
Sean dan Kanaya juga seluruh keluarga Kanaya pulang dari rumah sakit dengan hati gembira. Setelah mengetahui kalau Kanaya ternyata sedang hamil, semua orang-orang yang Kanaya sayangi sangat bahagia.
Apalagi Danu. Pria yang menjadi cinta pertamanya Kanaya itu terlihat sangat bahagia mendengar kehamilan putrinya. Laki-laki paruh baya itu sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan melihat Kanaya hamil. Danu sungguh antusias karena sebentar lagi akan mempunyai seorang cucu.
Berbeda dengan Danu, Rianti justru ingin sekali menangis. Perempuan paruh baya yang mengetahui rahasia pernikahan Kanaya dengan Sean itu merasa prihatin mendengar kabar kehamilan putrinya.
Rasanya, saat ini Rianti ingin sekali memeluk Kanaya. Apalagi, saat mengingat kau tujuan putrinya menikah dengan Sean adalah untuk memiliki seorang anak.
Anak darah daging Sean yang nantinya akan ia serahkan pada Sandra sebagai pembayar hutang uang satu miliar yang Kanaya pakai untuk pengobatan ayahnya dan biaya hidup setelah Danu pulang dari rumah sakit.
Rianti menghela napas panjang. Merasakan sakit yang mendera hatinya. Sebagai seorang ibu, ia ikut merasakan sakit yang dirasakan Kanaya saat ini.
Rianti merasa iba sekaligus bangga, karena Kanaya rela menderita demi memperjuangkan keluarganya.
Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Nak.
****
Suparman mengendarai mobilnya menuju rumah Kanaya. Di kursi penumpang, terlihat Sean dan Kanaya yang duduk berdampingan.
__ADS_1
Sean menatap Kanaya yang sedari tadi hanya diam saja tanpa berbicara sepatah kata pun. Perempuan cantik itu menyandarkan kepalanya pada kursi mobil sambil memejamkan matanya.
Wajahnya terlihat lelah dan pucat. Sean menatap wajah Kanaya yang terlihat murung. Semenjak mengetahui tentang kehamilannya saat di rumah sakit tadi, Kanaya hanya terdiam. Tidak ada senyum, tidak ada raut kebahagiaan seperti perempuan lain yang pasti akan terlihat bahagia saat mendengar kehamilannya.
Seharusnya dia merasa senang bukan, saat mengetahui kalau dirinya saat ini sedang hamil?'
Sean memperhatikan wajah Kanaya yang masih memejamkan mata. Wajah cantik yang sangat dirindukannya semenjak ia masih di Surabaya.
Awalnya, Sean pulang karena ia merasa marah dan cemburu saat melihat status Kanaya saat bersama Gibran. Sean cemburu pada Gibran karena melihat Kanaya dan Gibran begitu bahagia tertawa bersama dan terlihat mesra.
Namun, belum sempat Sean memarahi istri keduanya itu, ternyata dia mendapati kenyataan kalau pria yang menjadi pusat cemburunya itu ternyata adalah adik sepupunya Kanaya.
Selain cemburu pada Gibran, Sean juga ingin tahu alasan Kanaya tidak mengabarinya sama sekali saat dirinya sedang berada di Surabaya. Biar bagaimanapun, bukankah Kanaya itu adalah istri sahnya?
Entah perasaan apa yang Sean rasakan saat mengetahui kalau Kanaya adalah Nabila, gadis berpenampilan cupu yang pernah terukir di dalam hatinya. Laki-laki itu mencoba menggali kenangan masa lalunya bersama Nabila alias Kanaya, tetapi, pria itu merasa kecewa karena ternyata Kanaya tidak meresponnya. Perempuan itu bahkan terlihat dingin, tidak seperti saat berada di hadapan ayahnya yang terlihat manja dan menunjukkan kemesraannya.
Sean merasa kalau perempuan yang telah dinikahinya secara siri itu kini sudah berubah, bukan lagi seperti Kanaya yang ia nikahi waktu pertama kali.
Perempuan itu selalu menyunggingkan senyum di wajah cantiknya. Kanaya juga melayani Sean dengan baik. Benar-benar berbeda dengan Sandra yang notabene sibuk di luar rumah karena pekerjaan wanita itu sudah menyita waktu.
__ADS_1
"Kelihatannya kamu terlihat tidak bahagia dengan kehamilan kamu. Bukankah seharusnya kamu senang karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu?" ucap Sean menatap Kanaya yang langsung membuka matanya saat sang suami yang menikahinya secara siri itu mengatakan sesuatu yang menggelitik hatinya.
"Kamu benar. Seharusnya aku bahagia saat mengetahui kalau saat ini aku sedang hamil. Seandainya kamu berada di posisiku saat ini, apa kamu akan tetap merasa senang?" Kanaya menatap laki-laki di depannya dengan tatapan tak terbaca.
"Hamil ... kemudian melahirkan. Setelah anakku lahir, aku harus merelakan anak yang aku kandung selama sembilan bulan untuk membayar hutang! Hutang satu miliar yang aku pakai untuk biaya operasi ayahku."
Mendengar ucapan Kanaya, Sean langsung terdiam. Mulutnya seolah terkunci saat mendengar kata-kata Kanaya yang langsung menusuk hatinya.
Sementara Kanaya kembali memejamkan mata. Teringat pada sang ayah yang terlihat sangat bahagia mendengar saat mengetahui kehamilannya.
Maafkan aku, ayah. Maaf!
"Kenapa kamu harus bersedih? Bukankah tujuan awal kita menikah memang untuk mendapatkan seorang anak?"
Kanaya kembali membuka membuka matanya mendengar ucapan Sean. Netranya menatap tajam ke arah Sean. Pria yang beberapa jam lalu mengakui kalau Nabila Kanaya, gadis cupu semasa SMA itu adalah cinta pertamanya.
"Tujuan kita menikah memang untuk mendapatkan seorang anak. Tidakkah kamu berpikir kalau apa yang kalian lakukan ini akan melukai banyak orang?" Kanaya menatap Sean dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Aku menyetujui keinginan Sandra untuk menikah denganmu karena aku tidak punya pilihan lain. Saat itu aku ingin menyelamatkan ayahku karena itu aku menerima syarat dari Sandra untuk menikah denganmu agar sahabatku itu mau meminjamiku uang!"
__ADS_1
"Seandainya ayahku tahu kalau anak yang aku kandung ini akan menjadi milikmu dan juga istrimu, apa kamu bisa membayangkan bagaimana terlukanya ayah saat mengetahui kalau putri tercintanya ternyata rela menjual rahimnya demi uang?"
BERSAMBUNG ....