
"Kanaya!"
Sial! Wanita itu benar-benar ....
Sean menatap ponselnya dengan kesal. Ia sungguh tidak menyangka kalau Kanaya mematikan panggilan teleponnya secara tiba-tiba.
Istri keduanya itu benar-benar keterlaluan, mematikan panggilan teleponnya secara sepihak padahal jelas-jelas ia sedang berbicara dengan perempuan itu.
"Dasar tidak sopan! Tidak menghargaiku sama sekali." Sean menggerutu kesal. Laki-laki itu mencoba menghubungi Kanaya lagi, tetapi, ponsel perempuan itu tidak aktif. Tidak hilang akal, Sean kembali menelepon ponsel sang asisten rumah tangga yang tadi ia pakai untuk menghubungi Kanaya karena ponsel istri keduanya itu tidak aktif.
Namun, Sean harus kembali menahan kesal karena ponsel Bi Marni pun tidak bisa lagi dihubungi.
Sialan! Awas saja kalau aku bertemu denganmu besok. Aku pastikan, aku akan memberikan perhitungan sama kamu.
Sean tersenyum jahat saat sebuah ide terlintas dibenaknya saat dirinya pulang ke rumah Kanaya nanti.
"Ada apa?" Suara Sandra mengagetkan lamunan Sean yang sedang menyusun rencana seandainya dia pulang ke rumah istri keduanya nanti.
"Ada apa?" ulang Sandra karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Sean.
"Tidak ada apa-apa. Aku baru saja menelepon sahabatmu, tapi dengan tidak sopan dia malah menutup panggilan teleponnya secara sepihak." Sean menggerutu, tapi tangannya terulur menerima secangkir kopi buatan Sandra.
"Sahabatku itu istrimu juga." Kata-kata itu keluar begitu dari mulut Sandra. Namun, kali ini berbeda dari ucapan Sandra sebelumnya.
__ADS_1
Biasanya, model cantik itu sok bijak bahkan terkesan menasihati Sean agar menerima Kanaya sebagai istri pertamanya. Tetapi, kali ini Sandra justru terlihat berat saat mengatakan sesuatu tentang Kanaya.
Wajah cantik Sandra berubah murung. Apalagi, saat ucapan Kanaya kembali terngiang.
"Ada apa? Kenapa wajahmu berubah sedih begini?"
Bukannya menjawab, Sandra justru mengembuskan napas panjang. Perempuan itu menatap lekat wajah tampan suaminya.
"Aku menyesal telah menyuruhmu menikah dengannya."
"A–apa? Apa maksudmu dengan menyesal?" Sean menatap manik mata Sandra yang kini terlihat berkaca-kaca.
"Aku–aku takut kamu berpaling dariku kemudian meninggalkan aku karena jatuh cinta pada Kanaya."
"Aku mencintaimu. Mana mungkin aku meninggalkan kamu?" lanjut Sean meyakinkan Sandra. Sean mengira kalau istrinya itu sedang dalam mode cemburu, oleh karena itu, perempuan itu saat ini sedang merajuk.
"Sekarang aku sadar, apa yang aku lakukan ternyata merugikan banyak orang. Maafkan aku ...."
Sean mengernyitkan dahinya. Laki-laki itu masih belum paham arah pembicaraan Sandra.
"Seharusnya aku tidak menyuruhmu menikah dengan Kanaya, apalagi demi mendapatkan seorang anak. Aku benar-benar egois!"
"Aku bodoh! Aku bodoh karena telah mengorbankan kamu dan Kanaya demi ambisiku. Maafkan aku." Sandra menatap Sean dengan kedua mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Pembicaraannya dengan Kanaya ditelepon beberapa saat lalu membuka pintu hati Sandra yang awalnya tertutup oleh ambisi dan nafsunya yang ingin menjadi model terkenal.
Kini perempuan itu sadar, kalau apa yang sudah ia lakukan ternyata melukai banyak orang. Seharusnya Sandra bisa berpikir dengan jernih dan mau mendengarkan nasihat Sean saat itu. Bukannya malah memaksakan kehendak dan akhirnya menyakiti dirinya sendiri dan juga orang lain.
Bukan hanya dia saja yang merasa sakit hati karena merelakan pria yang sangat dicintainya menikah dengan orang lain yang merupakan sahabatnya sendiri.
Akan tetapi, apa yang dirasakan Kanaya melebihi rasa sakit yang dia rasakan saat ini. Sandra bahkan langsung menangis saat dirinya membayangkan berada diposisi Kanaya.
"Maafkan aku. Maafkan aku karena aku sudah membuatmu mengikuti keinginanku yang tidak masuk akal. Maafkan aku karena aku sudah mengorbankan kamu dan Kanaya demi ambisiku." Sandra menangis di depan suaminya. Model cantik itu benar-benar menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Hatiku sakit. Sangat sakit, Sean. Apa kamu tahu, semenjak kamu menikah dengan Kanaya, aku tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Aku ...." Sandra tidak bisa melanjutkan ucapannya. Air matanya turun membasahi pipinya.
"Hatiku sangat sakit saat membayangkan kamu dan dia berbagi bersama. Bahkan tidur bersama ...." Sandra terisak di depan Sean. Perempuan itu menumpahkan semua perasaan selama beberapa bulan ini pada laki-laki yang sangat dicintainya itu.
"Aku menyesal sudah menyuruhmu menikah dengan Kanaya. Aku menyesal karena aku sudah menyuruhmu berbagi cinta dengan perempuan lain. Walaupun kamu tidak mencintai Kanaya, tapi ... aku yakin saat kamu tidur dengannya–"
"Jangan teruskan! Jangan teruskan lagi! Sudah cukup! Jangan diteruskan lagi." Sean meraih tubuh Sandra ke dalam pelukannya. Laki-laki itu mendekap erat tubuh perempuan itu.
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu karena aku tidak bisa mewujudkan mimpimu. Aku mencintaimu, Sandra. Saking besarnya cintaku padamu, aku sampai rela mengikuti semua keinginanmu. Termasuk keinginan gilamu yang menyuruhku menikahi sahabatmu.
BERSAMBUNG ....
Author jadi dilema kalau Sandra tiba-tiba jadi baik kayak gini. Sedih deh!
__ADS_1