Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 56 KEDATANGAN SEAN


__ADS_3

Mobil Sean sampai di depan rumah Kanaya. Pria itu turun dari mobil dengan wajah sumringah. Senyuman secerah mentari terbit pada wajah tampannya saat pria itu membayangkan kalau sebentar lagi dirinya akan segera bertemu dengan sang istri yang sangat dirindukannya.


Sean membawa kantong berwarna putih berukuran besar berisi buah mangga muda. Sebelum memutuskan pergi ke rumah kanaya, Sean terlebih dahulu menelepon Bi Marni, sang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Kanaya. Bi Marni mengatakan pada Sean kalau sang nona majikannya itu sedang menginginkan mangga muda.Oleh karena itu, Sean dengan semangat membara langsung mampir ke sebuah toko swalayan untuk membeli mangga untuk istrinya.


Berharap, saat kanaya melihatnya membawa makanan yang dia inginkan, kemudian wanita yang sangat ingin ditemuinya itu langsung menyambut kedatangannya.


Bi Marni yang saat itu sedang berada di dapur segera keluar rumah dengan tergopoh-gopoh. Perempuan yang dipilih Sandra untuk membantu Kanaya itu membuka pintu.


"Selamat datang, Den Sean." Bi Marni tersenyum sambil menundukkan kepala.


"Siang juga, Bi." Sean memberikan kantong berisi mangga muda itu pada Bi Marni. Perempuan itu meraih kantong yang diberikan majikannya.


"Dimana Kanaya, Bi?"


"Non Kanaya ada di kamarnya, Den. Sedang istirahat," sahut


Bi Marni.


Sean mengangguk. Laki-laki itu kemudian bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar istrinya.


Namun, belum sempat Sean sampai ke dalam kamar, laki-laki


itu menghentikan langkahnya. Netranya menangkap sosok cantik yang sudah beberapa waktu ini sangat dirindukannya. Pria itu dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Namun, belum sampai kaki Sean menyentuh lantai dua, suara teriakan kanaya membuat pria itu berhenti.


"Berhenti di sana! Jangan mendekat!"

__ADS_1


Sean mematung mendengar teriakan Kanaya. Tidak menyangka kalau perempuan yang sangat ingin dilihatnya itu justru bersikap kasar padanya. Akan tetapi, kesadaran Sean langsung kembali. Laki-laki itu tetap mendekati Kanaya yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah pucat.


Rambutnya berantakan khas bangun tidur. Namun, meskipun begitu, wajah kanaya tetap terlihat sangat cantik.


"Berhenti, Sean! Aku bilang jangan mendekat!" Kanaya kembali berteriak. itu, perutnya terasa bergejolak. Rasa mual mulai mendera. Perempuan itu menutup mulutnya saat tiba-tiba sesuatu dalam perutnya memaksa keluar.


Kanaya dengan cepat berlari ke kamar mandi, mengeluarkan semua isi perutnya. Sungguh! Dia tidak mengerti, kenapa dirinya merasa sangat mual saat melihat pria yang sudah menikahinya secara siri itu. Bukan hanya mual, Kanaya bahkan memuntahkan semua isi perutnya.


Sean yang merasa khawatir pada Kanaya, bergegas berlari menuju kamar kemudian menyusul Kanaya ke kamar mandi. Pria itu bergegas mendekati kanaya, tetapi, kanaya mengangkat tangannya, memberi isyarat pada laki-laki itu untuk tidak masuk dan mendekatinya.


Bukannya apa-apa, perutnya benar-benar terasa mual saat melihat dan berdekatan dengan Sean. Bukan hanya mual, tetapi, Kanaya juga merasa kesal dan sebal melihat wajah tampan pria yang telah menjadi suaminya itu.


"Aku bilang jangan mendekat!"


"Aku hanya ingin membantumu, Bila!" Sean yang merasa panik tidak memedulikan teriakan istrinya.


"Jangan mendekat! Aku benar-benar mual melihatmu!" Kanaya masih berusaha berbicara dengan Sean. Akan tetapi, sepertinya Sean tidak mau mendengarkan ucapan Kanaya. Dengan sekuat tenaga, kanaya mendorong tubuh Sean yang sekarang berada di belakangnya. Pria itu mencoba membantunya.


Namun, bukannya membantu, kondisi perut Kanaya semakin mual. Kepalanya terasa pusing. Kanaya ingn sekali mengumpati Sean, tetapi, dorongan dalam perutnya membuat tubuhnya lemas.


Perempuan itu terus memuntahkan isi perutnya. Sean begitu panik melihat keadaan istrinya. Kanaya terus mencoba menghalangi Sean untuk menyentuh tubuhnya. Ia sungguh sangat berharap laki-laki itu segera menyingkir dari hadapannya.


Namun, meskipun dirinya sudah berteriak dan melarang pria itu, Sean tetap mendekatinya. Laki-laki itu memegangi tubuh istrinya agar tidak limbung.


Pria itu benar-benar tidak menyadari kalau dirinya membuat keadaan Kanaya semakin parah.

__ADS_1


"Pergi dari sini, jangan mendekat. Aku mohon ...." Kanaya menatap Sean dengan memelas.


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, Bila." Sean menolak. Tangannya terus terulur mengusap tengkuk kanaya saat perempuanitu kembali muntah.


"Aku mohon, menjauhlah dariku, Sean!"


"Hoeekk! Hoeekk!"


Aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan begini, Bila. Aku--"


"Pergilah! Aku mohon ... Aku sudah tidak kuat lagi." Suara Kanaya melemah. Tubuhnya lemas dan akhirnya limbung.


"Sudah aku bilang, aku tidak bisa berdekatan denganmu, tapi kenapa kamu ...." Belum sempat Kanaya melanjutkan ucapannya, perempun itu sudah tidak sadarkan diri.


"Bila!"


"Bila!"


*


BERSAMBUNG ....


Sambil nunggu update terbaru, mampir juga di karya temen Author yuk! Dijamin seru ceritanya.


__ADS_1


__ADS_2