
Kanaya menatap pria yang hampir satu bulan tidak ditemuinya itu dengan tatapan tak terbaca. Senang bercampur sakit.
Senang karena akhirnya Sean mengetahui siapa dirinya sekaligus sakit karena laki-laki itu tanpa perasaan justru menceritakan masa lalunya saat pertama kali bertemu dengan Sandra.
"Aku mencarimu kemana-mana, tapi aku tidak menemukanmu. Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Sandra." Kata-kata itu terdengar jelas di telinga Kanaya. Sean memeluk tubuh perempuan itu dengan erat.
"Bila ... kenapa baru sekarang kita dipertemukan? Kenapa Tuhan kembali mempertemukan kita di waktu yang tidak tepat?"
Kanaya masih terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sean. Laki-laki yang merupakan cinta pertamanya sekaligus laki-laki yang telah menikahinya secara siri.
Kanaya mengembuskan napas panjang. Perempuan cantik itu masih terdiam, mencoba menetralkan perasaannya yang tidak menentu.
Saat pertama kali bertemu dengan Sean, Kanaya juga berpikir sama seperti pria itu. Menyalahkan takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan.
Kenapa baru sekarang kita dipertemukan? Kenapa setelah sekian lama kita harus dipertemukan dalam keadaan yang tidak kita inginkan?
*Seandainya aku bisa memutar waktu, aku pasti akan memutarnya agar aku dan kamu bisa dipertemukan di waktu yang tepat.
Namun, bukankah kita tidak bisa melawan takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan*?
Kanaya melepaskan pelukan Sean.
"Istrirahatlah! Kamu pasti lelah bukan? Aku akan mengambil air minum untukmu." Kanaya bermaksud keluar dari kamar, akan tetapi, Sean langsung menarik perempuan itu kembali ke pelukannya.
"Aku merindukanmu. Izinkan aku memelukmu sebentar lagi, Bila. Aku masih belum mempercayai kalau kamu adalah Nabila, cewek cupu yang menjadi cinta pertamaku." Kata-kata Sean membuat Kanaya menatap kaget ke arah pria itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Perempuan cantik bermata cokelat itu mendongak, menatap Sean dengan raut wajah terkejut.
"Kamu, adalah perempuan pertama yang membuatku jatuh cinta, Bila. Apa kamu tahu, saat di sekolah aku bukan hanya ingin berteman dan melindungi kamu, tapi aku juga ingin selalu berada di samping kamu." Kedua mata Kanaya membulat mendengar ucapan Sean.
"Kamu adalah perempuan pertama yang namanya tersimpan di hatiku. Semenjak perpisahan kita, aku tidak bisa melupakanmu. Aku bahkan sampai mencarimu kemana-mana, aku–"
"Sudahlah! Semua hanya masa lalu. Percuma saja kamu mengingatnya sekarang. Sudah terlambat!" Mendengar ucapan Sean, hati Kanaya berbunga-bunga. Namun, seketika Kanaya tersadar kalau laki-laki itu sekarang sudah ada yang memiliki.
Biar bagaimanapun, Sean sudah menikah dengan sahabatnya. Laki-laki yang baru saja mengakui perasaannya di masa lalu itu adalah orang yang sangat dicintai oleh Sandra.
Sahabat baik yang telah membuat dirinya terjebak dalam pernikahan yang menyakitkan. Mengingat itu, sudut hati Kanaya kembali nyeri.
Perempuan cantik itu kembali melepaskan pelukan Sean. Netra cokelatnya menatap ke arah Sean sebelum akhirnya keluar dari kamar.
"Kamu istirahat dulu, aku akan menyiapkan makanan untukmu. kamu pasti lelah bukan?" ucap Kanaya sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamarnya.
Aku baru saja datang dari jauh sengaja ingin menemuinya tetapi kenapa sikapnya begitu dingin?
Apa dia benar-benar tidak merindukanku sama sekali?
kamu bahkan tidak merasa terkejut sama sekali dengan ucapanku tentang masa lalu kita. Apa itu berarti kalau saat itu hanya aku saja yang mempunyai perasaan cinta terhadapmu?
Nabila seandainya aku bisa memutar waktu aku ingin sekali mengulang kembali saat dulu kita masih bersama. kamu tidak pernah tahu kalau saat itu aku benar-benar mencarimu kemana-mana.
Sean mengembuskan napas panjang. Mencoba meredam perasaan yang tiba-tiba bergejolak di hatinya.
__ADS_1
Kedua netranya kembali menatap bingkai foto itu. Laki-laki itu kemudian naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya yang terasa lelah sambil menutup kedua matanya.
Kenapa aku tidak mengenalimu sama sekali? Padahal saat ini aku begitu dekat denganmu.
Pikiran Sean menerawang kembali ke masa lalu. Masa di mana dirinya begitu bahagia saat berada di samping Nabila.
Meskipun saat itu semua orang mencemooh karena dirinya begitu dekat dengan gadis paling jelek di sekolah itu, tetapi Sean tidak peduli. Perasaan cintanya terhadap gadis cupu itu membuat Sean tidak peduli pada ucapan orang lain.
*Ah! Sepertinya, takdir memang sedang mempermainkan aku kenapa aku dipertemukan dengan cinta masa laluku di saat aku sudah mencintai orang lain?
Memang benar, saat ini dia adalah istriku. Akan tetapi, pernikahanku dengannya adalah pernikahan sementara yang akan berakhir saat dia melahirkan darah dagingku*.
"Nabila Kanaya," gumam Sean.
Bodohnya aku, karena aku tidak mengenalimu sama sekali. Rasa cintaku pada Sandra membuatku tidak mudah melirik ke arah wanita manapun selain dia.
*Bodohnya aku karena aku tidak mengenalimu sama sekali. rasa cintaku pada Sandra membuatku tidak mudah melirik seorang wanita manapun selain dia meskipun saat ini kamu adalah istriku tetapi aku tetap menutup rapat hatiku untuk tidak berpaling pada perempuan lain karena bagiku Sandra adalah perempuan satu-satunya yang aku cintai.
Akan tetapi, saat mengetahui kalau kamu adalah seseorang yang pernah hadir di masa laluku, aku tidak yakin dengan hatiku.
Apakah perasaanku padamu akan tetap sama seperti saat pertama kali kita bertemu? Ataukah akan berubah seiring dengan waktu. Apalagi, saat ini aku tahu kalau kamu adalah seseorang yang pernah singgah di dalam hatiku*.
Sean menarik napas panjang saat bayangan wajah cantik Kanaya kembali terlintas. Senyum Sean mengembang di wajah tampannya.
Aku tidak menyangka kalau ternyata kamu bisa berubah secantik itu.
__ADS_1
Senyum Sean kembali terkembang. Namun, detik berikutnya lamunannya memudar saat dirinya mendengar suara teriakan dari luar kamar.
BERSAMBUNG ....