Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 46 SELAMAT


__ADS_3

Kanaya dan Sean sampai di rumah mereka. Perempuan itu memaksa pulang karena tidak ingin memperkeruh suasana. Apalagi, saat itu Kanaya berada di rumah orang tuanya.


Wanita cantik itu tidak ingin orang tuanya tahu kalau dia dan Sean bersitegang. Kanaya tidak mau sang ayah curiga hingga membuat semuanya terbongkar.


"Aku akan ke rumah Sandra dan menjemputnya sekarang." Suara Sean menghentikan kegiatan Kanaya yang sedang sedang mengeluarkan baju-baju dari dalam koper dan merapikannya ke dalam lemari.


"Lebih cepat lebih baik. Kamu tidak mau kalau istrimu itu bertambah kesal bukan?" ucap Kanaya datar tanpa melihat ke arah Sean.


Laki-laki itu hanya menghela napas panjang mendengar nada ketus dari istri keduanya itu. Semenjak pulang dari rumah orang tuanya, sikap Kanaya sangat tidak bersahabat.


Sepanjang perjalanan, wanita itu hanya diam. Dia hanya bicara dan menjawab dengan singkat saat Sean bertanya padanya.


Namun, sepertinya Sean harus bersabar menghadapi Kanaya. Biar bagaimanapun, Kanaya saat ini sedang mengandung buah hatinya.


Sebelum pulang ke rumah mereka, Sean terlebih dahulu mengajak Kanaya ke dokter untuk memeriksakan kandungannya.


Pria itu sangat khawatir saat istri keduanya itu pingsan untuk yang kedua kalinya. Oleh karena itu, Sean memaksa Kanaya untuk pergi ke dokter sebelum mereka berangkat ke rumah mereka di kota Bandung.


Semua nasihat dokter yang memeriksa Kanaya terekam jelas di kepala Sean.


"Jangan sampai membuat istri Anda stres, karena itu akan berpengaruh pada kondisi janin yang sedang tumbuh di rahimnya," ucap sang dokter sebelum Kanaya dan Sean keluar dari ruangan.


"Kamu benar tidak apa-apa kalau aku tinggal?" Sean menghampiri Kanaya yang baru saja selesai meletakkan kopernya.


"Memangnya kenapa kalau aku sendirian?" Kanaya menatap pria itu dengan heran.


Ada apa dengan dia? Jelas-jelas dia sendiri yang ingin sekali pergi menemui Sandra, giliran sekarang, dia malah ragu-ragu.


"Di sini ada Mang Suparman sama istrinya, kalau kamu lupa." Kanaya masih berwajah datar. Perempuan itu kemudian melangkah menuju ranjang. Merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.

__ADS_1


Semenjak dinyatakan hamil, tubuhnya seringkali merasa lemas meskipun dirinya tidak melakukan pekerjaan berat. Kepalanya juga terasa berdenyut, apalagi saat rasa mual mulai menderanya.


"Apa kamu merasa pusing lagi?" Sean mendekati Kanaya, duduk di tepian ranjang sambil mengusap kepala perempuan yang saat ini berbaring membelakanginya.


Kanaya tak menolak saat tangan besar Sean memijit lembut di bagian pelipisnya. Rasanya sangat enak, membuat rasa pusing di kepalanya sedikit berkurang.


"Kamu harus segera bersiap pergi menemuinya sebelum Sandra bertambah marah. Kamu tidak mau kalau dia sampai marah banget sama kamu bukan?"


"Kesehatan kamu juga penting. Apa kamu tidak ingat nasihat dokter tadi pagi?" Sean masih memijit kepala Kanaya dengan lembut. Sesuai petunjuk dokter, Sean ingin menjaga mood istrinya. Meskipun kenyataannya, sedari tadi pun mood istrinya sudah jelek.


Kanaya masih memejamkan mata tanpa menoleh sedikitpun pada Sean. Perempuan itu juga tidak berniat menjawab ucapan suaminya. Kanaya hanya ingin tidur. Kedua matanya mengantuk, apalagi saat Sean memijatnya seperti sekarang.


"Kalau kamu mau pergi, pergi saja. Tidak usah memikirkan aku. Sandra sudah menunggumu dari tadi kan?"


Sean kembali mengembuskan napas panjang.


"Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan menjemput Sandra sekarang." Tangan Sean mengusap kepala Kanaya. Baru saja Sean ingin mendaratkan bibirnya pada kening Kanaya, ucapan yang keluar dari mulut istri keduanya itu membuat Sean mengurungkan niatnya.


Tangan Sean kembali terulur mengusap kepala Kanaya. Pria itu kemudian pergi dengan menahan kesal di hatinya.


Sudah semenjak di Surabaya, Sean menahan hasratnya terhadap Kanaya. Setelah berpisah sebulan yang lalu, Sean belum sempat menyentuh Kanaya.


Sebenarnya, Sean bisa saja memaksa Kanaya untuk melayaninya di atas ranjang. Namun, pria itu tidak ingin memaksa Kanaya, apalagi, saat ini perempuan itu sedang hamil muda. Sean tidak ingin mengambil resiko hanya karena dirinya tidak bisa menahan hawa nafsu.


Kanaya masih memejamkan mata. Bahkan sampai Sean keluar dari kamar, perempuan itu tetap tidak menoleh sedikitpun. Entah kenapa, berapa hari ini, ia merasa sebal dan tidak suka berdekatan dengan Sean.


Setiap kali melihat wajah tampan suaminya, Kanaya selalu mengingat kata-kata menyakitkan yang sering terucap dari bibir laki-laki itu.


Kanaya mengusap perutnya yang masih terlihat datar. Dari luar, terdengar suara mobil yang perlahan menjauh meninggalkan rumah. Pertanda kalau Sean benar-benar pergi meninggalkan rumah untuk menjemput Sandra.

__ADS_1


"Sandra ...," gumam Kanaya.


Sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Terakhir kali ketemu, saat Sean mengantarkannya ke hotel sebelum laki-laki itu berangkat ke Surabaya.


Sandra juga sekarang jarang sekali menelepon. Sepertinya, sahabat sekaligus madunya itu sangat sibuk, hingga dia tidak sempat mengabarinya.


Suara dering ponsel Kanaya membuat perempuan itu mau tidak mau bangkit dari tempat tidur. Kanaya meraih ponselnya di atas nakas. Perempuan itu kemudian menekan tombol hijau.


Baru saja aku memikirkannya, dia langsung menelepon.


"Halo, Sandra."


"Halo, Naya. Maaf baru sempat menelepon. Apa Sean masih di sana?" Suara Sandra terdengar dari ujung sana.


"Sean baru saja berangkat untuk menjemputmu, kamu tunggu saja di rumah."


Sandra mengangguk meskipun sahabat baiknya itu tidak melihatnya.


"Selamat atas kehamilanmu. Maafkan aku karena aku baru bisa mengucapkan selamat padamu." Suara Sandra terdengar merasa bersalah. Sedari kemarin, ia ingin mengucapkan selamat, tetapi, ternyata tak semudah yang ia bayangkan.


Saat mengingat kalau saat ini Kanaya sedang hamil anak dari Sean, sudut hatinya berdenyut nyeri merasakan sakit yang membuatnya sesak napas.


"Terima kasih, Nay. Terima kasih karena kamu sudah mau memenuhi keinginanku."


"Untuk apa berterima kasih. Sudah kewajibanku memenuhi semua keinginan kamu, Sandra. Aku hanya menjalankan tugasku. Bukankah kehamilanku ini adalah salah satu syarat yang ku ajukan saat kamu menolongku saat itu?"


"Naya ...."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


Maafkan Othor yang nggak bisa konsisten update. Bukan sengaja, tapi benar-benar sibuk kemarin 🙏🙏🙏


__ADS_2