Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 39 TIDAK SADARKAN DIRI


__ADS_3

Sean bergegas keluar kamar saat mendengar teriakan Rianti dari arah dapur. Laki-laki itu berlari ke arah dapur saat melihat wajah panik sang ibu mertua.


"Naya! Bangun, Naya!" Rianti menepuk-nepuk wajah Kanaya yang terlihat tidak sadarkan diri.


Perempuan berwajah cantik itu baru saja selesai menyiapkan makanan untuk sang suami yang baru saja pulang dari Surabaya.


Namun, setelah selesai menghidangkan makanan, tubuh Kanaya tiba-tiba limbung. Wanita itu langsung tak sadarkan diri.


Gibran dan Danu yang sedang mengobrol di luar rumah bersama Suparman pun bergegas masuk ke dalam rumah saat mendengar teriakan Rianti. Dua pria berbeda usia itu bergegas menuju arah dapur.


Saat Gibran bermaksud mengangkat tubuh Kanaya yang tergeletak di lantai, Sean tiba-tiba datang dan langsung menyingkirkan Gibran.


Pria yang menjadi suaminya Kanaya itu langsung mengangkat tubuh Kanaya dan bergegas keluar rumah.


"Parman! Kita ke rumah sakit sekarang!" teriak Sean dengan panik.


Suparman yang sudah siaga langsung masuk ke dalam mobil tanpa menjawab ucapan majikannya. Dia membuka pintu mobil, membiarkan Sean masuk terlebih dahulu. Setelah itu, Suparman berlari masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.


"Cepat, Parman!"


"Baik, Pak." Suparman menyalakan mobil, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Kanaya.


Sementara itu, Rianti dan Danu juga Gibran menyusul mobil yang dikendarai Suparman dari belakang. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dengan wajah panik.


Namun, baru saja mereka bersiap berangkat, Gibran kembali turun. Laki-laki itu mendekati warung sembako Rianti kemudian menurunkan rolling door dan menguncinya. Laki-laki berwajah tampan yang merupakan adik sepupu Kanaya itu kemudian berlari masuk ke dalam mobil.


Mobil yang dikendarai oleh Gibran keluar dari halaman rumah Kanaya, kemudian mengejar mobil Sean yang sudah terlebih dahulu melaju menuju rumah sakit.


"Semoga tidak terjadi sesuatu pada anak kita." Rianti memeluk Danu. Perempuan paruh baya itu terlihat sangat panik.


Begitupun dengan Danu.

__ADS_1


Saking panik, Rianti lupa dengan penyakit jantung Danu.


"Mas, kamu baik-baik saja 'kan?" Rianti menatap suaminya yang terlihat sangat panik.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya khawatir sama Naya." Danu memeluk istrinya. Mereka berdua saling menguatkan.


"Tapi kamu beneran nggak apa-apa 'kan, Mas?" Rianti terlihat masih mengkhawatirkan suaminya.


"Aku baik-baik saja. Tenanglah!" Danu meyakinkan istrinya. Dadanya memang sedikit sesak, tetapi ia masih bisa menahannya.


Rianti menggenggam tangan Danu yang berkeringat dingin.


"Kita harus yakin, kalau putri kita akan baik-baik saja," ucap Rianti akhirnya. Menutupi semua kecemasan hatinya agar Danu juga tidak terlalu panik.


Rianti takut kalau penyakit jantung suaminya kembali kambuh. Perempuan paruh baya memeluk lengan suaminya dan menyandarkan kepala di dada Danu.


"Semoga putri kita baik-baik saja," ucap Danu sambil memejamkan mata. Ia sungguh khawatir dengan keadaan Kanaya.


Mobil Sean sampai di depan rumah sakit. Pria itu keluar dari mobil dengan tergesa sambil menggendong tubuh Kanaya.


Laki-laki itu kemudian berlari masuk ke dalam rumah sakit sambil berteriak memanggil tenaga medis.


Beberapa orang perawat datang sambil mendorong brankar. Sean membaringkan tubuh Kanaya ke atas brankar, kemudian mengikuti langkah petugas medis yang mendorong brankar membawa istrinya ke ruang unit gawat darurat.


Sean berhenti di depan pintu ruangan saat seorang petugas medis melarangnya ikut masuk ke dalam. Pria itu menghela napas saat rasa panik menyerangnya.


melihat Kanaya terbaring tak berdaya membuat sudut hatinya terasa nyeri. Ada rasa sakit tak kasat mata yang kini mengalir ke seluruh ruang hatinya.


Sean sangat khawatir jika terjadi sesuatu terhadap perempuan itu.


*Aku bahkan baru saja datang, kenapa tiba-tiba terjadi sesuatu padanya?

__ADS_1


Ya, Tuhan ... aku benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu padanya*.


Sean meremas rambutnya frustasi. Laki-laki itu berdiri dengan perasaan tidak tenang di depan pintu ruang unit gawat darurat.


Dari arah samping, terlihat Gibran dan kedua mertuanya melangkah bergegas mendekati Sean.


"Bagaimana keadaan Kanaya, Sean?" Suara Rianti terdengar panik. Perempuan paruh baya itu menatap menantunya yang terlihat sama-sama panik dan cemas.


"Dokter sedang memeriksanya di dalam," jawab Sean. Laki-laki itu memeluk sang ibu mertua untuk menenangkannya.


"Kenapa Naya tiba-tiba pingsan, Bu? Apa dia baru saja melakukan sesuatu sampai-sampai dia tidak sadarkan diri?" Sean benar-benar penasaran. Kanaya baru saja keluar dari kamarnya beberapa saat karena dia mengatakan akan menyiapkan makanan untuknya.


Laki-laki itu bahkan merasa sedikit kesal pada istrinya yang terlihat datar, tidak seperti biasanya. Padahal, Sean ingin sekali melepas rindu yang begitu menggebu pada istri keduanya itu.


Namun, sikap dingin Kanaya membuatnya gagal menyalurkan hasrat yang sudah menggebu hingga sampai ke ubun-ubun.


Kepulangan Sean ke ibukota secara tiba-tiba karena dirinya merasa cemburu melihat status Kanaya di aplikasi hijau yang sedang tertawa lepas dengan seorang pria.


Namun, Sean sungguh tidak menyangka kalau orang yang menjadi pusat kecemburuannya itu adalah adik sepupu dari istrinya.


*Aku tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan untukmu saat ini, yang jelas, aku ingin sekali marah saat melihatmu bersama laki-laki lain.


Apalagi, sekarang aku tahu kalau kamu adalah perempuan yang pernah hadir dan menjadi penghuni hatiku di masa lalu*.


Sean menghembuskan napas panjang. Merasa bimbang dengan perasaan yang saat ini ia rasakan pada istri keduanya itu.


"Kanaya baru saja selesai menyiapkan makanan untukmu. Setelah itu, dia tidak sadarkan diri. Ibu tidak tahu kenapa tiba-tiba Naya pingsan karena tadinya Naya baik-baik saja." Suara Rianti menyapu pendengaran Sean, membuat pria itu tersadar dari lamunannya.


"Ibu benar-benar cemas. Ibu takut terjadi apa-apa sama Kanaya."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2