Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 49 MELEPAS RINDU


__ADS_3

Setelah beberapa jam perjalanan, Sean sampai di rumah besarnya di ibukota. Laki-laki itu keluar dari mobilnya dengan tergesa.


Semenjak dari perjalanan tadi, Sean menelepon istri pertamanya, tetapi, panggilan teleponnya tidak dijawab oleh Sandra.


Laki-laki itu sangat khawatir, maka dari itu, ia langsung berlari ke dalam rumah setelah mobilnya baru saja sampai di halaman.


"Sandra mana, Bi?" Sean berhenti di depan perempuan paruh baya yang menjadi asisten rumah tangganya.


"Non Sandra ada di atas, Den. Baru selesai olahraga," jelas Bi Inten asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah Sean.


"Terima kasih, Bi." Sean langsung bergegas menuju lantai atas. Laki-laki itu menuju kamar utama, tempat dirinya dan Sandra menghabiskan malam bersama.


Sean membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Sandra yang baru saja ingin berbaring mengistirahatkan tubuhnya tersentak kaget melihat pria yang sangat dirindukannya itu kini berdiri di depan pintu kamarnya.


Perjalanan Sean menuju ke rumah mereka menghabiskan waktu tiga jam. Saat Sandra menelepon Kanaya, pria itu baru saja berangkat menuju ibukota. Sedangkan Sandra, setelah melakukan panggilan telepon dengan Kanaya, wanita cantik itu menghabiskan waktu di ruang olahraga selama hampir lebih dua jam.


Sandra meluapkan amarahnya di ruang olahraga itu sampai puas. Dia bukan hanya berteriak marah menyalahkan diri sendiri, tetapi perempuan itu juga menangis.


Menangis, menyesali keputusannya. Sebelum sahabat dan suaminya itu menikah, Sean sudah seringkali mengingatkannya untuk memikirkan kembali semua rencana dan keputusan Sandra.


Namun, demi ambisi, model cantik itu menulikan telinga. Ia bahkan tidak mendengar peringatan dan nasihat Sean. Perempuan itu tetap memantapkan rencana dan ambisinya menikahkan Sean demi mendapatkan anak yang diinginkan oleh mertuanya.


"Sayang ...." Sean menghampiri Sandra yang masih terkejut melihatnya.


"Kamu sudah sampai? Aku pikir kamu masih dalam perjalanan." Sandra bangun dari tempat tidur kemudian memeluk pria yang sudah beberapa hari dirindukannya.


"Aku merindukanmu." Sean memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"Aku juga merindukanmu." Sandra membalas pelukan Sean. Perempuan itu menumpahkan segala kegelisahannya selama beberapa hari ini dalam pelukan suaminya.


"Kamu jahat! Kenapa kamu pulang tanpa memberitahukanku terlebih dahulu? Kamu bahkan tidak meneleponku sama sekali!" Sandra tiba-tiba merasa kesal saat mengingat kalau laki-laki itu pulang dari Surabaya tanpa memberitahunya.


Suaminya itu justru langsung pulang ke rumah sahabatnya yang juga berstatus istri dari suami tercintanya itu.


"Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku, karena itu kamu tidak memberitahu kepulanganmu?" ucap Sandra.


"Sayang ... kamu ini bicara apa? Mana mungkin aku melupakanmu?" Sean menangkup wajah Sandra, kemudian menciumi seluruh area wajah cantik istrinya.


"Aku mencintaimu. Mana mungkin aku melupakanmu?" Sean kembali mendaratkan bibirnya ke seluruh wajah Sandra. Namun, kali ini bibirnya bergerak mencium bibir Sandra yang begitu menggodanya.


"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu, Sayang ...," ucap Sean setelah melepaskan ciumannya.

__ADS_1


Kening mereka beradu. Kedua mata mereka saling mengunci, sama-sama memancarkan kerinduan yang teramat dalam.


Sean kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Sandra, kemudian, mereka berdua pun terhanyut dalam gejolak rindu yang sama-sama membuncah.


Napas keduanya sama-sama memburu seiring gairah yang mulai naik ke ubun-ubun.


"Aku menginginkanmu, Sandra."


Tanpa menunggu jawaban dari Sandra, Sean langsung menyerang wanita itu, menumpahkan semua rindu dan hasrat yang menggebu yang sedari kemarin ia tahan karena Kanaya mengabaikannya.


Kanaya ....


Untuk pertama kalinya, Sean memikirkan perempuan lain saat dirinya sedang berada di atas puncak bersama Sandra.


"Aku mencintaimu ...." Hampir saja mulut Sean menyebutkan nama Kanaya kalau saja ia tidak segera melabuhkan bibirnya di atas bibir Sandra.


"Aku juga mencintaimu."


***


Kanaya terbangun dengan perut lapar. Perempuan itu kemudian bergegas keluar dari kamar menuju dapur.


"Selamat malam, Non," Bi Marni, asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Sandra untuk mengurus Sean dan Kanaya.


Bi Marni tersenyum mendengar ucapan majikannya itu. Perempuan yang sedang hamil muda itu terlihat imut meskipun dengan muka bantal dan rambut berantakan.


Merasa lapar, perempuan hamil itu langsung menuju dapur tanpa memperhatikan penampilannya. Kanaya bahkan tidak sempat mencuci mukanya.


"Non Kanaya tidur dari siang, sampai-sampai tidak sadar kalau hari sudah malam."


"Hah? Benarkah, Bi?" Kanaya merasa terkejut. Netra cokelatnya melirik ke arah jam dinding yang terletak di area dapur.


"Sudah hampir jam delapan malam?" pekik Kanaya kaget.


Sementara itu, Bi Marni tersenyum melihat Kanaya yang terkejut sekaligus merasa heran.


"Berarti aku tidur lama banget, ya, Bi?"


Bi Marni kembali tersenyum, kemudian mulai menghidangkan makanan di meja makan.


"Terima kasih, Bi. Perutku lapar banget." Kanaya mengusap perutnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jelas saja lapar. Semenjak datang tadi siang, Non Kanaya belum makan." Bi Marni kembali meletakkan makanan di depan Kanaya.


"Iya juga sih, tadi siang kepalaku pusing dan sangat mengantuk, Bi. Makanya aku langsung tidur."


"Tidak apa-apa. Bawaan bayi itu. Lagipula, Non Kanaya juga harus banyak-banyak beristirahat."


Kanaya mengangguk sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Saat Kanaya kembali menyendok nasi dan memasukkannya ke dalam mulut, perempuan itu tiba-tiba mengingat Sean.


"Apa dia sudah sampai di rumah Sandra?" ucap Kanaya dalam hati. Pertanyaan yang ia sendiri sudah tahu jawabannya.


"Den Sean tadi menelepon, mengabari bibi kalau saat ini dia sudah sampai di rumah Non Sandra."


Kanaya mendongak mendengar ucapan Bi Marni.


"Den Sean sudah menelepon Non Kanaya berkali-kali, tapi ponselnya tidak aktif katanya," lanjut Bi Marni membuat Kanaya tersenyum.


Ponselnya sengaja ia matikan karena dirinya tidak mau diganggu oleh siapapun termasuk Sean.


"Ponselku mati, Bi." Kanaya masih tersenyum ke arah Bi Marni.


Namun, beberapa saat kemudian, ponsel Bi Marni yang terletak di atas meja dapur berdering. Perempuan itu buru-buru beranjak mengambil ponselnya.


"Den Sean." Bi Marni memberikan ponsel itu pada Kanaya yang langsung cemberut.


"Halo, Naya."


"Hmm."


"Aku sudah sampai di rumah Sandra. Besok atau lusa aku pulang."


"Naya–"


"Kamu tidak pulang lagi ke sini juga nggak apa-apa. Malah bagus!"


"Naya, kamu–"


"Bukankah, kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak akan menyentuhku setelah aku hamil?"


"Sekarang aku sudah hamil bukan? Jadi, kamu dan Sandra hanya tinggal duduk manis menunggu sampai aku melahirkan anakmu."

__ADS_1


"Kanaya!"


BERSAMBUNG ....


__ADS_2