
Setelah kedatangan Sean dan Kanaya juga ibu mertuanya waktu itu, Sandra tidak lagi ingin dijenguk oleh siapapun. Walaupun itu oleh Sean sendiri.
Sandra menenangkan diri di rumah sakit sambil menunggu pulih. Sebenarnya, Sandra ingin sekali pergi dari sana. Akan tetapi, wanita itu tidak ingin gegabah. Sandra merasa, kalau kondisinya harus sudah benar-benar sehat, baru dirinya keluar dari sana.
Keputusannya untuk bercerai dengan Sean pastinya akan menguras banyak tenaga dan pikiran Sandra. Wanita itu tidak mau, dirinya kembali ke rumah sakit karena kondisinya yang kurang baik.
Saat ini, Sandra ingin menenangkan diri sambil menyusun rencana selanjutnya. Meskipun sakit hati, dia akan berusaha untuk tetap kuat.
Beberapa hari ini Sandra terus menangis saat membayangkan perpisahannya dengan Sean. Namun, rasa sakit itu tetap tidak bisa membuat Sandra mundur.
Wanita egois dan keras kepala itu tetap ingin berpisah dengan Sean.
Sementara itu, di tempat lain, tiga orang lelaki yang saat itu berniat ingin mencelakai Sandra, menunduk pasrah saat beberapa petugas berseragam menggelandang mereka ke kantor polisi.
Ketiga lelaki itu pasrah karena mereka memang terbukti bersalah. Apalagi, dari bukti rekaman CCTV memperlihatkan saat mereka bersama dengan Maya berniat mencelakai Sandra.
Bagas menunduk, menyesali perbuatannya. Kini, mereka bertiga sudah berada dalam sel tahanan. Sama-sama terdiam, menyesali perbuatan yang pernah mereka lakukan pada Sandra.
"Seandainya kita tidak menuruti keinginan wanita brengsek itu, saat ini kita pasti akan baik-baik saja." Alex menatap kedua temannya.
"Percuma lu sesalin, Lex. Penyesalan kita nggak guna. Nggak bakal bisa ngeluarin kita dari sini." Hans menatap Alex yang kini sedang mengepalkan tangan menahan amarah.
__ADS_1
"Lu bener, semuanya sudah terlambat. Gara-gara wanita ****** itu, kita semua sekarang mendekam di sini." Alex memejamkan mata.
Sementara itu, Bagas hanya terdiam. Laki-laki itu tidak menanggapi semua ucapan kedua sahabatnya. Saat ini, pikiran lelaki itu hanya tertuju pada Sandra. Perempuan yang hampir saja mati karena perbuatannya.
Akibat perbuatan yang dilakukannya, perempuan itu saat ini memutuskan untuk berpisah dengan suaminya karena dia merasa kotor tubuhnya telah dijamah oleh lelaki yang bukan suaminya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Itulah yang saat ini sedang dirasakan orang ketiga orang pria tersebut. Mereka sungguh tidak menyangka kesepakatannya dengan Maya ternyata berujung dengan masuk penjara.
***
Plakk!
Suara tamparan yang cukup keras menggema memenuhi ruangan. Suara teriakan perempuan yang menjerit kesakitan terdengar.
Wanita yang telah mencelakai istri pertamanya itu harus mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Termasuk, balasan dari Sandra, sahabat yang telah dikhianatinya.
Maya kembali menjerit saat tangan Sandra kembali mendarat di pipinya dengan keras. Wajah wanita itu terlempar ke samping saking kerasnya pukulan tangan Sandra.
Maya meringis kesakitan. Namun, belum sempat dia mengambil napas tangan Sandra menarik rambut panjangnya, membuat Maya kembali menjerit kesakitan.
Sandra menatap perempuan yang telah menjadi sahabat sekaligus managernya selama bertahun-tahun itu dengan penuh dendam.
__ADS_1
Sandra yang biasanya lemah lembut terhadap Maya, kini berubah bak singa yang ingin memakan mangsanya. Model cantik itu menarik rambut Maya dengan kuat.
"Le–pas. Sa–sakit!" Maya kembali menjerit. Wajahnya memerah akibat tamparan yang dilayangkan oleh Sandra secara bertubi-tubi.
Namun, mendengar teriakan Maya, Sandra justru makin beringas. Model cantik itu meluapkan semua amarahnya pada Maya, sahabat sekaligus orang kepercayaannya selama ini.
"Dasar, Brengsek! Bajingan! ****** sialan! Berani-beraninya kamu menipuku!" teriak Sandra. Tangannya kembali berteriak menarik rambut Maya.
"Am-pun, Sandra. Ampun! Lepaskan aku, aku mohon ...." Maya menatap Sandra dengan raut wajah memohon.
Namun, Sandra tidak memedulikan teriakan wanita itu. Rasa sakit dikhianati oleh Maya, membuat Sandra menyimpan dendam pada mantan managernya itu.
"Brengsek, kamu, Maya! Gara-gara kamu, aku kehilangan semuanya!" Sandra menatap Maya dengan penuh amarah.
"Aku tidak pernah menyangka, kalau kamu tega menjualku pada mereka. Kamu benar-benar iblis, Maya! Tega-teganya kamu menjual sahabatmu sendiri pada pria hidung belang seperti mereka!" Sandra kembali menarik rambut dan menampar Maya berkali-kali.
Maya menjerit, menangis menahan rasa sakit di wajah dan rambutnya. Perempuan itu sungguh tidak menyangka, kalau perbuatannya kali ini harus terbongkar dan akhirnya membuatnya jatuh ke tangan keluarga Ibrahim.
Tamatlah sudah riwayatnya sekarang.
"Memangnya apa salahku padamu sampai-sampai kamu mengkhianatiku, hah?"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....