Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 72 DILEMA


__ADS_3

Hari ini Kanaya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sudah lebih dari tiga hari perempuan itu menginap di rumah sakit. Sebenarnya, keadaan Kanaya sudah pulih pasca melahirkan secara normal beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, entah mengapa Kanaya malas sekali pulang.


Perempuan itu membayangkan, seandainya ia pulang ke rumah, Sandra dan Sean pasti akan membawa putranya pergi ke rumahnya. Kanaya menghela napas panjang, mencoba menekan rasa sakit hatinya.


"Dari awal kamu sudah tahu kalau saatnya tiba, kamu harus menyerahkan bayimu pada mereka sebagai ganti budi baik Sandra. Lalu, kenapa sekarang kamu merasa keberatan?" batin Kanaya bergejolak.


Memang benar, setelah menyetujui persyaratan dari Sandra untuk menikah dengan Sean, hidup Kanaya hanya fokus pada rencana Sandra yang menginginkan anak darinya. Anak yang merupakan darah daging Sean yang terlahir dari rahimnya.


Kanaya berpikir, setelah tugasnya berakhir, maka hidupnya akan kembali berubah seperti dulu lagi. Hidup bahagia dan tinggal bersama kedua orang tua dan kedua adiknya. Ia sangat yakin kalau dirinya akan baik-baik saja setelah terlepas dari Sean dan Sandra. Namun, kenyataannya saat ini ia justru dilema.


Dilema antara harus memenuhi janjinya pada Sandra dan Sean atau membuat kedua orang tuanya bahagia. Seandainya Kanaya menyerahkan bayinya pada Sandra, secara tidak langsung ia telah menghancurkan impian sang ayah untuk memiliki seorang cucu.


Namun, seandainya Kanaya ingkar janji tidak menyerahkan bayi itu pada Sandra, ia sudah tentu harus membayar uang yang telah dipakai untuk pengobatan ayahnya.


"Sayang ... kamu udah siap?" Sean baru saja masuk ke dalam ruangan Kanaya. Laki-laki itu baru saja menyelesaikan administrasi rumah sakit.


Kanaya menatap pria yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya. Hatinya bergetar melihat pria itu tersenyum mendekatinya. Semenjak kelahiran anaknya, Sean terlihat sangat bahagia. Begitupun dengan Sandra. Sepasang suami istri itu tampak sangat bahagia dengan senyum yang selalu menghiasi wajah mereka.


"Bisakah aku tinggal di sini beberapa hari lagi?" tanya Kanaya. Netranya melirik ke arah bayi laki-laki yang dengan penuh perjuangan ia lahirkan beberapa hari yang lalu. Bayi mungil itu tertidur pulas setelah puas meminum Asi.

__ADS_1


Mengingat Asi, hati Kanaya kembali menahan tangis. Membayangkan, seandainya bayi kecilnya itu menangis karena tidak meminum Asi darinya. Kanaya tahu, ada beberapa jenis susu formula yang dijual bebas di luar sana.


Akan tetapi, bukankah akan lebih baik jika bayi yang baru beberapa hari lahir itu meminum susu ibunya?


"Kenapa kamu tidak mau pulang? Bukankah dokter sudah mengizinkan kamu pulang dari kemarin?" Sean berkata dengan lembut. Pria itu duduk di tepi ranjang, mengusap kepala Kanaya dengan lembut .


"Aku ingin bisa melihat anakku lebih lama lagi. Setelah sampai di rumah, aku yakin kamu dan Sandra pasti akan membawa anakku ke rumah kalian. Benar bukan?" Kanaya menatap Sean dengan kedua mata berkaca-kaca. Sementara itu, Sean terdiam saat mendengar ucapan istri keduanya itu.


Pria itu tidak tahu akan menjawab apa, karena kenyataannya memang begitu. Setelah Kanaya pulang dari rumah sakit, Sandra berencana akan membawa bayi mungil itu ke rumahnya. Di rumah besar itu, Sandra sudah menyiapkan semua perlengkapan bayi mungil yang telah dilahirkan oleh Kanaya.


"Jika kamu memang belum ingin pulang, aku tidak akan memaksa. Tapi apa kamu tidak kasihan dengan dia?" Sean menunjuk ke arah bayinya yang tertidur di dalam boks yang terletak di samping Kanaya.


"Baiklah! Ayo kita pulang sekarang!"


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud ingin memisahkan kalian berdua aku–"


"Jangan memanggilku sayang. Sudah berapa kali aku katakan padamu, jangan memanggilku dengan sebutan itu karena sebutan itu lebih pantas untuk Sandra," tukas Kanaya. Setiap kali Sean mengucapkan kalimat itu, cantik Sandra terbayang.


"Naya." Sean menatap wanita yang telah masuk ke dalam hatinya itu dengan lekat. Laki-laki itu sangat tahu apa yang sekarang dirasakan oleh Kanaya. Sean sendiri tidak menyangka kalau rasanya akan seberat ini.

__ADS_1


Rasa cinta yang sudah tumbuh dengan subur di hatinya, membuat Sean tidak bisa kehilangan Kanaya begitu saja. Sean ingin Kanaya tetap berada di sampingnya. Ikut membesarkan putranya, walaupun ada Sandra di antara mereka.


"Bisakah kita tetap bersama, Nay? Aku tidak bisa kehilangan kamu. Kamu tahu, 'kan, kalau aku juga sangat mencintai kamu?" Sean menatap Kanaya dengan sendu.


"Aku sudah berjanji pada Sandra. Lagipula, pernikahan kita hanya pernikahan siri. Pernikahan yang terjadi karena kalian ingin menyewa rahimku!" Kanaya berucap penuh penekanan. Entah mengapa, ia sangat marah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Sean.


"Naya." Sean menatap perempuan di depannya itu dengan perasaan campur aduk.


"Aku hanya ingin bersamamu. Aku tidak ingin bercerai denganmu, aku ingin kita sama-sama merawat anak kita. Apa aku salah?" Sean menatap Kanaya dengan menahan rasa sakit yang menjalar ke ruang hatinya.


Mendengar ucapan Kanaya, sudut hatinya yang paling dalam serasa terkoyak oleh benda tajam. Sean benar-benar tidak bisa kehilangan wanita di depannya itu.


"Jelas saja kamu salah, Sean! Kalau kamu tidak menceraikan aku, itu sama saja kamu telah mengingkari perjanjian kita."


"Tapi aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu, Naya!"


"Aku juga tidak ingin mengkhianati Sandra, Sean. Apa kamu tidak memikirkan perasaannya sama sekali?"


"Naya ...."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2