


Sean dan Sandra memintanya untuk tetap tinggal. Namun, bagaimana dirinya tetap tinggal di sana sementara hatinya terasa sakit saat membayangkan harus berpisah dengan anak yang baru dilahirkannya?


Bukan Kanaya tidak mau memberikan Asi pada putranya. Akan tetapi, rasa tidak rela untuk melepaskan Nathan pasti akan terasa lebih berat jika Kanaya masih terus bertahan di sana.


"Maafkan mama, Nak, mama sungguh-sungguh minta maaf." Kanaya kembali menangis tersedu. Tangannya terulur mengusap tubuh putranya,. kemudian, kembali menciumi pipi bayi laki-laki itu.


Saat ini, Kanaya tinggal tinggal di rumah Sandra. Mereka semua pindah ke ibukota setelah beberapa hari Kanaya pulang dari rumah sakit.


Dengan lemah dan air mata yang terus mengalir di pipinya, perempuan itu bangkit, keluar dari kamar. Kanaya menuju dapur, berpamitan pada Bi Lasmi yang juga ikut pindah ke rumah Sandra.


"Aku mau pergi ke depan sebentar Bi. Tolong jagain Nathan ya, Bi." Kanaya menahan air matanya agar Bi Lasmi tidak mencurigainya.


"Baik, Non." Bi Lasmi mengangguk. Sementara Kanaya, langsung pergi keluar rumah.


Sepeninggal Kanaya, Bi Lasmi langsung menuju kamar baby Nathan. Perempuan itu tersenyum saat melihat bayi mungil itu terlihat menggemaskan saat tertidur.


***

__ADS_1


Kanaya saat ini sedang berada di dalam taksi online. Wanita itu memutuskan untuk pergi ke rumah ibunya. Ia ingin menenangkan diri sekaligus ingin jujur pada ayahnya.


Kanaya sungguh tidak tega membayangkan seluruh keluarganya saat ini sedang menunggu dirinya melahirkan. Terutama sang ayah yang begitu bahagia dan sangat antusias saat melihat kehamilannya.


Maafkan aku ayah. Maafkan aku karena aku telah mengecewakan ayah.


Kanaya menghela napas panjang. Tangannya yang berkeringat saling meremas.


"Sebaiknya kamu jujur pada ayahmu, Nay. Ibu yakin, ayah pasti akan mengerti." Ucapan ibunya saat Kanaya menelepon kemarin pagi.


"Saat ini, kesehatan ayah sudah membaik. Ibu akan membantumu bicara pada ayahmu." Suara ibunya kembali terdengar.


Mendengar ucapan ibunya, keinginan Kanaya untuk pergi dari rumah Sandra semakin kuat. Ia sungguh tidak sanggup berlama-lama di sana. Semakin ia dekat dengan putranya, semakin Kanaya merasa berat berpisah dengan bayi mungil itu.


Maafkan mama, Nak. Semoga kamu bahagia. Mama yakin, papa kamu dan istrinya pasti akan merawatmu dengan baik.


***


Sean berkali-kali menelepon Kanaya. Namun, sambungan teleponnya tidak diangkat oleh istri keduanya itu.


Bi Lasmi pun terlihat cemas. Pasalnya ini sudah hampir dari setengah hari dari semenjak kepergian Kanaya.


"Bibi yakin, kalau Naya cuma berpamitan ingin ke depan?"

__ADS_1


"Iya, Den. Non Naya bilang, tadi katanya mau ke depan sebentar." Bi Lasmi menatap Sean dengan rasa bersalah.


"Kalau tahu ternyata Non Kanaya lama, mending tadi bibi ikut pergi nganterin Non, Naya," sesal Bi Lasmi. Ia sungguh tidak menyangka kalau Kanaya ternyata pergi begitu lama.


"Apa dia membawa sesuatu saat pergi, Bi? Maksudnya, tas besar, misalnya?" Sean menatap sang asisten rumah tangga yang sangat dipercayainya itu.


"Tidak, Den. Non Naya tidak bawa apa-apa, makanya saya tidak curiga tadi. Saya pikir Non Naya beneran ke depan." Bi Lasmi menatap majikannya dengan rasa bersalah.


"Ya sudah, Bibi tolong bantu jagain Nathan ya, Bi. Biar saya yang cari istri saya."


"Baik, Den."


Bi Lasmi pergi dari hadapan Sean dengan perasaan bersalah. Sementara Sean kembali berusaha menelepon Kanaya.


"Di mana kamu, Sayang? Kenapa kamu belum pulang juga?"


Sean masih terus melakukan panggilan telepon. Namun, Kanaya tidak mengangkatnya.


Laki-laki itu kemudian bergegas keluar rumah. Mengendarai mobilnya sambil mencari Kanaya di sepanjang jalan.


Hari sudah malam, kekhawatirannya terhadap Kanaya semakin menjadi. Apalagi, saat mengingat kalau Kanaya yang baru pulih pasca melahirkan dua Minggu yang lalu.


"Kanaya, di mana kamu, Sayang?"

__ADS_1


.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2