Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 42 LAKI-LAKI ITU


__ADS_3

Sean menatap wajah Kanaya yang saat ini berlinang air mata. Ada rasa sakit yang tiba-tiba mengalir ke dalam ruang hatinya saat melihat perempuan yang baru ia ketahui adalah perempuan yang sama yang dulu pernah dicintainya itu menangis.


Sean ingin mengusap air mata Kanaya dan memeluk perempuan itu. Namun, dengan cepat Kanaya menepis tangan lelaki itu.


"Sesuai dengan ucapanmu, setelah hamil, kamu bilang tidak akan menyentuhku bukan?" Kanaya menatap laki-laki yang sangat dicintainya itu dengan kedua mata yang masih berkaca-kaca.


Perempuan itu menghapus dengan kasar air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.


Rasanya, hari ini ia sangat ingin menangis dalam waktu yang cukup lama. Menangisi penderitaan yang ia rasakan semenjak dirinya bertemu kembali dengan Sean.


Seandainya saat itu Kanaya tidak dalam posisi sulit, perempuan itu pasti tidak akan pernah menerima syarat yang diberikan Sandra. Syarat dari hutang yang dia pinjam yang akhirnya mempertemukannya dengan Sean.


Sean ... lelaki yang selama bertahun-tahun singgah di hatinya. Lelaki yang membuat Kanaya menolak semua pria yang mendekatinya.


Beberapa jam lalu, laki-laki itu mengatakan sesuatu yang membuat hatinya berbunga-bunga. Dia mengakui kalau gadis cupu yang dia kenal saat SMA adalah cinta pertamanya. Sean jatuh cinta pada gadis cupu itu, tetapi, dia belum sempat mengatakan pada gadis itu kalau dia mencintainya.


Ucapan Sean membuat Kanaya bahagia karena ternyata cinta yang selama ini ia simpan untuk Sean berbalas. Laki-laki yang dulu sangat dicintainya itu juga ternyata mempunyai perasaan yang sama dengannya.


Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama saat laki-laki itu tiba-tiba menyebut nama Sandra dan bahkan menjelaskan kalau dia jatuh cinta pada Sandra setelah sekian lama mencari Kanaya tetapi tidak menemukannya.


Sean dengan jelas mengatakan kalau dia jatuh cinta pada Sandra saat mencari Kanaya tetapi tidak berhasil menemukannya.

__ADS_1


"Aku tidak menyesali keputusanku menerima syarat dari Sandra. Kalau bukan karena Sandra meminjamiku uang saat itu, aku tidak tahu bagaimana nasib ayahku sekarang."


"Aku hanya sedang berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa melahirkan anak ini tanpa melukai siapapun. Baik aku, ayah, juga ibuku." Buliran kristal bening kembali mengalir di pipi perempuan cantik itu.


Hatinya terasa sakit bagai ribuan jarum yang menusuk-nusuk. Jantungnya serasa diremas-remas hingga dia merasa sesak.


Laki-laki itu adalah laki-laki yang sangat dicintainya. Laki-laki yang bertahun-tahun dinantikannya. Laki-laki yang ternyata juga punya perasaan yang sama dengannya sebelum dia bertemu dengan Sandra.


Laki-laki itu juga yang saat ini menjadi suami dan juga calon ayah dari janin yang saat ini ada dalam rahimnya.


Laki-laki itu ....


"Sebelum kamu menerima syarat dari Sandra, seharusnya kamu sudah memikirkan konsekuensinya. Kamu sudah pasti sangat tahu kalau akan banyak yang akan kamu korbankan. Tapi, kenapa sekarang kamu seolah-olah merasa tersakiti?"


Merasa tersakiti?


Kanaya mencibir dalam hati. Akan tetapi, air matanya kembali mengalir seiring rasa sakit di hatinya.


Jadi dia pikir aku pura-pura tersakiti? Apa dia benar-benar Sean yang aku kenal beberapa tahun lalu? Kenapa sikapnya sangat berbeda dari Sean yang dulu?


Semua kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu membuatku sesak napas karena merasakan sakit di relung hati yang paling dalam.

__ADS_1


"Kamu benar. Seharusnya aku sudah bersiap menghadapi konsekuensi yang akan aku hadapi. Apalagi, jumlah uang yang Sandra berikan padaku tidaklah sedikit."


"Tapi, apa kamu tidak melihat bagaimana raut wajah kedua orang tuaku? Seandainya kamu jadi aku, apa kamu akan tega mengatakan pada kedua orang tuamu kalau calon cucu yang aku kandung itu adalah milik orang lain?"


Sean terdiam. Netranya menatap Kanaya yang kembali menangis. Perempuan itu kemudian mengusap wajahnya. Kembali duduk dengan menyandarkan kepalanya. Kedua mata Kanaya kembali terpejam.


Tangan Sean terangkat, bermaksud ingin menyentuh kepala Kanaya dan merapikan rambut perempuan itu. Namun, belum sampai tangan itu menyentuh kepala istrinya, suara Kanaya menghentikan pergerakan tangannya.


"Jangan menyentuhku!"


"Mulai sekarang dan seterusnya, aku tidak ingin kamu menyentuhku." Kanaya membuka matanya.


"Setelah ini, aku ingin pulang ke rumah yang dibelikan oleh Sandra. Aku ingin berada di sana sampai aku melahirkan."


"Aku akan mencari cara agar aku bisa memberikan alasan yang tepat pada ayah dan ibuku setelah anak ini lahir." Kanaya


memegangi dadanya yang terasa sesak saat mengingat raut bahagia ayahnya beberapa saat yang lalu.


"Bila perlu, aku akan mengatakan pada mereka kalau aku kehilangan bayiku karena keguguran!"


"Bila ...."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2