
'Sean baru saja sampai di rumahku.' Sebuah pesan terkirim dari nomor ponsel Kanaya.
Sandra mengembuskan napas panjang saat Kanaya membalas chat yang ia kirim. Sandra menanyakan padanya tentang Sean yang tidak berada di kantor pagi ini.
Ternyata dugaannya memang benar. Suami tercintanya itu berada di tempat Kanaya. Sahabat yang ia pilih sebagai madunya.
'Apa kamu ingin bicara padanya?' Kembali, sebuah pesan masuk dari nomor Kanaya.
'Tidak usah. Biarkan dia tenang dulu. Aku yakin, saat ini dia pasti tidak mau bicara denganku.'
Terdengar suara helaan napas berat Sandra. Sebenarnya ia sangat ingin bicara dengan Sean saat ini. Namun, sepertinya Sean benar-benar sangat marah padanya.
Tadi pagi, sebelum dirinya bangun, pria itu sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan rumah. Laki-laki itu bahkan melewatkan sarapan paginya.
Setelah kepergian Sean, Sandra memasak makanan kesukaan suaminya. Kemudian, berangkat ke kantor untuk meminta maaf pada Sean.
Sandra bukanlah orang yang suka menunda-nunda masalah. Setiap kali dirinya berselisih paham dengan Sean, mereka berdua pasti langsung menyelesaikannya dengan kepala dingin.
Namun, kali ini sepertinya Sandra harus menahan diri. Sebentar lagi dirinya akan menghadiri pertemuan dengan Maya.
Seandainya aku tahu kalau acara jumpa pers itu akan menjadi masalah buat Sean, ia pasti tidak akan menuruti Maya untuk melakukannya.
Pantas saja Sean marah. Dari semenjak Sandra menginjakkan kaki di kantor, semua orang memperhatikan dirinya. Bukan hanya itu, mereka juga langsung mengucapkan selamat atas kehamilannya.
'Kamu lagi ada masalah sama suamimu?' Lagi, satu pesan terkirim pada ponselnya.
'Dia marah karena aku melakukan jumpa pers kemarin. Apa dia tidak menceritakannya padamu?' Pesan balasan dari Sandra terkirim.
'Tidak. Dia tidak cerita apa pun.' Jawaban dari Kanaya membuat Sandra kembali menghela napas panjang.
'Tolong titip Sean. Aku ada pertemuan hari ini. Setelah urusanku selesai, aku akan ke rumah kamu.'
'Baiklah! Hati-hati. Aku tunggu kamu di rumah.'
__ADS_1
Sandra memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah mendengar jawaban dari Kanaya.
Perempuan itu merasa sedikit lega karena laki-laki itu ada di sana. Paling tidak, Sean tidak pergi ke tempat yang tidak-tidak. Sandra yakin, sahabat sekaligus madunya itu bisa menangani Sean dengan baik.
Perempuan itu menekan rasa cemburunya demi kebaikan Sean.
Hanya tinggal menunggu waktu sebentar lagi, Sandra. Setelah bayi itu lahir, semuanya akan baik-baik saja.
***
Sudah seharian Sean berada di rumah Kanaya. Saat ini mereka berdua sedang makan malam. Kanaya sekali-kali melirik ke arah wajah tampan suami sirinya itu.
Pesan Sandra di telepon tadi membuat Kanaya penasaran. Ia ingin tahu, ada apa di antara mereka sebenarnya.
Kanaya sadar, ia tidak berhak mencari tahu atau pun kepo dengan kehidupan Sandra dan Sean. Akan tetapi, sebagai sahabat Sandra, ia ingin masalah Sandra cepat selesai. Biar bagaimanapun, ia yakin, saat ini pasti Sandra sedang tidak baik-baik saja.
Sahabatnya itu sangat mencintai Sean. Kanaya yakin, perasaan perempuan itu saat ini pasti tidak tenang.
Kanaya akui, perbuatan Sandra menikahkannya dengan Sean adalah perbuatan yang salah. Perempuan itu juga awalnya sangat kesal karena tidak pernah menyangka kalau Sandra akan melakukan sesuatu yang membuat hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Namun, rasa sayangnya Kanaya pada Sandra membuat perempuan itu tidak bisa membenci sang sahabat. Apalagi, saat ia juga merasakan bagaimana keadaan Sandra selama ini.
Sandra masih tetap seperti biasanya. Setiap kali ada masalah, perempuan itu pasti menceritakan masalahnya pada Kanaya. Begitupun dengan masalah pekerjaan.
Komunikasi antara Sandra dan Kanaya tidak pernah terputus. Kedua sahabat itu masih bersikap seperti biasanya. Rasa kecewa tentu ada. Apalagi, Sandra telah membawanya ke dalam jurang penderitaan.
Akan tetapi, kebaikan Sandra padanya dan juga keluarganya, membuat Kanaya tidak bisa membenci model cantik itu.
Keputusan Sandra menikahkannya dengan Sean memang keputusan yang sangat berat untuk Kanaya. Jika bukan demi sang ayah, Kanaya pasti tidak akan pernah mau melakukan keinginan sahabatnya itu.
Akan tetapi, seandainya Sandra tahu kalau Sean itu adalah laki-laki yang menjadi cinta pertamanya, apa dia akan tetap bersikap baik-baik saja pada Kanaya?
"Naya." Suara Sean mengagetkan Kanaya. Perempuan itu kemudian menyuapkan kembali makanannya ke dalam mulut.
__ADS_1
"Habiskan dulu makanannya, baru melamun. Makan kok sambil melamun." Tangan Sean terangkat mengusap kepala Kanaya, membuat perempuan itu menatap Sean dengan perasaan ... entahlah!
Tenanglah, Naya! Kamu harus tenang. Jaga selalu hatimu seperti biasanya. Bagaimanapun, Sean adalah milik Sandra. Setelah anak dalam perutnya lahir, kamu akan melepaskan kembali pria itu, begitu juga bayinya.
Jangan baper!
"Siapa yang melamun?" Kanaya menyuap makanan ke mulutnya.
"Kenapa? Kamu ada masalah?"
Kanaya menggeleng.
"Tidak apa-apa–"
"Nay ...." Sean menatap tajam ke arah istrinya.
"Sandra tadi cerita tentang masalah kamu dan dia." Kanaya bicara dengan hati-hati.
"Bisakah kita tidak membicarakan dia saat kita sedang bersama? Saat ini aku hanya ingin fokus sama kamu."
"Aku rindu sama kamu, Nay. Aku ingin menikmati waktu bersama kamu," lanjut Sean.
BERSAMBUNG ....
Sambil nunggu Author update, yuk mampir di karya temen Author yang nggak kalah keren.
"Setiap orang memiliki sebuah tujuan hidup yang berbeda. Dan aku memilih jalanku ini, untuk sebuah dendam di masa lalu. Bisa saja aku membunuh mereka satu per satu dengan tanganku sendiri. Tapi, bukankah aku akan sama saja seperti mereka?" -Hakim Makutha.
"Jangan terlalu lama berkubang dalam rasa dendam, Utha. Semua justru akan membuatmu lebih menderita. Terkadang melepaskan sesuatu jauh akan lebih melegakan daripada menyimpan dendam yang tidak berkesudahan." -Dokter Hasna.
Sebuah perjalanan mencari keadilan untuk seorang teman yang sudah tiada justru membuat Makutha terbelenggu dalam luka masa lalunya. Dia berjuang mati-matian menumbangkan pemerintahan hingga mengancam keselamatan diri dan juga orang-orang yang ia sayangi.
__ADS_1
Apakah Makutha berhasil melakukan aksi balas dendamnya? Atau dia justru gagal dan berakhir dengan kehilangan banyak orang terkasihnya demi membalas dendam di masa lalu?