
Kanaya tercengang mendengar ucapan Rosie. Bagaimana mungkin dia tetap menjadi istri Sean? Laki-laki itu adalah suaminya Sandra. Mereka berdua saling mencintai. Sementara dirinya adalah seseorang yang tiba-tiba hadir di tengah mereka karena perjanjian.
Dalam arti kata, seandainya Sandra tidak menyeretnya menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka, apa pun yang terjadi, dirinya pasti tidak akan mau menikah dengan Sean.
Kanaya menikah dengan Sean karena perjanjian yang Sandra buat. Menikah dengan Sean adalah kompensasi yang harus ia bayar pada Sandra yang telah meminjamkan uang satu miliar untuk biaya operasi ayahnya.
Perjanjian tidak tertulis yang harus selesai dalam waktu satu tahun atau setelah Kanaya melahirkan. Setelah anak yang diinginkan Sandra lahir, Kanaya dan Sean akan bercerai.
"Bagaimana, Nay, apa kamu mau tetap bertahan bersama Sean?" Rosie kembali bertanya. Perempuan paruh baya itu tampak tidak sabar menunggu jawaban.
"Nathan sangat membutuhkanmu. Biar bagaimanapun, tidak peduli kalian menikah secara apa, Nathan adalah cucuku. Aku ingin yang terbaik buat dia." Rosie kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak mungkin melanjutkan pernikahan ini, Tante. Maafkan aku, jika aku mengecewakan Tante."
"Maksud kamu, kamu tidak mau melanjutkan pernikahan kamu dengan Sean?" Meskipun Rosie sudah menduga kalau Kanaya akan menolak permintaannya, tetapi, perempuan itu sedikit terkejut.
Dia tidak menyangka kalau Kanaya dengan tegas langsung menolaknya.
"Sesuai perjanjian, aku akan bercerai dengan Sean setelah aku melahirkan bayi yang diinginkan oleh Sandra."
"Naya–"
__ADS_1
"Aku menikah dengan Sean karena kegilaan Sandra yang ingin memenuhi permintaan Tante untuk memberikan seorang cucu. Seandainya saat itu aku tidak membutuhkan uang untuk biaya operasi ayah, aku juga tidak akan sudi menerima permintaan konyol Sandra untuk menikah dengan Sean," jelas Kanaya.
"Sean dan Sandra saling mencintai. Bahkan dari awal pernikahan, Sean selalu mengingatkan aku kalau dirinya hanya mencintai Sandra. Sementara aku hanyalah perempuan yang rahimnya dia sewa untuk melahirkan anak. Aku tidak mungkin mengkhianati Sandra, Tante. Biar bagaimanapun, dia adalah sahabat baikku."
Ucapan Kanaya membuat kedua orang tua di depannya itu saling berpandangan dan bersamaan menghela napas panjang. Seperti dugaan mereka, Kanaya pasti akan menolak keinginan mereka.
"Lalu, bagaimana dengan Nathan? Apa kamu juga akan meninggalkan dia?" Rosie menatap wajah cantik Kanaya yang langsung berubah tegang.
"Jika boleh, aku ingin membawa Nathan bersamaku." Kanaya menatap kedua orang tua Sean dengan gugup. Perempuan itu kemudian menunduk, sambil meremas tangannya, tidak berani berharap kalau kedua orang itu akan mengabulkan permintaannya.
Bagaimanapun juga, Nathan saat ini sudah menjadi milik mereka. Nathan adalah hak Sandra dan Sean. Meskipun dirinya adalah ibu yang telah melahirkannya, tetapi hak untuk mengasuh Nathan sudah hilang semenjak Kanaya memutuskan untuk menyetujui syarat dari Sandra waktu itu.
Mengingat semua itu, dada Kanaya terasa sesak. Bukankah dia sama saja seperti ibu yang sudah menjual anaknya? Menjual anak yang bahkan saat itu belum lahir ke dunia.
Maafkan mama Nathan ....
"Kamu tidak bisa membawa cucuku bersamamu. Kamu pasti tidak lupa bukan, kalau anak itu sudah menjadi milik Sean dan Sandra?" Rosie menatap wajah cantik Kanaya yang terlihat menangis.
Kanaya tersenyum mendengar ucapan Rosie. Kepalanya kemudian mengangguk, membenarkan kata-kata yang keluar dari mulut perempuan paruh baya itu.
"Kamu bisa merawat Nathan asal kamu tetap mau menjadi istri Sean." Rosie memberi pilihan.
__ADS_1
"Tapi, Ma, kalau Kanaya tidak mau terus tiba-tiba dia memutuskan pergi, bagaimana dengan cucu kita? Papa mau, Nathan tetap bersama ibunya. Cucu kita masih butuh ASI Kanaya, Ma." Ibrahim memberikan usul. Merasa tidak setuju dengan ucapan istrinya.
"Lalu, kita harus bagaimana, Pa? Mama juga tidak mau cucu kita terlantar. Walaupun dia bukan lahir dari menantu resmi kita, tapi Nathan adalah darah daging Nathan, penerus Ibrahim. Mama tidak akan membiarkan cucu mama menderita." Rosie terlihat sedih. Netranya kembali menatap Kanaya yang masih meneteskan air mata.
"Aku tidak mungkin menikah dengan Sean, Tante. Sean mencintai Sandra, begitupun sebaliknya. Aku tidak mau merusak kebahagiaan mereka. Aku tidak mau jadi orang ketiga, walaupun kenyataannya dari setahun yang lalu aku memang sudah berada di tengah-tengah mereka dan menjadi istri kedua Sean." Kanaya kembali menangis.
Kalau pun dalam hati Kanaya sangat bahagia karena kedua orang tua Sean menyukainya bahkan memintanya menjadi istri sah nya Sean, tetapi, hati nuraninya menolak. Dia tidak mungkin mengkhianati sahabatnya. Apalagi, saat ini, Sandra terlihat begitu terpuruk karena diusir oleh Sean.
"Aku bisa merawat Nathan tanpa harus menikah dengan Sean, Tante. Aku akan membawa Nathan ke rumahku. Aku akan merawat dia. Sean dan kalian berdua bisa kapan saja datang untuk melihat Nathan. Bagaimana?" Kanaya mencoba bernegosiasi.
"Aku ingin memberikan cucuku fasilitas yang terbaik. Tidak mungkin aku membiarkan dia tinggal bersamamu." Rosie menggeleng.
"Kenapa kamu tidak menikah dengan saja dengan Sean? Memangnya apa kurangnya Sean, sampai-sampai kamu menolaknya?" Perempuan paruh baya itu masih penasaran. Seharusnya, Kanaya senang bukan, karena ia telah memilihnya sebagai menantu keluarga Ibrahim?
"Aku tidak mungkin mengkhianati Sandra, Tante. Sean dan Sandra saling mencintai. Mungkin benar, saat ini mereka sedang bertengkar, tapi aku yakin, Sean pasti akan memaafkan Sandra dan kembali padanya." Kanaya menjelaskan yang nantinya akan terjadi pada Sean dan Sandra sesuai dengan keyakinannya.
"Ini pilihan yang sulit bagiku. Aku tidak bisa memutuskannya," lanjut Kanaya.
"Apa selama menikah dengan Sean, kamu tidak sedikit pun punya perasaan terhadap Sean? Kalian sudah menikah selama satu tahun, tidak mungkin di antara kalian tidak terjadi apa-apa 'kan?"
Pertanyaan Rosie membuat Kanaya terkejut.
__ADS_1
"Aku tidak yakin, kalau Nathan dilahirkan tanpa cinta."
BERSAMBUNG ....