Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 70 AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Sandra menangis dalam pelukan Bi Lasmi. Model cantik itu merasa khawatir dengan keadaan Kanaya yang saat ini sedang berjuang melahirkan anaknya.


Beberapa saat kemudian, Sean sampai ke rumah sakit. Laki-laki itu berlari menuju ruang persalinan setelah Sandra kembali meneleponnya.


Baru saja Sean sampai di depan pintu ruangan, Sandra menghambur ke dalam pelukannya. Perempuan itu menangis di pelukan suaminya.


"Aku takut terjadi apa-apa dengan Naya dan bayinya," isak Sandra.


"Tenanglah! Semuanya pasti akan baik-baik saja." Sean mengusap kepala Sandra kemudian mencium kening perempuan itu.


"Aku sangat khawatir padanya. Aku melihatnya merasa kesakitan tadi. Aku–"


Suara pintu ruangan terbuka, membuka Sandra dan Sean menoleh. Begitupun dengan Bi Lasmi. Seorang dokter muncul sambil mengulum senyum.


"Suami pasien–"


"Saya suaminya, Dok," potong Sean cepat.


"Bisa ikut saya ke dalam? Istri Anda sepertinya sangat membutuhkan dukungan Anda." Dokter cantik bernama Rosa itu tersenyum pada Sean.


"Saya akan menemani istri saya, Dok." Sean menghampiri sang dokter setelah meminta izin pada Sandra. Istri pertamanya itu mengangguk, membuat Sean langsung mengikuti langkah sang dokter masuk ke dalam ruang persalinan.


"Sayang ...." Sean bergegas mendekati Kanaya yang terbaring di atas ranjang pasien. Wanita yang dicintainya itu sedang meringis kesakitan dengan wajah pucat.


Sean memeluk Kanaya. Laki-laki itu memberikan ciuman di kening Kanaya. Menggenggam erat tangan perempuan itu.


Tanpa sadar, laki-laki itu meneteskan air matanya. Merasa tidak tega melihat Kanaya kesakitan.


"Sakit, Sean ... sakit," rintih Kanaya, membuat Sean menangis.

__ADS_1


"Sabar, Sayang, semua akan baik baik-baik saja. Aku yakin, kamu pasti kuat." Sean berbisik lirih sambil terisak. Ini adalah pertama kalinya Sean menangis di depan perempuan selain ibunya.


Melihat Kanaya kesakitan membuka jantung Sean serasa diremas-remas. Laki-laki itu benar-benar tidak tahan.


"Dokter! Kenapa dokter diam saja? Istri saya sudah kesakitan!" Sean tiba-tiba berteriak. Pria itu sangat kesal saat melihat dokter dan beberapa perawat itu terdiam memperhatikan istrinya tanpa mengambil tindakan apa pun.


"Sabar, Pak. Tunggu sebentar lagi." Dokter perempuan yang tadi keluar memanggilnya itu kemudian memeriksa jalan lahir Kanaya.


"Ayo, Suster, kita bersiap!"


Kedua orang suster yang membantu jalannya persalinan mengangguk paham. Mereka mendekati Kanaya yang terlihat pucat dengan keringat membasahi keningnya.


"Sa–sakit, Sean." Kanaya kembali meringis kesakitan.


"Sabar, Sayang. Berdoalah agar persalinannya lancar. Sebentar lagi dia akan lahir ke dunia." Sean kembali berbisik sambil menggenggam tangan Kanaya.


Sementara itu, dokter Rosa sudah menginterupsi Kanaya agar perempuan itu mengikuti perintahnya.


"Dorong terus, Bu. Ibu pasti bisa. Sebentar lagi bayinya keluar." Dokter Rosa kembali memberikan semangat.


Sean menangis sambil terus berbisik di telinga Kanaya. Laki-laki itu bahkan tidak memedulikan rasa sakit saat Kanaya mencengkeram lengannya dengan kuat.


Rasa sakit yang dirasakan oleh Kanaya membuat perempuan itu tanpa sadar mencengkeram bahkan mencakar laki-laki itu.


Kanaya terus berjuang sekuat tenaga. Terus mendorong saat sang jabang bayi seolah menyuruhnya mengeluarkan segenap tenaga agar bayi mungil itu segera keluar dari rahimnya. Peluh sudah membasahi sekujur tubuhnya. Wajah memerah, meringis kesakitan.


Sungguh! Rasanya Kanaya sudah tidak kuat lagi. Tenaganya sudah terkuras.


"Ayo, semangat, Sayang. Kamu pasti bisa. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Berjuanglah agar anak kita bisa segera lahir ke dunia."

__ADS_1


Kata-kata yang keluar dari mulut Sean membuat Kanaya menatap ke arah lelaki itu selama beberapa detik.


"Aku mencintaimu, Naya. Aku mencintaimu." Suara Sean kembali terdengar di tengah isak tangis pria itu.


Kanaya kembali menarik napas kemudian menghembuskannya sambil mengejan. Perempuan itu terus berjuang, hingga akhirnya, suara tangisan bayi terdengar.


Kanaya terbaring lemah dengan peluh dan air mata yang bercampur menjadi satu. Sean semakin terisak. Pria itu menangis haru sambil memeluk Kanaya.


"Terima kasih, Sayang ... terima kasih." Sean mengusap peluh yang membasahi wajah istrinya, kemudian, menghujani seluruh wajah Kanaya dengan ciuman.


"Terima kasih. Aku mencintaimu." Kembali, kata-kata itu terucap dari bibir Sean.


Kanaya tersenyum getir mendengar ucapan Sean. Setelah berjuang melahirkan anaknya, laki-laki itu kemudian mengucapkan kata-kata cinta padanya.


Cinta? Benarkah pria itu mencintainya? Kalau pun benar, entah ia harus merasa senang atau sedih. Berada di antara Sean dan Sandra seringkali membuat Kanaya sesak napas.


Selama ini, Kanaya memang hanya diam saja. Wanita itu tidak pernah protes atau pun mengatakan sesuatu tentang pernikahan mereka. Melihat Sandra begitu mencintai Sean membuat Kanaya sadar diri.


Apalagi, saat mengingat kalau pernikahannya dengan Sean adalah pernikahan sementara. Pernikahan kontrak untuk menghasilkan anak alias sewa rahim seperti kisah cerita dari beberapa novel online yang pernah Kanaya baca.


Kanaya lebih memilih mencintai Sean dalam diam daripada harus menunjukkannya. Apalagi, sampai mengatakan tentang semua perasaannya pada Sean.


Biarlah, rasa cinta itu ia simpan sendiri tanpa seorang pun yang tahu. Sungguh! Kanaya tidak ingin merebut kebahagiaan Sandra. Kalaupun Kanaya sangat mencintai Sean, tetapi, ia tidak pernah berniat sedikit pun berniat merebut laki-laki yang menjadi suami sirinya itu dari Sandra.


"Aku mencintaimu, Naya. Sangat mencintaimu! Terima kasih karena kamu sudah berjuang melahirkan anak kita."


*


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


Jangan lupa baca karya Author yang lain yuk!



__ADS_2